Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pemain Top yang Gagal Total Jadi Pelatih

Football5star.com, Indonesia – Status sebagai pemain top tak melulu abadi di dunia sepak bola. Kehebatan dan segala torehan yang mereka raih bisa hancur begitu saja ketika meniti karier sebagai pelatih.

Kemungkinan tersebut sangat bisa terjadi. Nama dan reputasi besar yang sudah dibangun puluhan tahun bisa hancur dalam sekejap andai karier kepelatihannya tidak semulus saat masih menjadi pemain.

Mungkin pertaruhan ini pula yang membuat legenda hidup Brasil, Pele, tak ingin melanjutkan karier sebagai pelatih. Ia lebih memilih untuk berkecimpung di luar lapangan sekali pun tetap dekat dengan sepak bola.

Memang, tidak semua pemain hebat gagal menjadi pelatih. Tidak sedikit pula yang dari mereka menuai sukses seperti Ronald Koeman, Franz Beckenbauer, atau pun Pep Guardiola.

Di sisi lain, masih banyak nama hebat yang gagal total saat berada di pinggir lapangan. Football5star telah merangkum lima pemain top yang gagal total jadi pelatih:

  • Lothar Matthaeus
lothar matthaeus-
Getty Images

Lothar Matthaeus adalah salah satu legenda besar yang dimiliki Jerman. Karier di tingkat klub juga sejalan dengan tim nasional. Dia berhasil meraih trofi bersama Inter Milan dan juga Bayern Munich. Dan untuk Der Panzer, sang gelandang dua kali membawa negaranya ke puncak kejayaan, yaitu juara Piala Dunia 1990 dan Piala Eropa 1980.

Sebagaimana pendahulunya, Franz Beckenbauer, Matthaeus juga melanjutkan karier sebagai pelatih.

Tugas pertamanya adalah menangani raksasa Austria, Rapid Vienna. Tapi pengalaman pertama ini hanya berlangsung semusim saja. Setelah itu, capaiannya tidak juga membaik. Silih berganti Matthaeus menangani Partizan Belgrade, timnas Hungaria, Atletico Paranaense, RB Salzburg, Macabi Netanya, hingga timnas Bulgaria. Tapi, semua berakhir dengan pemecatan.

Disetiap tim yang ia tangani, pria yang kini berusia 59 tahun hanya sekali bertahan lebih dari setahun. Yaitu saat menukangi timnas Hungaria selama dua tahun. Selebihnya, masa kerja Matthaeus hanya setahun saja.

  • Diego Maradona
Diego Maradona memberikan sebuah sugesti kepada para pemain Gimnasia La Plata jelang laga lawan Boca Juniors.
(lavoz.com.ar

Sepertinya tidak ada orang Argentina yang tidak mengenal Diego Maradona. Bagi publik Argentina, Maradona bagaikan dewa. Ia menghibur para suporter tidak hanya dari trofi yang diberikan untuk negara, tapi juga lewat aksi magis di lapangan.

Nama Maradona memang sempat hancur kala dirinya berurusan dengan obat terlarang. Dia juga butuh waktu cukup lama untuk memulihkan namanya lagi di mata publik Argentina. Ketika dinyatakan sembuh dan bebas dari narkoba, sang dewa pun kembali ke dunia yang telah membesarkan namanya.

Akan tetapi, kesempatan kedua mantan pemain Barcelona tidak semulus saat pertama kali ia mengenal Si Kulit Bundar. Ya, karier melatihnya jauh dari kata mentereng.

Pengabdiannya untuk timnas Argentina berakhir tragis. Ia membuat Tim Tango menelan kekalahan terbesar dalam sejarah tim saat takluk 1-6 dari Bolivia di Kualifikasi Piala Dunia 2010.

Setelah itu Maradona melanglang buana. Ia pernah menangani klub Uni Emirates Arab, Al-Wasl dan Fujairah. Sempat pula dirinya mencoba peruntungan bersama tim Meksiko, Dorados. Dan kini, sang legenda menangani klub kampung halamannya, Gimnasia La Plata.

  • Clarence Seedorf
Clarence Seedorf, Deportivo La Coruna
Zimbio

Selain penghasil pemain-pemain hebat, Belanda juga dikenal sebagai penghasil pelatih-pelatih jempolan. Status ini pula yang ingin dilengkapi salah satu pemain terbaik mereka, Clarence Seedorf.

Akan tetapi, capaiannya sebagai pelatih jauh dari harapan. AC Milan adalah tim pertama yang dilatih sang mantan gelandang. Menangani Milan yang saat itu sedang dalam masa sulit membuat Seedorf kesulitan mengembangkan tim.

Gagal total bersama I Rossoneri, pria kelahiran Suriname mencoba peruntungan ke Liga Cina dengan membesut Shenzen FC. Namun, capaiannya di sana lebih memalukan. Dia hanya diberi kesempatan memimpin tim dalam 13 pertandingan.

Cerita serupa pun berulang bersama Deportivo La Coruna dan timnas Kamerun. Di Deportivo La Coruna, ia membuat tim tersebut terdegradasi ke Segunda Division setelah melalui 16 laga.  Sedangkan untuk Kamerun, Seedorf hanya merasakan 10 pertandingan. Capaian ini cukup memalukan, mengingat di sana ia dibantu mantan rekan setimnya, Patrick Kluivert.

  • Tony Adams
Tony Adams (zimbio.com)
zimbio.com

Bagi pendukung Arsenal, Tony Adams adalah simbol klub. Dia produk akademi The Gunners dan hanya mengabdi untuk The Gunners selama hampir dua dekade karier bermainnya.

Usai pensiun 2002 silam, sang bek berguru ke pelatih kawakan Inggris, Harry Redknapp. Ia menjadi asisten Redknapp di Portsmouth selama dua musim. Saat sang guru pindah ke Tottenham Hotspur, Adams mengambil alih kursi pelatih.

Akan tetapi, kondisi keuangan klub yang hancur lebur membuat Adams tidak bisa berbuat banyak. Ia kemudian mengundurkan diri Februari 2009. Setelah itu, mantan penggawa timnas Inggris sempat menukangi klub Azerbaijan, FK Qabala, selama semusim dan menangani klub LaLiga, Granada, selama tiga bulan.

  • Walter Zenga
Walter Zenga - football5star.com
Eurosport

Mungkin tidak banyak kiper yang meneruskan karier sebagai pelatih. Namun, faktor tersebut tidak menghalangi legenda Inter Milan, Walter Zenga, untuk mencoba peruntungan. Dan seperti empat nama di atas, perjalanan Zenga juga kerap berakhir tragis.

Kendati hanya menukangi klub-klub semenjana, karier Walter Zenga selalu berakhir dengan pemecatan. Bahkan dari total 16 tim yang sudah ia tangani, hanya sekali mantan kiper timnas Italia melatih lebih dari semusim.

Hal tersebut terjadi saat ia menangani klub Uni Emirates Arab, Al-Nasr. Di sana ia melatih selama dua tahun. Dan bersama Al-Nasr pula ia mencatatkan statistik kemenangan tertinggi.

Setelah itu, masa kerja pelatih berkepala plontos tak pernah lebih dari semusim. Bahkan saat melatih Gaziantepspor, Palermo, Sampdoria, dan Wolverhampton, ia hanya diberi kesempatan bekerja tak kurang dari enam bulan.