Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pesepak Bola yang Akhiri Hidup dengan Bunuh Diri

Football5star.com, Indonesia – Sosiolog terkenal, Emile Durkheim mengatakan bahwa salah satu penyebab seseorang mengakhiri hidup dengan bunuh diri adalah pengaruh dari integrasi sosial. Durkheim menyebut ada empat tipe bunuh diri, dua tipe diantaranya jadi faktor pendorong seorang pesepak bola melakukan tindakan ini.

Tipe pertama ialah bunuh diri anomi dan tipe kedua adalah bunuh diri fatalistik. Bunuh diri anomi ialah kondisi di mana seseorang melakukan bunuh diri karena sudah kehilangan arah dalam kehidupan sosialnya. Di beberapa kasus pesepak bola yang mengakhiri hidup dengan bunuh diri, tipe ini jadi pendorongnya.

Sedangkan bunuh diri fatalistik adalah kondisi di mana seseorang merasa tertekan dengan adanya aturan, norma, keyakinan, dan nilai dalam menjalani interaksi sosial. Pada tipe ini, kita bisa melihat kasus pemain Norwich City, Jusin Fashanu mengakhir hidupnya pada 3 Mei 1998.

Dari sejumlah kasus bunuh diri pesepak bola, kamu pasti gak tahu siapa-siapa saja pesepak bola yang harus mengakhiri hidupnya. Berikut ulasannya:

Justin Fashanu

Pada pagi 3 Mei 1998, Justin Fashanu ditemukan tewas gantung diri di tempat tinggalnya, Shoreditch, London Timur. Polisi yang menemukan catatan bunuh dirinya, ada kalimat terakhir yang dituliskan pemain Norwich City ini.

“Saya harap Yesus yang saya cintai menyambut saya di rumah,” tulis Fashanu. Keputusan pahit Fashanu untuk mengakhiri hidupnya tak 8 tahun setelah ia mengumumkan ke publik bahwa dirinya ialah penyuka sesama jenis alias gay. ‘

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pesepak Bola yang Akhiri Hidup dengan Bunuh Diri
thesun

Setelah pengakuan ke publik itu, ia mendapat tekanan sangat besar. Pelecahan terus didapatkan Fashanu. Sebelum mengakui bahwa dirinya gay, ia pun jadi korban pelecehan rasial karena berkulit hitam. Padahal sebagai seorang striker, ia sempat dianggap salah satu talenta berbakat.

“Ia memiliki teknik individu yang brilian. Ia juga bisa bermain secara tim. Kaki kanan dan pergerakan tanpa bolanya membuat pemain lawan kesulitan untuk menjaganya,” tulis jurnalis Juliet Jacques.

Dua bulan sebelum melakukan bunuh diri, Fashanu sempat dilaporkan ke kepolisian dengan tuduhan pelecehan seksual kepada anak di bawah umur. Kasus itu terjadi di Maryland, Amerika Serikat.

Fashanu sendiri memang sempat berkarier di klub Amerika Serikat, Atlanta Ruckus. Namun, kasus ini sendiri berakhir tak jelas meski Fashanu sempat diperiksa kepolisian.

Robert Enke

10 November 2009 jadi momen paling kelabu untuk seorang Terese Enke, ibu dua orang putri cantik, Lara dan Leila ini harus menerima kenyataan pahit sang suami, Robert Enke memilih untuk mengambil jalan pintas, bunuh diri akibat depresi.

Enke memilih menabrakan dirinya ke kereta api yang sedang melaju kencang. Apa yang membuat Enke begitu terpuruk sampai harus mengambil keputusan untuk bunuh diri?

Penyebabnya ialah depresi berkepanjangan setelah ia memutuskan untuk pindah ke Barcelona dari Benfica pada 2002. Enke gagal beradaptasi dengan iklim sepak bola di Liga Spanyol. Enke yang di Benfica mengantongi 77 caps, tiba di Nou Camp dan bertahan hingga 2004 hanya 1 kali dimainkan sebagai starting line up. Itu pun di pertandingan melawan tim kasta ketiga Liga Spanyol, Novelda di ajang Copa Del Rey.

Di debut pertamanya tersebut, Enke bernasib naas. Barcelona kalah 2-3 dari Novelda, dan ia pun langsung mendapat kritik pedas dari rekan satu timnya, Frank de Boer. Di depan awak media, de Boer mengatakan bahwa ada sejumlah pemain di Barcelona yang tak paham bermain sepak bola.

Gary Speed

Pada November 2011, publik Inggris dibuat gempar. Salah satu pesepak bola terbaik yang pernah dimiliki Wales, Gary Speed memilih untuk mengakhiri hidup dengan gantung diri di garasi rumahnya. Tubuh Speed ditemukan oleh istrinya, Louise.

Empat hari sebelum melakukan bunuh diri, Speed sempat mengirimkan pesan untuk bunuh diri kepada Louise namun pesan itu dianggap hanya guyon semata oleh istrinya. Tak ada yang tahu mengapa Speed harus mengakhiri hidupnya dengan sangat tragis.

Mantan rekan-rekannya di Newcastle United seperti Alan Shearer tak pernah menyangka bahwa kejadian nahas itu menimpa Speed. Pun dengan Robbie Savage, rekan Speed di Wales.

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pesepak Bola yang Akhiri Hidup dengan Bunuh Diri3
getty images

Savage bahkan mengatakan bahwa Speed sangat bersemangat saat ia telepon untuk membicaran program sepak bola di televisi yang dipandu Savage.

“Dia begitu bersemangat saat bicara di telepon kemarin. Kami tertawa bersama. Sekitar tiga atau empat minggu lalu, ia datang ke acaraku. Ia duduk di bangku paling depan. Ia mencintai acara tersebut. Ia mencintai hidupnya. Ia mencintai keluarganya” kata Savage.

Pada 2018 lalu istri Speed membuka ke publik sebuah surat saat masa muda sang suami. Di dalam isi surat tersebut, Speed ternyata sudah mengalami masalah mental sejak remaja. “Aku sekarang hanya akan tidur dan berharap tidak pernah bangun.” tulis Speed di suratnya tersebut.

Alan Davies

Selain Gary Speed, pemain Wales yang juga memutuskan untuk bunuh diri adalah Alan Davies. Ia adalah mantan pemain binaan akademi Manchester United.

Davies mencatatkan penampilan 10 pertandingan dan mencetak 1 gol bersama United. Sayangnya, ia tak terlalu bersinar bersama tim berjuluk Red Devils tersebut.

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pesepak Bola yang Akhiri Hidup dengan Bunuh Diri
The Sun

Karier Davies dihabiskan di sejumlah klub. Davies terkahir membela klub Swansea City pada 1992. Pemain berposisi sebagai winger ini tercatat sudah bermain sebanyak 186 pertandingan dan mencetak 15 gol.

Pada 4 Februari 1992, Davies melakukan bunuh diri dengan menghisap gas karbon monoksiada. Hal itu ia lakukan setelah mengantarkan putrinya ke sekolah.

Carlos Jose Castillo

Selain Enke, kiper yang juga memutuskan untuk mengakhiri hidup dengan bunuh diri adalah mantan kiper timnas Brasil, Carlos Jose Castillo. Ia mengakhiri hidup pada 2 Februari 1987. Tak jelas apa alasan Castillo memilih untuk mengakhiri hidupnya, namun sejumlah media Brasil menyebut ia bunuh diri lantaran depresi.

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Pesepak Bola yang Akhiri Hidup dengan Bunuh Diri
terceirotempo

Karier sepak bola Castillo dimulai saat ia bermain di akademi Fluminense. Castillo ialah salah satu kiper terbaik Brasil. Ia bermain di empat Piala Dunia, 1950, 1954, 1958 dan 1962.

Kiper yang memiliki masalah buta warna ini juga jadi bagian saat Fluminense menjadi juara Liga Brasil pada musim 1951, 1959, 1964. Pendukung Fluminense memiliki julukan tersendiri bagi Castillo yakni ‘Saint Castilho’