Kamu Pasti Gak Tahu! Duopoli dan Kekerasan Suporter di Super Liga Serbia

Football5star.com, Indonesia – Pemain muda Indonesia, Witan Sulaiman resmi merintis karier di Eropa dengan menjadi pemain klub Super Liga Serbia, FK Radnik Surdulica. Hari ini, Rabu (16/2/2020) waktu setempat Witan resmi diperkenalkan kepada media Serbia.

“FK Radnik memasuki musim baru dengan target baru, yang salah satunya mempromosikan pemain muda dan bertahan di kompetisi paling elite. Yang membedakan kami adalah investasi maksimum dalam infrastruktur dan talenta muda ,” ucap General Director Radnik Surdulica, Marko Markovic, seperti dikutip Football5star.com dari lama resmi Radnik.

“Kami menyadari ekspansi sepak bola di negara timur, khususnya Indonesia. Dan hari ini adalah hari yang spesial ketika kami menyambut pemuda berbakat dari salah satu negara di kawasan itu,” ucap Marko Markovic lagi.

Media Serbia Witan Sulaiman Radnik Surdulica Crvena Zvezda dan Partizan Belgrade - FK Radnik
Mozzartsport

Publik Indonesia tentu saja menanti bagaimana kiprah Witan bersama FK Radnik. FK Radnik sendiri saat ini berada di peringkat kurang baik di klasemen Super Liga. Tim asuhan Nenad Vanić tersebut kini berada di urutan ke-13 dari 16 tim yang bertanding.

Kompetisi Super Liga Serbia memang bukan kompetisi bintang lima di kawasan Eropa. Namun persaingan sengit antar tim menjadi hal menarik seperti liga-liga sepak bola pada umumnya. Banyak yang asing dengan kompetisi Super Liga Serbia, berikut Football5star.com sajikan ulasannya:

Sejarah sepak bola Balkan

Balkan menurut kajian historis merupakan daerah yang berada di Eropa bagian Tenggara. Penyebutan Balkan untuk negara yang berada di wilayah ini sudah dimulai sejak zaman Kekaisaran Romawi.

Catatan sejarah menyebut kawasan ini dari dulu memiliki rekam jejak berdarah karena konflik antar etnis. Pecahnya Yugoslavia menjadi negara-negara kecil seperti Serbia dan Kroasia menjadi puncak konflik yang terjadi di Balkan.

Memiliki individu-individu yang memiliki latar belakang budaya berbeda membuat kawasan ini sangat rentan untuk disulut terjadinya konflik. Namun dari keberagaman orang di Balkan itu sendiri yang membuat kawasan ini beberapa tahun lalu dikenal publik sepakbola memiliki deretan pemain berbakat.

Dari era 90-an misalnya, tentu kita mengenal pemain seperti Dejan Stojkovic, Dejan Savicevic, Predrag Mijatovic, Vladimir Jugovic dan Sinisa Mihajlovic. Para pemain ini yang membuat nama Balkan khusunya Serbia sedikit dipandang positif oleh publik dunia.

Pada era tersebut sepak bola Balkan memang berkembang, sayangnya konflik antar etnis membuat langkah Yugoslavia sempat terhenti di panggung internasional kala di-banned UEFA di Piala Eropa 1992.

Masih seumur jagung

Perhelatan Super Liga Serbia masih berusia sangat muda. Kompetisi ini baru bergulir pada 2005 lalu. Saat itu, Super Liga menjadi kompetisi sepak bola tertinggi untuk negara Serbia dan Montenegro. Namun setahun kemudian, pemisahan Montenegro membuat kompetisi ini sepenuhnya diikuti klub dari Serbia.

Sejumlah klub yang saat ini bermain di Super Liga Serbia sendiri merupakan alumni peserta Yugoslavia First League. Kompetisi tersebut mulai bergulir sejak 1923 dan berlangsung hingga 2003. Namun kondisi politik yang membuat negara Yugoslavia bubar pada 1991 membuat munculnya negara baru.

 Super Liga Serbia: Dominasi Dua Klub dan Kekerasan Suporter
Serbian Superliga

Kawasan Serbia saat itu masih tetap menggunakan nama Yugoslavia First League sebagai kompetisi sepak bolanya. Namun pada 2003, munculnya negara Serbia dan Montenegro membuat nama kompetisi tersebut diubah.

Di awal bergulirnya Super Liga Serbia, tim kuat Red Star menjadi juara. Setahun kemudian, Partizan menjadi juara dan Red Star sebagai runner up. Dominasi kedua klub ini memang tak bisa digoyahkan dari kompetisi ini. Kedua tim saling bergantian untuk menjadi juara di akhir musim kompetisi.

Rekor-rekor di Super Liga Serbia

Perhelatan Super Liga Serbia sedari awal bergulir pada 2005, catatkan sejumlah rekor tersendiri. Seperti laga Red Star vs OFK Beograd di Rajko Mitić Stadium pada 2013/14 menjadi pertandingan dengan jumlah penonton terbanyak yakni 48.347 penonton.

Sedangkan untuk skor terbesar yang pernah tercipta di kompetisi ini terjadi pada 2009/10, 2012/13, dan 2014/15. Di 2009/10, laga Vojvodina vs Napredak berakhir dengan kemenangan 7-0 untuk tim tuan rumah. Skor sama juga terjadi di laga Partizan vs BSK Borca di 2012/13 dan laga Cukaricki vs FK Rad di musim 2014/15.

Untuk pemain yang paling banyak torehkan pertandingan ialah Vladimir Torbica dengan catatan 267 caps atau 11 musim dari 2006/07 hingga 2018/19 bersama Spartak Subotica.

Striker Aleksandar Pešić tercatat menjadi pencetak gol terbanyak selama satu musim yakni 25 gol bersama Red Star di musim 2017/18. Sedangkan Ognjen Mudrinski menjadi pencetak gol terbanyak di liga ini yakni 65 gol dengan lima klub berbeda, Vojvodina, Jagodina, Red Star, Spartak Subotica dan Čukarički.

Kekerasan antar suporter

Yang menjadi perhatian dengan berkariernya Witan bersama FK Radnik ialah soal gesekan antar suporter di Serbia yang sudah mendunia. Tidak seperti gesekan antar suporter di Indonesia, kekerasan antar suporter di Serbia selalu berkaitan dengan politik.

Dikutip Football5star.com dari thesefootballtimes, Rabu (19/2/2020) pada 2016 lalu misalnya politisi Serbia Aleksandar Vučić mendapat serangan dari kelompok suporter Partizan. Salah satu pengungkap fakta kasus tersebut, Aleksandar Stanković malah sempat mendapat berondongan peluru dan mobilnya dibakar.

Dalam rentang waktu 2016, sebanyak 10 anggota hooligan klub Serbia terbunuh. Di 2017 meningkat jumlahnya menjadi 17 orang. Tidak hanya itu, ujaran rasial di tribun penonton juga menjadi makanan sehari-hari pertandingan di sana.

Suporter Red Star misalnya acapkali berteriak rasial yang mengarah kepada orang Kroasia ataupun orang Albania. Belum lagi simbol-simbol politik yang muncul di tribun penonton seperti poster Radovan Karadzic, Jendera Serbia yang terlibat pembantaian terhadap 7000 orang Bosnia.