Ketika Dimitar Berbatov Mewawancarai Dirinya Sendiri

Sebagai seorang pesepakbola, Dimitar Berbatov adalah sosok yang flamboyan dan juga agak nyentrik. Baru-baru ini Berbatov menunjukkan aksi nyentriknya itu kala berpura-pura mewawawancarai dirinya sendiri.

Hal itu dilakukan Berbatov menyusul kartu merah yang diterima saat klubya, PAOK, menghadapi AEK Athens pada laga derby, Minggu (24/1/2016) lalu. Saat itu Berbatov diusir keluar lapangan karena menyikut pemain lawan.

Bagi Berbatov, ini adalah kartu merah pertama dalam 13 tahun terakhir. Orang tentu bertanya-tanya mengapa pemain asal Bulgaria itu sampai melakukan hal seperti itu.

Demi memberi jawaban atas pertanyaan itu, Berbatov berlagak layaknya wartawan lalu mewancarai dirinya sendiri. Wawancara itu lantas dimuat di halaman Facebook-nya.

Journalist Dimitar Berbatov (JDB): Hai, bagaimana perasaanmu..
Dimitar Berbatov (DB): Hai. Agak sedikit kecewa. Kami kalah melawan AEK, dan aku dikartu merah.

JDB: Memangnya pelanggaran itu layak berbuah kartu merah?
DB: Ya. Pemain AEK menahanku dan mencegahku untuk mencari posisi yang lebih baik di dalam kotak penalti. Waktu itu aku agak gugup dan kesal, membuatku langsung menghantamnya.

JDB: Tapi, itu bukan alasan untuk menghantam seseorang! Banyak pemain ditahan seperti itu di dalam permainan.
DB: Ya, betul. Makanya kutegaskan sekali lagi, itu bukan sesuatu yang kupegang teguh dalam bermain sepakbola. Tapi, kadang-kadang orang suka kehilangan kesabaran dan melakukan hal bodoh dalam permainan.

JDB: Lalu, kenapa kau jadi gugup dan marah?
DB: Sebab, awalnya aku hanya bisa menonton (dari bangku cadangan, Berbatov baru dimainkan di babak kedua, red) dan meskipun AEK tidak tampil lebih baik, mereka masih bisa mencetak gol. Aku tidak bermain dan tidak bisa membantu. Itu adalah laga derby dan aku datang ke klub ini untuk pertandingan seperti itu, di mana kualitas dan pengalamanku bisa membantu tim, bukannya duduk di bangku cadangan lalu tidak melakukan apa-apa.

JDB: Jadi, karena itu kau kecewa?
DB: Ya. Aku tidak senang ketika aku tidak bermain. Itulah masalahnya. Kali ini, aku melampiaskannya kepada kolega dari tim lain. Sebenarnya, aku bukan pemain yang suka mencari-cari masalah, sudah banyak yang tahu, tapi yang terjadi sekarang adalah sebaliknya. Makanya aku menyesal.

JDB: Lalu, bagaimana sekarang?
DB: Sekarang, aku harus menanggung akibatnya: dilarang tampil tiga pertandingan. Dan karena ini juga, aku minta maaf kepada tim!

JDB: Beberapa media bilang, kau sudah tidak mau bermain untuk PAOK lagi?
DB: Inilah mengapa aku melakukan wawancara denganmu, bukan kepada orang-orang yang menulis hal bodoh seperti itu..

Itu tidak benar, dan dengan berita seperti itu, beberapa orang mencoba untuk melukai tim. Atau ada juga orang-orang yang bilang: “Coba lihat dia. Dia sudah tak mau bermain lagi dan itulah mengapa ia mendapatkan kartu merah.” Tentu saja itu tidak benar. Kenyataannya adalah seperti ini: Aku masih menikmati sepakbola.

Aku masih ingin bermain. Ketika aku tidak bermain, aku akan marah dan kecewa. Tidak ada enak-enaknya tidak dimainkan, apalagi mereka membayarku amat mahal, terlepas dari kondisi Yunani saat ini. Aku bisa membantu PAOK di atas lapangan, dengan kualitas permainanku dan apa yang sudah kuperlihatkan sepanjang karierku.

Ketika aku tidak bermain, aku akan kecewa dan kau bisa melihatnya. Kalau hasratku akan sepakbola sudah berkurang dan aku berhenti marah, berhenti berteriak dan bertingkah di atas lapangan, itulah tanda bahwa aku sudah tidak peduli lagi dengan sepakbola atau tim di mana aku bermain. Artinya hasratku sudah hilang. Tapi, sekarang ini bukan begitu ceritanya. PAOK adalah timku, dan aku berjuang untuk timku, meskipun artinya aku harus mendapatkan kartu merah.

Comments
Loading...