Kisah Firas Al Khatib, Menantang Maut Demi Bawa Suriah ke Piala Dunia 2018

Football5star.com, Indonesia – Bagaimana rasanya mendukung kelompok pemberontak rezim presiden Suriah Bashar Al-Assad sekaligus menjadi pilar utama Timnas Suriah? Mungkin Firas Al-Khatib bisa menjelaskannya. Ia merupakan pemain sepak bola yang membela Suriah sejak berseragam Timnas U-17. Di sisi lain, ia adalah pria yang mendukung kelompok oposisi pemerintah.

Sebelumya, ia bahkan turut andil dalam keberhasilan negaranya lolos ke babak play-off Piala Dunia 2018. Pencapaian tersebut merupakan yang tertinggi bagi negara yang berkonflik sejak tahun 2011 itu.

“Setiap hari sebelum saya tidur, mungkin satu jam, dua jam, hanya memikirkan keputusan ini,” katanya. “Apapun yang terjadi, 12 juta orang Suriah akan mencintaiku. Sebanyak 12 juta orang Suriah lainnya juga ingin membunuhku,” ucap Khatib saat diawawancarai secara khusus oleh ESPN, Mei lalu.

Pemain 34 tahun itu sebelumnya bahkan boikot bergabung ke Timnas selama lima tahun. Namun, Piala Dunia 2018 mengubah keteguhan hatinya itu. Ia mengatakan situasi tersebut adalah sesuatu yang rumit dan tak dapat ia jelaskan.

“Saya khawatir, saya takut,” katanya dalam bahasa Inggris yang kaku. “Di Suriah sekarang, jika anda berbicara, seseorang akan membunuh anda, untuk apa yang Anda bicarakan, untuk apa pendapat anda, bukan untuk apa yang anda lakukan, mereka akan membunuh anda karena pendapat anda yang berbeda,” ujar Khatib.

Dicap sebagai Penghianat

Kembalinya Khatib ke Timnas Suriah, mendapat kecaman dari berbagai rekannya. Ia bahkan sampai menghapus nomor handphonenya yang terpampang pada facebook pribadinya. Hal itu dikarenakan banyak pesan masuk bernada ancaman pada dirinya.

Salah seorang temannya, Nihad Saadeddine, mengatakan jika Khatib kembali, dia akan diturunkan ke “tempat sampah sejarah bersama dengan semua orang yang mendukung penjahat Bashar al-Assad.” Saadeddine berjanji untuk tidak berbicara lagi dengan Khatib.

Dilema bagi Khatib jelang timnas berlaga. Apabila ia bergabung, ia akan dijadikan kapten dan menjadi pemain yang dihormati. Namun, jika menolak maka cap sebagai pemberontak akan disematkan pada dirinya. Bahkan, saat itu Assad kerap menggunakan cap ISIS bagi mereka yang memberontak kepadanya.

Namun, kini Khatib tinggal selangkah lagi mewujudkan mimpinya mengantarkan Suriah bermain di Piala Dunia 2018. Ia bersama rekannya harus berjuang di partai terakhir babak play-off melawan Timnas Australia, Oktober mendatang di Malaysia. Hasil kemenangan tentu memberikan kado indah bagi negaranya yang sedang berkecamuk perang saudara yang tak kunjung usai itu.

 

 

Comments
Loading...