Kisah Indra Thohir Menjaga Kebanggaan dan Kecintaan kepada Persib

Football5star.com, Indonesia – Bagi masyarakat Jawa Barat khususnya para bobotoh Persib tentu sudah tak asing dengan sosok pelatih kharismatik Indra Thohir.

Beberapa waktu lalu, tim Football5star.com berkesempatan untuk berkunjung ke rumah pelatih yang berhasil membawa Persib menjadi juara Perserikatan 1993.

Ramah dan bersahaja menjadi kesan kami ketika disambut Indra Thohir yang baru pulang dari tempatnya mengajar. Indra Thohir saat itu memang berstatus menjadi dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Bandung.

Kami berbincang bagaimana Persib sebagai tim kebanggaan masyarakat Jawa Barat dan Indra Thohir menjadi bagian di dalamnya.

Ditemani suguhan cemilan dan kopi hitam favoritnya, kisah ini diawali saat Indra mengenang sejarah Persib dan kelahirnyannya serta bagaimana peran Persib di sepak bola nasional.

Sejarah Persib

“Jadi tuh Persib dari dulu. Dari sejak lahirnya PSSI, Persib sudah ada,” kata pria 78 tahun yang masih tampak bugar dan mampu mengendarai mobil sendiri itu.

Persib menurut Indra lahir dari kompetisi Perserikatan yang di zaman itu menjadi kompetisi sepak bola terbaik di negeri ini. “Zaman saya itu, saya mampu mengantarkan Persib menjadi juara terakhir Perserikatan dan piala tetapnya ada di Persib,” kenang Indra.

Menurut Indra, saat era Galatama yang menjadi cikal bakal kompetisi sepak bola profesional di negeri ini, Persib tetap bermain di Perserikatan. Kompetisi Perserikatan sangat dekat dengan masyarakat pencinta sepak bola pada era 80 hingga 90-an.

football5star.com

Tak heran kata Indra, masyarakat Jawa Barat khususnya orang Bandung begitu memiliki Persib. “Ya terutama orang Bandung jelas memiliki Persib, orang Jawa Barat juga merasa memiliki Persib. Karenanya saat itu kami berjuang lewat Perserikatan,” ucap Indra.

Yang kemudian membuat Persib begitu dibanggakan dan dicintai oleh masyarakat Bandung di zaman Indra Thohir menurutnya adalah kerjasama antara semua pihak untuk memajukan tim berjuluk Maung Bandung tersebut.

“Saat itu kepala daerahnya mendukung. Dari walikota hingga gubernur. Ada dua dulu tim di Jawa Barat, Tangerang yang dulu sebelum provinsi dan Bandung. Sehingga rakyat Jawa Barat merasa memiliki Persib,”

Meski di usianya yang sudah tua ini, Indra memiliki ingat cukup segar jika disinggung mengenai Persib dari kelahirannya hingga menjadi tim besar di Liga Indonesia. Ia bertutur bahwa di era awal lahirnya Persib, tak lepas dari keinginan kuat dari pencinta sepak bola Jawa Barat untuk membentuk tim kua di sepak bola.

Indra bercerita bahwa Persib berdiri di tahun 1923. Dan saat PSSI lahir, mereka membentuk Komda (komisi daerah) saat ini Asprov. Tiap-tiap Komda menurut Indra membawahi bonden (perserikatan) yang terdiri di kota dan kabupaten.

“Dan Persib itu antara lain yang dibawah Komda PSSI Jawa Barat. Kalau sekarang Asprov. Jadi Persib sudah dari dulu. Persib, Persija, Persebaya, Malang sudah ada,” tutur Indra.

Karier sebagai pelatih Indra Thohir

Indra Thohir masuk ke Persib pada 1958. Saat itu, ia masuk ke tim Persib Junior. Pada 1962, Indra masuk lepas dari tim junior karena ia melanjutkan pendidikan ke Universitas. Saat itu, kata Indra dirinya membela tim Ikatan Pelajar Indonesia (IPI) setelah lepas dari tim junior Persib.

“Saat di kampus, saya masih aktif bermain dan kebetulan latar belakang pendidikan saya orang olahraga, diangkat jadi pelatih di tim kampus. Dulu itu, pekan olahraga mahasiwa.” ucap Indra.

Dari situlah, karier Indra sebagai pelatih dimulai. Keaktifan Indra sebagai pelatih di kampus bahkan sempat membawanya menjadi juara di Jawa Barat di pekan olahraga mahasiswa daerah. Masuk ke pekan olahraga nasional dua kali berturut-turut namun sayangnya kalah oleh tim Universitas Kristen Indonesia (UKI).

“UKI saat itu masih banyak pemain nasionalnya. Dua kali saya berturut-turut kalah dari mereka. UKI saat itu ada Sutan Harhara, Bonar Tobing, dan masih banyak lagi.”

Indra pun menyebut bahwa sepak bola di eranya saat itu begitu banyak kompetisi dari tingkat daerah hingga perguruan tinggi. Ia bahkan menyebut di era 70 hingga 80-an, ada juga pekan olahraga mahasiwa. Dan Indonesia memiliki tim nasional yang bermain di kompetisi tersebut.

Indra Thohir berhasil membawa timnas mahasiswa Indonesia menjadi juara di kompetisi pekan olahraga mahasiswa ASEAN di Bangkok, Thailand.

“Saya punya lima pemain jadi pemain terbaik. Saat itu, saya hanya menjadi asisten pelatih. Karena pelatihnya adalah orang Jakarta, Suwardi Harlan. Dari situ karier kepelatihan saya di mulai,” kenang Indra.

Baru pada 1984, Indra menjadi pelatih Persib. Diawali dengan menjadi pelatih fisik. Saat itu, pelatih utama Persib Nandar Iskandar. Dua tahun setelahnya, ia antarkan Persib menjadi juara Perserikatan.

“Saat itu yang mengurus Persib zamannya Pak Solihin (Letnan Jenderal TNI Solihin Gautama Purwanegara). Terakhirkan Persib juara Perserikatan 1962. Dan baru juara lagi di 1986.” kenang Indra.

Kecintaan dan merawat kebanggan kepada Persib

Meski memiliki rasa cinta yang sangat besar kepada Persib. Indra Thohir nyatanya bisa memilih antara pendidikan dan sepak bola. Hal itu yang ia lakukan saat harus memilih fokus kuliah dibandingkan Persib di era 60-an.

“Saat itu Persib juara 1962 di Semarang, saya harus memutuskan untuk fokus di kuliah. Karena bagi saya kuliah juga sama pentingnya.” kenang Indra.

Hariono - Persib Bandung - @persib
@persib

Ia pun menyebut merawat cinta dan kebanggan pada Persib sampai saat ini tetap ia lakukan. Tak jarang ia turun gunung untuk memberi nasihat kepada pelatih atau pemain Persib soal sikap profesional mereka di sepak bola. Indra tak ingin jika ada pelatih jadi lembek saat mendapat banyak kritik karena permainan Persib jelek.

Indra mengatakan bahwa keluarganya sempat mendapat teror dari bobotoh karena permainan jelek Persib menyebut bahwa apa yang dilakukan bobotoh adalah bentuk rasa cinta dan bangga kepada Persib.

Hal semacam itu menurut Indra adalah sesuatu yang wajar di sepak bola nasional. Karena suporter akan selalu mengawasi dan mencintai klub yang mereka dukung. Persib sebagai tim terbesar di Jawa Barat saat itu kata Indra tak bisa lepas dari peran masing-masing pihak, baik pemain, manajemen, hingga suporter.

Mencintai Persib dan menjaga rasa bangga kepada Persib menurut Indra akan dilakukan oleh mereka yang tinggal di Jawa Barat atau mereka yang menjadi bobotoh di mana saja. Dan hal itu harusnya bisa menjadi suntikan motivasi bagi para pemain yang saat ini membela Persib Bandung.