LEGENDA: Soetjipto Soentoro, Mesin Gol Timnas Indonesia dari Kebayoran

Football5star.com, Indonesia – Tidak banyak yang tahu bahwa Indonesia pernah punya penyerang kelas dunia, yakni Soetjipto Soentoro. Namanya lebih beken dengan sebutan Gareng saat membela Persija Jakarta dan tim nasional (timnas) Indonesia pada era 50 hingga 60-an.

Soetjipto Soentoro memang tak sefamiliar Kurniawan Dwi Yulianto, Ricky Yacobi, atau Ronny Patinasarani. Namun, torehan tinta emasnya untuk tim nasional tidak boleh ditenggelamkan oleh memori zaman.

Gareng tercatat sebagai pemain dengan torehan gol terbanyak untuk timnas Indonesia. Pada masa jayanya banyak lawan kagum atas kemampuannya di lapangan. Bahkan, tim sekelas Feyenoord yang kala itu baru menjuarai Eredivisie pun ikut menjadi korban kegesitan Gareng di lapangan.

Antara Klub dan Pujaan Hati

Bakatnya ditemukan oleh PS Setia sejak kecil. Ketika itu, Gareng sering bermain di pinggir jalan tak jauh dari markas PS Setia. Kabar soal kemampuannya pun sampai ke telinga para pengurus klub yang langsung merekrutnya tak lama.

Saking jagonya, ia sudah menembus skuat utama Persija ketika masih menginjak 16 tahun. Dari PS Setia pula ia jatuh hati kepada seorang gadis Kebayoran, Tuti. Keduanya menjalin hubungan secara diam-diam karena kesibukan Gareng sebagai pemain bola. Karena jadwal padat pula, keduanya jarang punya waktu banyak untuk bertemu, sehingga hanya mengandalkan surat sebagai medium komunikasi utama.

Bagi Tuti, bisa memacari seorang pemain Persija dan timnas adalah sebuah kebanggaan. Kebanggaan itu berlipat ganda setelah tahu pacarnya meraih segudang prestasi di level klub dan timnas.

Perjalanan cinta mereka pun sempat mengalami badai karena tidak terlalu sering bertemu. Tuti sempat cemburu karena Gareng lebih sering menghabiskan waktunya untuk sepak bola. Ketika mereka sepakat untuk bertemu, Gareng malah beberapa kali membatalkan janji tersebut dan memilih nongkrong dengan temannya setelah latihan.

Kondisi tersebut yang membuat hubungan mereka sempat putus nyambung. Meski demikian, keduanya tetap yakin hingga akhirnya memutuskan menikah pada 1967.

panditfootball

“Sebelum menikah, pacaran kami putus-nyambung. Maklum, bapak sangat sibuk dan sering sekali ikut pemusatan latihan dan tidak diizinkan pacaran. Saya sempat kesal, tapi lama-lama bisa memahami karena bapak meraih banyak prestasi dari sepak bola,” kata Tuti dikutip Football5star.com dari Bola.com.

Dari tak terkalahkan hingga mempemalukan tim Guus Hiddink.

Sebelum tim ibu kota di Inggris, Arsenal, menjuarai Premier League dengan rekor tidak terkalahkan, klub ibu kota Indonesia sudah melakukannya jauh sebelum itu. Prestasi ini diraih Persija pada kompetisi perserikatan pada 1967. Saat itu, Gareng menjadi pemain utamanya.

Di partai final, Gareng dkk berhasil mengalahkan Persebaya Surabaya serta menyandang status top skorer di akhir kompetisi dengan catatan 16 gol. Musim tersebut dikenang sebagai salah satu musim terbaik tim ibu kota sepanjang sejarah mengikuti kompetisi kasta tertinggi di Indonesia.

Di level tim nasional, momen paling diingat adalah ketika berhasil menjuarai turnamen Merdeka Games 1969. Pernah, dalam satu pertandingan Indonesia menggilas Singapura 9-1, delapan gol di antaranya tercatat atas nama Gareng.

Beberapa tahun lalu, salah satu media kenamaan, Bleacher, merilis daftar pemain yang mencetak lebih dari 50 gol untuk timnas. Gareng pun masuk ke dalam daftar tersebut dengan torehan 57 gol yang dicicilnya dari 68 pertandingan bersama timnas.

Kemampuan olah bola Gareng bahkan pernah membuat klub sekelas Feyenoord Rotterdam terheran-heran sekaligus malu. Ketika itu, timnas Indonesia sedang melakukan tur ke Belandan dan Feyenoord merupakan salah satu lawan yang masuk agenda tanding.

Status Guus Hiddink dkk saat itu adalah baru menjuarai Eredivisie musim 1964/65. Pertandingan baru berjalan dua menit, Gareng langsung membobol gawang tuan rumah setelah melewati tiga pemain belakang secara langsung. Merasa malu, Hiddink dkk pun mencoba bangkit di babak kedua dan berhasil mencetak enam gol balasan. Pertandingan pun berakhir dengan kemenangan 6-1 untuk Feyenoord.

Keistimewaan dari pria kelahiran Bandung ini adalah tubuhnya terbilang gempal, namun pergerakannya sulit ditebak lawan. Mantan pelatih PSIS Semarang, Subangkit, mengakui hal itu.

“Saya tak lama menyaksikan Pak Gareng saat masih aktif main, tetapi tahu keistimewaannya. Dia memiliki badan gempal dan tak terlalu tinggi posturnya, tetapi punya dribel bagus serta tendangan keras,” sebuh Subangkit.

Julukan Bung Karno Sepak Bola

Laga persahabatan melawan Feyenoord diwarnai nuansa politis. Sebelum keberangkatan menuju Belanda, presiden saat itu, Soekarno, meminta para pemain timnas untuk membuktikan diri sekuat tenaga bahwa Indonesia tidak kalah hebat dibandingkan rekan kolonialnya.

Bahkan, salah satu pemain timnas saat itu, Dominggus, memilih tidak pulang ke Indonesia usai pertandingan dan bertahan di Belanda. Belakangan, ia juga melepas status kewarganeraan Indonesia-nya, dan menggantinya dengan Belanda.

Gareng, hingga akhir hayatnya tetap setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia. Sikap patriotiknya tidak hanya diperlihatkan ketika bertanding melawan Feyenoord di Belanda saja. Pernah suatu kali ketika Merdeka Games 1969, ia tersandung kasus indisipliner saat melawan Korea Selatan. Mungkin, ia adalah pemain profesional pertama yang berani merobek badge FIFA dari seragam wasit.

Situasinya saat itu, wasit asal Myanmar, U Tin Tut, mensahkan gol para pemain Korsel. Padahal, hakim haris telah terlebih dahulu mengangkat bendera tanda offside. Gareng yang saat itu tak bisa menahan emosi langsung menghampiri wasit dan merobek badge FIFA dari saku wasit.

Ketika itu, peraturan kartu kuning dan merah belum diberlakukan sehingga Gareng pun tetap melanjutkan pertandingan hingga akhir. Indonesia pun menang 3-0 atas Korea Selatan. Namun, ancama larangan bermain tetap menghantuinya. Kasus ini memanjang karena Gareng menolak untuk meminta maaf kepada AFC dan Tin Tut selepas pertandingan.

Bahkan, Perdana Menteri Malaysia saat itu, Abdul Rahman, turun tangan langsung untuk mendamaikan keduanya. Belakangan, Gareng bersedia meminta maaf karena menyesal, ia tidak sampai hati berlaku kurang ajar kepada U Tin Tut yang terbilang lebih tua darinya.

Hubungan antara Gareng dan Abdul Rahman memang sangat baik. Bahkan, perdana menteri pertama Malaysia setelah diberikan kemerdekaan oleh Inggris tersebut menawari Gareng untuk pindah kewarganegaraan menjadi Malaysia.

Namun, lagi-lagi Gareng menunjukkan kesetiannya kepada NKRI. Rangkaian sikap patriotik ini membuat Gareng dijuluki Bung Karno-nya Sepak Bola. Pada akhir turnamen, Indonesia keluar sebagai juara usai mengalahkan tuan rumah Malaysia dengan skor 3-2 di partai puncak.

Comments
Loading...