LEGENDA: Menjadi Pemikir dan Pemimpin Seperti Johan Cruyff

Football5star.com, Indonesia – Barcelona boleh jadi sebagai pengembang sepak bola menyerang ala tiki-taka era modern saat ini. Tapi mereka, dan tentu saja kita semua harus sadar bahwa tiki-taka takkan pernah ada jika Johan Cruyff tidak ada.

Latar belakang Cruyff selayaknya pesepak bola pada umumnya. Ia lahir dari seorang wanita bernama Petronella Bernarda Draaijer pada 25 April 1947. Berasal dari keluarga sederhana membuatnya tumbuh sebagai seorang pekerja keras.

Semua Karena Pekerjaan Sang Ibu

Sang ibu hanyalah seorang tukang bersih Amsterdam Arena, markas Ajax Amsterdam. Tapi melalui pekerjaan ibunya, Cruyff secara tak sengaja terkoneksi dengan raksasa Belanda tersebut. Ketika sang ibu bekerja membersihkan tiap sudut stadion, mulai dari tribun hingga lorong ganti, ia setia menemani sambil asyik bermain dengan bola yang dibawa.

Dari sini pula bakatnya tercium oleh pencari bakat Ajax hingga akhirnya dia masuk ke akademi klub ketika usianya baru menginjak 10 tahun. Tujuh tahun berselang, ia pun mencicipi debut pertamanya di tim senior di ajang KNVB Beker.

Johan Cruyff Ajax 1967 - Interleaning
Interleaning

Hebatnya lagi pria kelahiran Amsterdam ini pun langsung mencetak gol pada laga melawan PEC Zwolle. Satu golnya saat itu sekaligus menggenapi kemenangan Ajax menjadi 4-0.

Mulai saat itu pula namanya menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawan di seluruh Eropa. Tapi ketenaran yang terus ia dapat tidak serta merta membuat dirinya lupa pada kodratnya sebagai seorang pesepak bola.

Menolak Membela Timnas Belanda dan Memakai Jersey adidas

Cruyff tidak hanya memandang sepak bola sebagai sebuah permainan saja. Baginya, sepak bola adalah bentuk perjuangan dan media pemersatu. Maka tak heran jika pada era 60-an dirinya menolak membela Timnas Belanda.

Alasan sang legenda cukup sederhana, ia tidak bersedia mewakili negara jika negaranya sendiri tidak menghargai hak-hak pesepak bola. Maklum saja, ketika itu olahraga si kulit bundar masih dianggap amatir hingga tidak mendapat gaji yang layak. Bermula dari penolakan ini pula sepak bola Belanda mulai mengubah kebijakan dan pemikirannya.

Semakin kuatnya pengaruh Cruyff di sepak bola Belanda membuat namanya mulai dilirik sejumlah apparel ternama. Puma yang merupakan produk asal Jerman pun menjadi yang beruntung karena berhasil menggaetnya pada 1974 silam.

Johan Cruyff Legenda Timnas Belanda
independent.co.uk

Kesetiaannya dengan Puma sempat membuat sang legenda berada di persimpangan jalan ketika Timnas Belanda menggunakan Adidas, yang notabene rival Puma. Tapi bukan Cruyff namanya jika tidak mempunyai jalan keluar.

Dia merobek satu dari tiga strip yang menjadi lambang Adidas. Tidak hanya dibajunya saja, satu strip di celananya pun ia robek untuk menghilangkan “jejak” aparel raksasa Jerman tersebut.

Keputusannya ini kemudian membuat dirinya berbeda dari pemain Belanda lain. Walau perbedaannya tidak terlalu mencolok, cara Cruyff ini justru menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak orang. Bahkan keputusannya tersebut menjadi tren tersendiri hingga saat ini.

Ancaman Pembunuhan dan Kegagalan Timnas Belanda di Argentina

Dengan segala kebintangan yang makin melekat pada dirinya, Cruyff tidak hanya membuat lawan-lawannya di lapangan ketakutan. Lebih dari itu, ia sampai membuat seorang diktator Argentina bernama Jorge Videla ciut melihat aksinya.

Pada Piala Dunia 1978 yang berlangsung di Argentina, ia terpaksa absen karena mendapat ancaman pembunuhan dari Videla. Sebulan sebelum turnamen tertinggi sepak bola ini dimulai, Cruyff diancam akan dibunuh jika tetap memaksa ikut membela Timnas Belanda.

Kendati tidak mengakui hal tersebut, banyak yang percaya bahwa Cruyff memang benar-benar mendapat ancaman dari Videla. Independent pun melaporkan bahwa bukan hanya Cruyff saja yang diancam, tapi juga istri dan anaknya.

Alhasil, Timnas Belanda yang ketika itu masih dilatih Rinus Michels kembali gagal mengangkat trofi Piala Dunia. Mereka takluk dari Argentina di partai final dengan skor 1-2. Bagi banyak orang, hasil di lapangan akan berbeda jika Cruyff bermain di lapangan.

Warisan yang Mendunia

Walau absen di Piala Dunia 1978, pesona pria bernama lengkap Hendtrik Johannes Cruyff tak lekang sama sekali. Ia terus mencatatkan torehan emas baik bersama De Oranje maupun di tingkat klub. Jika ditotal, ia 11 tahun bahu membahu membawa Timnas Belanda untuk mencapai singgasana tertinggi sepak bola.

33 gol Timnas Belanda pun berasal dari kaki dan kepala sang kreator. Sedangkan di klub, namanya terkenal ketika berseragam Ajax Amsterdam dan Barcelona. Mengoleksi 240 penampilan untuk Ajax, ia sukses mempersembahkan banyak gelar bergengsi seperti tiga kali juara Liga Champions dan sembilan gelar Eredivisie.

Sedangkan untuk Barcelona, ia memperoleh trofi LaLiga dan Copa del Rey. Bersama dua klub ini pula Cruyff terpilih sebagai pemain terbaik dunia sebanyak tiga kali.

Walau gelar yang diberikan untuk Barcelona tidak begitu banyak, pengaruh ayah Jordi Cruyff ini tidaklah main-main. Ia pula yang mewarisi sepak bola tiki-taka yang dalam beberapa tahun ini kembali digaungkan oleh Pep Guardiola.

Johan Cruyff, Barcelona, Andoni Zubizarreta
fcbarcelona.com

Johan Cruyff pula pencetus akademi sepak bola ternama yang sekarang dikenal dengan nama La Masia. Maka bisa dipastikan, tanpa Cruyff, Azulgrana tidak akan mampu memperkenalkan nama-nama hebat semacam Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Pep Guardiola, Carles Puyol, dan tentu saja Lionel Messi.

Melalui La Masia sang legenda telah mengubah dunia sepak bola. Tidak hanya bagaimana menciptakan tiki-taka saja, tapi juga cara berpikir pelatih masa kini. Dampak ini pula yang sedang dirasakan juru taktik Barcelona, Ernesto Valverde.

“Dampak yang dia berikan bukan hanya menitik beratkan pada perubahan gaya bermain dalam sepak bola. Dia punya gagasan baru yang belum pernah ada sebelumnya dan cara ini pula yang banyak digunakan pelatih-pelatih sekarang,” ujar mantan anak asuh Cruyff ini seperti dikutip dari Marca.

“Anda semua tahu elemen apa saja yang sudah dia ciptakan, bermain dari dalam, pendekatan posisi, lini bermain, penguasaan bola, koordinasi, semuanya. Menguasai bola berarti anda harus mengambil inisiatif, menyerang lawan dan mengambil kontrol,” sambungnya.

Pria yang mengakhiri karier di Feyenoord pada 1984 silam ini adalah seoang pemikir ulung, penafsir keinginan pelatih di lapangan, dan pemimpin yang paling disegani. Bahkan untuk mencapai predikat seperti itu dia tidak membutuhkan gelar Piala Dunia.

Keagungan Cruyff ini sampai membuat pelatihnya, Rinus Michels, mengandalkannya dalam meramu taktik permainan di lapangan. Bahkan Michel dengan lantang berkata “Tim saya tidak akan pernah ada jika tidak ada Cruyff di dalamnya,” tegasnya.

Bisa dikatakan, warisan Cruyff di sepak bola lebih banyak dari trofi Piala Dunia yang sudah dimenangkan lawan-lawannya selama ini. La Masia, tiki-taka, dan perjuangannya meningkatkan derajat sepak bola di Negeri Kincir adalah warisan terbesarnya.

Walau begitu, lagi-lagi, dari sekian cara permainan yang ia cetus, pria yang pernah merumput di Los Angeles Aztec ini hanyalah pecinta permainan yang sederhana. “Bermain sepak bola sangatlah sederhana, tapi bermain dengan cara sederhana itu sangat sulit,” imbuhnya seperti yang dikutip di The Guardian.

Kini, sudah hampir tiga tahun Johan Cruyff meninggalkan kita semua. Setelah mengaku unggul 2-0 atas penyakit paru-paru yang menggerogoti tubuhnya, sang maestro pergi untuk selamanya pada 24 Maret 2016 lalu. Walau begitu, namanya akan tetap agung dalam ingatan. Bahkan kebersihan Amsterdam Arena yang selalu dijaga ibunya kini telah menyatu dengan dirinya dalam Johan Cruyff Arena.

Comments
Loading...