LEGENDA: Hitam Putih Karier Kurniawan Dwi Yulianto

Football5star.com, Indonesia – Indonesia kini tengah dipenuhi para pemain berkualitas di posisi penyerang sayap. Hampir seluruh klub Liga 1 2018 lalu, memiliki pemain super cepat yang menyisir tepi lapangan.

Kondisi ini tak berlaku di lini depan. Daftar penyerang murni asli Indonesia semakin menipis. Dalam dua gelaran terakhir, Beto Goncalves dipilih untuk mengisi slot di lini depan Timnas Indonesia. Nama lain bukannya tidak ada, tapi belum ada yang mampu mencapai peak performance dan membuat pelatih Timnas memilih pemain naturalisasi.

Kesulitan mencari penyerang depan tak berlaku di masa lampau. Indonesia tengah kebanjiran penyerang berkualitas di era awal 2000-an. Sebut saja Zainal Arif, Ilham Jayakusuma, Widodo Cahyono Putro, dan Kurniawan Dwi Yulianto. Nama terakhir menjadi salah satu penyerang yang kariernya paling ekstrem.

Dari Sampdoria hingga ke Luzern

Si Kurus, panggilan dari Kurniawan menjadi salah satu pemain yang dikirim ke Italia. Ia bergabung dengan Sampdoria Primavera – proyek kerjasama antara PSSI dan Italia – pada tahun 1993. Saat itu, usianya baru menginjak 17 tahun.

Tak hanya di Italia, ia juga sempat mencicipi ketatnya persaingan sepak bola Eropa di Swiss. Bersama FC Luzern, ia sempat mencatatkan namanya dalam buku sejarah sepak bola Indonesia: pemain Indonesia pertama yang mencetak gol di kompetisi resmi di Eropa.

Saat itu, FC Luzern tengah bersua FC Basel pada 9 April 1995. Kurniawan ditunjuk oleh pelatih Jean-Paul Brigger untuk bermain sejak menit pertama. Ia sukses mencetak gol melalui sundulan pada menit ke-23. Itu akan menjadi momen yang sulit untuk dilupakan oleh pemain kelahiran Magelang tersebut.

Sayang, kariernya di Eropa lebih mirip dengan kembang api yang terbang tinggi indah, namun hanya sesaat. Ia hanya menikmati satu musim di Swiss dengan bermain sebanyak 12 kali. Pulang ke tanah air menjadi pilihan paling logis saat itu.

Narkotika dan Dunia Malam yang Membelenggu

“Bukannya sombong, cuma saat itu kan dapat uangnya gampang dan banyak. Apalagi, saya kerap bergaul dengan orang-orang di luar bola untuk tambah wawsan dan link. Salahnya itu saja, saya coba-coba itu (narkoba),” ujarnya dikutip Football5star dari merahputih.com.

Pernyataan di atas adalah sebuah kejujuran dari Kurniawan. Ia menjadi salah satu pemain sepak bola Indonesia yang pernah terlibat kasus Narkotika. Semua kusah buruk itu terjadi setelah ia kembali ke Indonesia.

Di awal kedatangannya kembali ke Indonesia, ia membela Pelita Jaya. Di Pelita Jaya, ia bermain bak bintang dengan mengemas 18 gol dari 36 pertandingan selama empat musim. Capaian apik itu membuat PSM Makassar kepincut dan mendatangkannya.

Dilansir dari Kumparan, semua kisah buruk itu dimulai ketika Kuncoro dilarikan ke Rumah Sakit karena mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Ia tak sendirian dan menyebut pemain Persebaya Surabaya, Mursyid Effendi juga terlibat. Nama Kurniawan sendiri disebut ketika Mursyid juga terseret. Meskipun akhirnya tak terbukti, namun Si Kurus mengakui bahwa ia sangat dekat dengan dunia malam dan narkotika.

Narkotika dan dunia malam sempat namanya masuk dalam daftar hujatan dan cacian pendukung. Bahkan tak jarang oleh pendukung PSM Makassar sendiri. Namun, sebagai seorang juara, ia enggan memedulikan cibiran orang.

“Waktu itu saya tidak peduli sama omongan orang. Tiap kali main, rasanya seisi stadion meneriaki nama saya, jelek-jelekin saya (karena narkoba). Tetapi saya tidak mau mendengarkan semua itu. Ini hidup saya. Saya punya kemampuan. Anda mau ngomong apa, saya ini seorang juara!” katanya dari Four Four Two.

Hingga akhirnya narkotika dan dunia malam tak benar-benar bisa menenggelamkan seorang pria kokoh bernama Kurniawan Dwi Yulianto. Di tengah kepungan cacian, ia memberikan satu gelar Liga Indonesia untuk PSM Makassar pada musim 199/2000.

Hanya Kalah dari Bambang Pamungkas

Seorang pesepak bola belum lengkap disebut sebagai pemain hebat jika belum masuk ke Tim Nasional. Tak terkecuali bagi Kurniawan. Ia menjadi salah satu penyerang hebat yang sempat menghiasi daftar pemain Timnas Indonesia.

Bagi seorang penyerang, mencetak gol adalah hal paling penting. Ini ditunjukkan oleh Kurniawan ketika bermain untuk Timnas Indonesia. Selama 58 kali memperkuat Timnas Indonesia, Si Kurus mencetak 33 gol. Ia hanya kalah dari Bambang Pamungkas yang sukses mencetak 38 gol dalam 86 pertandingan. Rataan gol Si Kurus lebih bagus ketimbang pemain Persija Jakarta, BP.

Salah satu gol yang tak akan pernah ia lupakan adalah saat mengalakna Malaysia dengan skor 4-1 dalam gelaran Piala Tiger 2004. Satu gol pembuka yang membuat tiga gol tambahan pasukan Garuda datang dengan sendirinya.

Saat itu, Indonesia tengah berada di ujung tanduk setelah di semifinal leg pertama yang digelar di Stadion Gelora Bung Karno. Indonesia saat itu takluk dengan skor 2-1. Kondisi semakin terdesak ketika pemain Malaysia, Muhamad Khalid Jamlus mencetak gol pada menit ke-28. Agregat berubah menjadi 3-1 untuk Malaysia. Indonesia membutuhkan tiga gol untuk bisa memastikan lolos ke partai puncak.

Kurniawan masuk di babak kedua dengan menggantikan Ismed Sofyan. Masuknya Kurniawan membuat daya dobrak Indonesia semakin kuat. Hingga akhirnya Si Kurus mencetak gol penyama pada menit ke-59. Gol tersebut seakan membuka jalan bagi lahirnya tiga gol tambahan yang membuat Indonesia bertemu Singapura di final Piala Tiger 2004.

Dari Calon Ketua Umum Hingga Asisten Pelatih

Timnas Indonesia - Bima Sakti dan Kurniawan Dwi Yulianto

Si Kurus menjadi salah satu pemain yang sering gonta-ganti klub, kutu loncat. Total, ada 16 klub yang pernah ia bela sejak bermain di Sampdoria Primavera hingga gantung sepatu di Persepon Pontianak. Setelah bermain di Italia, ia terbang ke Swiss membela FC Luzern. Pulang ke Indonesia, ia bermain di Pelita Jaya, PSM Makassar, PSPS Pekanbaru, Persebaya Surabaya, dan Persija Jakarta.

Ia sempat pergi ke luar negeri dan membela klub Malaysia, Serawak FA. Pulang dari Malaysia, ia bermain di banyak klub lokal. Sebut saja PSS Sleman, Persitara Jakarta Utara, Persisam Samarinda, Persela Lamongan, PSMS Medan, Tangerang Wolves, PPSM Magelang, dan Persepon Pontianak.

Pada 2014, Si Kurus mengumumkan gantung sepatu. Ia tinggal di Malaysia untuk berbisnis dan tak sepenuhnya lupa dengan dunia yang membesarkan namanya: sepak bola. Sesekali ia datang ke Indonesia sebagai pengamat sepak bola dan mengambil lisensi kepelatihan.

Kecintaanya terhadap sepak bola membuat ia tak bisa berlari terlalu jauh. Pada 2016 yang lalu, ia mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PSSI Periode 2016-2020. Ia bersaing dengan Edy Rahmayadi, Moeldoko, Tonny Aprilani, Eddy Rumpoko, Djohar Arifin Husin, dan Bernhard Limbong. Jika dilihat lagi, hanya Kurniawan, calon Ketum yang berasal dari dunia sepak bola.

Dasar para pemilih yang belum mau maju, nama Kurniawan tenggelam dan tak mendapatkan satu pun suara di pemilihan. Edy – Ketum PSSI yang baru saja mundur – mendapatkan 76 suara, disusul Moeldoko dengan 23 suara dan Eddy Rumpoko dengan tujuh suara.

Ia gagal merebut kursi PSSI 1. Ia putus asa? Tidak. Ia terus mengasah kemampuan kepelatihannya. Pada 2018 lalu, ia dipilih oleh Bima Sakti sebagai salah satu asisten pelatih Timnas Indonesia bersama dengan Kurnia Sandi. Trio Primavera ini gagal membawa Timnas Indonesia melaju mulus di Piala AFF 2018. Tak lagi bermain, Si Kurus masih ingin mengabdi di sepak bola Indonesia.

Ia tak lagi bermain, namun ia akan tetap dikenang sebagai salah satu penyerang terbaik yang pernah bermain di Indonesia. Ia mewariskan sebuah legacy yang membuat Bambang Pamungkas terpikat dan mendapuknya sebagai salah satu idola. Ia memberikan pelajaran moril bahwa badai tak akan meruntuhkan mental dan semangat seorang juara seperti dirinya.

Comments
Loading...