LEGENDA: Pele, Mutiara Penghancur Segala Keraguan

Football5star.com, Indonesia – Selalu ada perdebatan soal siapa sosok pesepak bola terhebat sepanjang masa. Namun, dalam sebuah poling yang dilakukan Saluran Televisi History pada 2018, Pele berada di posisi teratas. di belakang legenda timnas Brasil itu, barulah ada nama Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo, dua pujaan masa kini.

Meskipun tetap bias dan dapat diperdebatkan, hasil poling History kiranya dapat dianggap sebagai pengakuan terhadap kehebatan Pele yang sebetulnya tak terbantahkan. Setidaknya, pria bernama asli Edson Arantes do Nascimento itu adalah yang terbesar di Piala Dunia dan mencetak seribu sepanjang kariernya.

Kehebatan Pele juga bukan hanya berkat bakatnya yang istimewa. Dia juga terbukti tak lekang oleh berbagai tantangan. Dia selalu mampu membuktikan diri dan menjawab kepercayaan walaupun di tengah keraguan.

Andal Sedari Awal

Kemampuan sepak bola Pele sudah terlihat istimewa sejak kecil. Bakat istimewa yang diturunkan sang ayah, Dondinho, tetap berpendar meski saat bermain dengan menggunakan gulungan kaus kaki ataupun sampah sebagai bola.

Saking sering mempermalukan rekan-rekan sepermainannya, Pele bahkan sempat dihardik sang ayah. “Saya marah kepadamu, Dico (panggilan Pele semasa kecil). Saya lihat kamu meledek anak-anak lain. Kamu harus lebih menghormati mereka. Kamu tak berhak melakukan hal itu hanya karena dinaugerahi bakat. Ingat, Tuhan yang memberikan bakat itu!” ucap Dondinho seperti diungkap Pele dalam buku Why Soccer Matters.

Talenta itu pada akhirnya ditangkap mata Waldemar de Brito, pemain timnas Brasil saat Piala Dunia 1934. Berdasarkan keyakinannya, dia meminta Dondinho membawa Pele melakukan trial di Santos. Saat itu, pemain yang lantas dijuluki Perola Negra tersebut baru berumur 15 tahun.

Pele - Santos - Timnas Brasil - santosfc,.com
santosfc,.com

Karena tubuhnya yang kurus, Pele dipandang sebelah mata. Di Santos, dia tak langsung mendapat kesempatan bermain. Dia tak ubahnya pelayan bagi para pemain senior. Dia membawakan mereka kopi, rokok, dan soda.

Akan tetapi, seperti kata pepatah, berlian akan tetap berkilau meski berada di dalam lumpur. Perlahan tapi pasti, Pele menunjukkan kehebatannya dan lantas membuka mata Lula, pelatih Santos kala itu. Terutama setelah dia menaklukkan bek andal mereka, Formiga.

Tepat pada 7 September 1956, Edson Arantes do Nascimento akhirnya berada di tim utama Santos saat menghadapi Corinthians, sebuah klub asal Santo Andre. Pada laga itu pula, dia mencetak gol pertama dari sekitar 1.280 gol yang dibuatnya sepanjang berkiprah di sepak bola.

Meraja di Piala Dunia

Santos lantas menjadi satu-satunya klub yang dibela Pele. Selama 18 membela klub itu, dia berhasil mengoleksi 619 gol dari 638 penampilan. Ia juga berhasil membawa Alvinegro Praiano meraih 6 gelar Campeonato Brasileiro Serie A, dua Copa Libertadores, serta dua Piala Interkontinental.

Pele memang kemudian sempat membela New York Cosmos pada 1975. Namun, sejatinya dia sudah pensiun setahun sebelumnya. Dia bermain hingga 1977 dan membawa klub itu menjuarai North American Soccer League (NASL).

Santos juga yang menjadi jembatan Pele menembus timnas Brasil dan berkiprah di Piala Dunia, tepatnya Piala Dunia 1958. Namun, keraguan langsung mengadang. Lagi-lagi soal umur dan perawakannya.

Untuk masuk skuat Selecao ke Piala Dunia 1958, semua pemain harus sehat dan kondisi sangat bagus. Seleksi dilakukan terhadap 34 pemain. Di antara mereka, Pele dan Garrincha mendapat perhatian khusus. Pele terlalu belia, Garrincha tak punya fisik sempurna, kakinya pincang.

“Pele benar-benar masih terlalu muda,” ujar sosiolog Joao Carvalhes kepada pelatih Vicente Feola. “Dia tak punya semangat juang yang dibutuhkan, terlalu muda untuk merasakan agresi dan menunjukkan reaksi yang cukup. Dia juga tak punya tanggung jawab terhadap semangat tim. Saya tak menyarankan Anda membawa dia ke Swedia.”

Beruntung bagi Pele, Feola ternyata keras kepala. Setelah membaca laporan Carvalhes, dia berujar, “Anda mungkin benar. Namun, masalahnya, Anda sama sekali tak tahu soal sepak bola! Jika sehat, Pele akan bermain!

Pilihan Feola tak sia-sia. Pele membuktikan dirinya sebagai sosok istimewa. Di Piala Dunia pertamanya, dia menahbiskan diri sebagai pencetak gol termuda, pencetak gol termuda di final, dan juara dunia termuda. Itu karena dia melakukannya dalam umur 17 tahun.

Hampir Berhenti karena Frustrasi

Bagi Pele, keberhasilan di Swedia 1958 adalah sebuah pemenuhan janji. Ketika Brasil gagal juara di Piala Dunia 1950, dia melihat Dondinho menangis. Saat itulah, dia berkata, “Tak apa, Ayah. Suatu hari nanti, aku berjanji, aku akan memenangkan Piala Dunia untukmu.”

Bukan sekali pula Pele memenuhi janji itu, melainkan tiga kali. Selain di Swedia 1958, dia juga membawa Brasil berjaya di Chile 1962 dan Meksiko 1970. Tiga gelar juara itu menjadikan dia yang tersukses. Tak ada sosok lain yang mampu menyamai prestasi itu hingga saat ini.

Di Piala Dunia 1958, Pele yang masih berusia 17 tahun menjadi salah satu andalan Selecao. Meskipun tiba di Swedia dengan kondisi kurang fit, dia berhasil tampil gemilang di atas lapangan.

Perola Negra berhasil membawa timnas Brasil menjadi juara dan mampu mencetak enam gol dari empat pertandingan. Di partai final melawan timnas Swedia, ia berhasil mencetak dua gol. Di partai itu, Selecao berhasil meraih kemenangan dengan skor 5-2.

Pele - Timnas Brasil - fifa. com
fifa. com

“Ketika Pele mencetak gol kelima Brasil, jujur, saya tak dapat berbuat apa pun. Saya ingin memberikan tepuk tangan kepadanya,” kata bek timnas Swedia, Sigvard Parling. Sementara itu, Just Fontaine yang lantas jadi pencetak gol terbanyak berujar, ” Ketika melihatnya bermain, saya ingin langsung pensiun dari dunia sepak bola.”

Di edisi selanjutnya, Pele tak mampu bicara banyak. Pasalnya, dia menderita cedera di partai melawan Cekoslowakia. Pelatih Aymore Morreira pun memasang Amarildo untuk menggantikan dia di sisa turnamen. Brasil juara, tapi Pele tak menikmati keberhasilan itu.

Pengalaman pahit di Chile 1962 kembali dialami di Piala Dunia 1966. Terjangan keras para pemain lawan membuat Perola Negra serasa berada di medan perang. Dia pun frustrasi. Begitu kiprah Selecao usai, dia mengambil putusan mengejutkan.

“Aku tak akan lagi bermain di Piala Dunia. Jika sepak bola berarti perang, aku akan menggantung sepatuku dan melupakan bahwa aku pernah bermain!” tegas Pele di depan para jurnalis di ruang ganti. Pada hari itu, 19 Juli 1966, Pele baru berumur 25 tahun.

Paripurna Bersama Tim Terbaik

Pada akhirnya, setelah dibujuk mati-matian, Pele berubah pikiran. Dia kembali berlaga di Piala Dunia 1970 bersama tim yang kerap disebut sebagai kesebelasan terbaik sepanjang masa. Mereka tampil kompak, dihuni banyak talenta istimewa, dan digdaya.

Pele - Santos - Timnas Brasil - Pinterest
Pinterest

Di Piala Dunia 1970, Selecao tak lagi diperkuat oleh beberapa pemain legendarisnya. Garrincha, Nilson Santos, Valdir Perreira, Djalma Santos dan Gilmar sudah pensiun dari sepak bola internasional. Posisi mereka digantikan oleh Jairzinho, Rivelino, Gerson, Tostao, Clodoaldo serta Carlos Alberto Torres. Pele menjadi salah satu nama senior yang dibawa oleh pelatih Mario Zagallo ke Meksiko.

Di Meksiko, Mario Zagallo memasang formasi dengan lima penyerang. Mereka adalah Jairzinho, Gerson, Tostao, Rivelino dan tentu saja, Pele. Kelimanya menjadi sosok sentral di skuat Selecao ketika itu.

Permainan indah yang mereka tunjukkan membawa Brasil mencetak 19 gol dari enam pertandingan. Pele sendiri memiliki andil dalam 14 dari 19 gol yang dicetak oleh skuat Mario Zagallo.

“Pele adalah pemain dengan kemampuan terlengkap saya pernah saya lawan. Dia memiliki kemampuan yang sangat baik dengan kedua kakinya, mampu menyundul bola dengan baik, serta bisa melewati lawan dengan mudah. Meskipun tidak terlalu tinggi, permainannya membuat dirinya menjadi sosok raksasa di dalam lapangan,” kata kapten timnas Inggris, Bobby Moore, yang menjadi salah satu lawan Pele di Piala Dunia 1970.

Di partai final melawan Italia, Pele mampu menunjukkan penampilan yang gemilang. Selain mencetak satu gol, pergerakan berbahayanya juga mampu merepotkan lini belakang timnas Italia.

Pele Brasil Piala Dunia 1970 - Interleaning

“Sebelum pertandingan, saya yakin bisa mengalahkannya. Saya mengatakan bahwa ‘Pele terbuat dari tulang dan daging yang sama seperti manusia lainnya.’ Ternyata, saya salah,” kata bek Italia yang mengawal Pele di partai final, Tarcisio Burgnich.

“Saya dan dirinya sama-sama melompat untuk memperebutkan bola yang ada di udara. Saya merasa yakin karena memiliki keunggulan tinggi badan. Ketika saya mendarat, saya dibuat terkejut olehnya. Pele ketika itu masih berada di udara dan berhasil meraih bola. Di momen itu, saya yakin bahwa ia bukanlah manusia biasa,” kata bek Italia lainnya, Giacinto Facchetti.

Di pengujung turnamen, Pele dianugrahi gelar pemain terbaik. Selain itu, ia juga menjadi pemain dengan koleksi gelar Piala Dunia terbanyak sepanjang sejarah. Hingga saat ini, belum ada sosok yang bisa memecahkan atau bahkan menyamai rekor tersebut.

Comments
Loading...