KOLOM: Dangdutan dan Pilkada Lampu Hijau, Liga 1 Lampu Merah

Football5star.com, Indonesia – Sepak bola adalah hiburan rakyat. Saat kompetisi sepak bola seluruh dunia harus dihentikan akibat pandemi Covid-19, kita menjalani hari makin suram. Tiap pekan yang seharusnya bisa diisi dengan menonton pertandingan sepak bola baik di layar televisi atau langsung datang ke stadion tidak bisa dilakukan.

Maka tak mengherankan jika saat negara di Eropa pada akhirnya memutuskan untuk kembali menggulirkan kompetisi, masyarakat di sana menyambutnya dengan suka cita. Meski dengan protokol baru, kehadiran sepak bola memberikan ‘kehidupan’ baru.

KOLOM: Dangdutan dan Pilkada Lampu Hijau, Liga 1 Lampu Merah
baliutd.com

Kembali bergulirnya kompetisi sepak bola di tanah Eropa dianggap menjadi kiblat bagi kompetisi sepak bola lain di seluruh dunia. Sepak bola memang jadi hiburan paling mujarab di tengah situasi pandemi seperti saat ini. Banyak faktor positif yang membuat kompetisi sepak bola begitu penting.

Kapten Real Madrid, Sergio Ramos pada Mei 2020 mengatakan bahwa negaranya membutuhkan Laliga bisa kembali bergulir. Bagi Ramos, kompetisi sepak bola merupakan alat untuk mendongkrak sisi ekonomi bagi negara serta hiburan bagi masyarakat.

“Semuanya membutuhkan waktu, negara membutuhkan sepak bola sebagai dukungan ekonomi dan orang-orang membutuhkannya sebagai hiburan,” ujar Ramos saat itu.

Kompetisi atau Pilkada

Negara membutuhkan sepak bola jadi pernyataan Ramos yang perlu digarisbawahi. Apakah negara Indonesia membutuhkan sepak bola? Atau negara kita lebih membutuhkan konser dangdut dan gelaran Pilkada?

PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga 1 dan Liga 2 pada awal September lalu menegaskan bahwa kompetisi akan kembali digulirkan pada awal Oktober nanti. Sayangnya beberapa hari jelang kompetisi Liga 1 2020 akan berlangsung, izin tak diberikan pihak kepolisian.

“Terkait Liga Indonesia Baru 1 dan 2 yang akan dilaksanakan mulai tanggal 1 Oktober 2020, Polri tidak mengeluarkan izin keramaian dengan pertimbangan situasi pandemi Covid-19 masih terus meningkat, jumlah masyarakat yang terinfeksi,” ucap Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono seperti dikutip Football5star.com dari Kompas.

KOLOM: Dangdutan dan Pilkada Lampu Hijau, Liga 1 Lampu Merah
kompas.com

Putusan ini jelas membuat kecewa masyarakat sepak bola Indonesia. Jauh-jauh hari demi Liga 1 bisa berlangsung, semua stakeholder sepak bola nasional berupaya menjalani protokol kesehatan. Semua tim melakukan tes Swab kepada pemain dan offisial. Selain itu, seruan agar para penonton tak hadir di stadion pun dilakukan seperti yang dilakukan Persib.

“Namun dengan #DukungDariRumah, saya yakin energi dukungan Bobotoh tetap bisa tersampaikan dalam situasi saat ini.” ucap Direktur PT Persib Bandung Bermartabat, Teddy Tjahjono.

Keputusan pihak kepolisian untuk memberikan lampu merah kepada Liga 1 2020 tentu tak mengenakkan. Bandingkan misalnya soal konser dangdut di Tegal yang digelar Wakil Ketua DPRD Wasmad Edi Susilo. Pihak polisi memang tak memberi izin namun mereka mengaku tak bisa membubarkan acara yang dihadiri ratusan orang tersebut.

“Tidak berani menutup paksa mengingat kami dari Polsek tidak mempunyai kekuatan yang signifikan. Alasan kedua tidak elok rasanya kami naik panggung menghentikan paksa,” kata Kapolsek Tegal Selatan, Kompol Joeharno kepada RRI.

Ketegasan dan konsistensi negara

Argumen yang diberikan pihak Polri bahwa situasi pandemi Covid-19 yang terus meningkat jadi pertimbangan izin tak diberikan kepada Liga 1 dan Liga 2 pun terasa ‘janggal’. Bagaimana jika Polri memberi pertimbangan itu juga kepada Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Luhut Binsar saat diwawancarai oleh Najwa Shihab bersikeras bahwa untuk pencegahan klaster baru akibat rangkaian Pilkada bisa diantisipasi.

“Jadi apa yang mau kita lakukan, dan Presiden setuju. Kita usulkan pada KPU (Komisi Pemilihan Umum) maupun Bawaslu nanti dan juga sudah kepada Kapolri supaya dibatasi nanti kampanye,” ucap Luhut. Artinya harusnya untuk Liga 1 dan Liga 2 pun bisa dilakukan.

Empat orang pemain Persebaya dinyatakan positif COVID-19 berdasarkan Swab Test pada Sabtu lalu.

Yang menarik tentu saja jika Indonesia memastikan urusan pemilu tetap dilanjutkan dan sepak bola dihentikan. Di beberapa negara lain justru sebaliknya. Selandia Baru dan Hong Kong jadi negara yang menunda urusan pemilu. Bagaimana dengan sepak bola di dua negara tersebut?

Otoritas sepak bola Hongkong sudah memberi lampu hijau untuk Hong Kong Premier League bergulir. Tentu dengan rangkaian protokol kesehatan yang sangat ketat. Dikutip dari South China Morning Post, pihak pemerintah meminta semua stakeholder sepak bola Hongkong mematuhi protokol kesehatan.

“Pemerintah masih belum memberikan izin membuka stadion untuk umum tapi kami telah diberi izin khusus untuk penggunaan fasilitas untuk kompetisi liga asalkan kami mengikuti semua syarat dan protokol dari pemerintah,” ucap ketua PSSI-nya Hongkong, Pui Kwan Kay.

Menurut Pui Kwan Kay, pihak pemerintah merasa bahwa kompetisi sepak bola bisa menjadi hiburan tersendiri bagi masyarakat. Meski mereka sadar bahwa masih ada jalan panjang bagi suporter bisa datang ke stadion dan menonton langsung.

“Tetapi setidaknya kami sekarang dapat kesempatan untuk menyelesaikan musim sebelum dan menanti musim baru,” tambah Pui.

Yang dibutuhkan saat ini jika kembali berkaca pada kompetisi Liga 1 dan Liga 2 adalah konsistensi dan ketegasan negara. Kita semua sadar bahaya pandemi Covid-19 dan kita membutuhkan negara konsisten dan tegas untuk menerapkan aturan tidak bersayap dan menimbulkan pro kontra di tengah masyarakat.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More