Kolom: Indonesia Memang Butuh Pelatih Angkuh Seperti Indra Sjafri

Football5Star.com – Indonesia – Pelatih yang sesumbar, arogan dan angkuh, bak dua sisi mata pisau. Satu sisi menjadi dianggap negatif, sedang lainnya malah bisa menaikkan moril para pemain yang diasuhnya. Hal terakhir tampaknya bisa disematkan kepada Indra Sjafri.

PSSI belakangan tengah sibuk mencari juru racik paling tepat menangani Timnas Indonesia. Dua nama digadang-gadang, yakni Luis Milla dan Shin Tae-yong. Mengapa kita terlalu jauh menengok ke pelatih luar, toh di negeri sendiri memiliki juru racik jitu yang sudah terbukti kualitasnya?

Ketum PSSI, Mochamad Iriawan, bisa saja menaikkan pangkat Indra Sjafri menjadi pelatih timnas senior andai raih medali emas SEA Games 2019. Timnas U-23 di bawahnya juga gemilang, hingga mampu menembus babak final SEA Games 2019.

Lolos ke Final Piala AFF U-22 2019, Ini Komentar Indra Sjafri - Football5star - Antara
Antaranews

Semasa jadi pelatih berbagai kelompok usia di Timnas Indonesia, Indra juga meraih sejumlah gelar. Dia membawa Timnas U-19 juara 2013, lalu dua kali meraih peringkat ketiga pada edisi 2017 dan 2018. Pada level U-23, dia juga sukses membawa Timnas Indonesia juara Piala AFF U-22 2019.

Cuma memang, beberapa kali komentar Indra Sjafri sempat menjadi perbincangan. Kadang, para pewarta sendiri mengerutkan dahi ketika Indra dengan terkesan angkuh dan santainya menanggapi tekanan yang diarahkan kepadanya

Masih ingat ketika Indonesia mampu menundukkan Korea Selatan di Kualifikasi Piala Asia U-19 2014 lalu? Di atas kertas, Indonesia jelas kalah kualitas dari Korsel yang mengemas sembilan gol dalam dua laga terakhirnya sebelum bersua Indonesia. Tapi, Indra Sjafri dengan santai menanggapi hal itu’.

Dok. Republika

ā€œJangan terlalu dibesar-besarkan soal Korsel. Indonesia lebih besar dari Korsel. Sampaikan kepada Korsel, kami akan mengalahkan mereka pada 12 Oktober nanti,ā€ ucap Indra pada Senin (9/10/2013).

Hasilnya, timnas U-19 Indonesia berhasil menundukkan Korsel dalam laga kualifikasi Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Sabtu (12/10/2013). Saat itu, Evan Dimas sukses mencatatkan hat-trick yang cuma dibalas dua melalui Seol Tae-su, dan Seo Myeong-won.

Pada SEA Games 2019, pelatih asal Sumatera Barat itu juga sempat terpancing dengan pernyataan bek Singapura, Jordan Vestering dan legenda Thailand, Woorawoot Srimaka. Keduanya dengan jelas meremehkan eksistensi Indonesia dan sama sekali tak memperhitungkannya dalam persaingan Grup B.

“Thailand lebih baik enggak dari Iran? Teman-teman kan tahu. Saya tak bisa beri tahu di sini. Dengan menang lawan Iran. Pelecehan Singapura, Thailand, Vietnam mudah-mudahanan mereka tobat,” ungkap Indra Sjafri usai lawan Iran, 16 November 2019.

Indonesia vs Thailand - SEA Games - @changsuek
instagram.com/changsuek

Semuanya dibungkam Indra Sjafri di lapangan. Pada Grup B, Timnas U-23 sukses menundukkan 2-0 Thailand, dan hajar 2-0 Singapura. Bahkan, Thailand-pun yang digadang-gadang bisa mempertahankan medali emas, gagal lolos fase Grup B.

Usai Garuda Muda kalah 1-2 dari Vietnam, Indra juga merasa tak mau kalah. “Saya tak mau bilang Vietnam jauh lebih baik dari kami. Tadi saat 2 x 45 menit, Vietnam mengalami kesulitan menghadapi kami. Ini nasib saja Vietnam bisa menang. Mudah-mudahan bisa bertemu lagi nanti di final,” ujar Indra saat itu.

Benar kata orang-orang kalau ucapan itu doa. Terbukti, Indonesia dan Vietnam kembali bersua di partai puncak SEA Games 2019 yang dihelat Selasa, (10/12/2019). Terlepas dari berhasil atau tidak mendapatkan emas, sikap yang ditunjukkan Indra Sjafri di media malah bikin pemainnya tak terbebani dan merasa dipercaya memiliki kemampuan lebih baik daripada sekadar menyalahkan atau memuji tim lawan.

Indonesia Butuh Kearoganan Indra Sjafri

“Sampai saat ini, kita masih cenderung merasa inferior terhadap asing. Hal itu umum dipertontonkan jelang pertandingan. Pelatih cenderung memilih sikap rendah hati ketika akan berhadapan dengan tim luar negeri, terutama yang levelnya lebih tinggi. Pujian terhadap lawan lebih sering digaungkan ketimbang terus meneriakkan optimisme. Sikap inferior pun jadi sebuah kebiasaan yang dibiasakan,” bilang Irawan Dwi Ismunanto dalam tulisan editorial di E-Magz Football5Star edisi November 2019.

Memang betul, karena pelatih-pelatih kelas dunia-pun memiliki sikap yang demikian. Contoh paling gampang tentu menengok Jose Mourinho. Pelatih yang kini menangani Tottenham Hotspur memang terkenal sangat arogan dan acap berkomentar kontroversial.

Akan tetapi di balik arogansinya, Mourinho selama ini dianggap sebagai penopang dan tameng untuk para pemainnya. “Dia selalu melindungi kami. Dia selalu menjadi yang terdepan dan bersama kami sepanjang waktu. Terkadang, komentar pedasnya di media hanya untuk membuat kami lebih kuat dan berpikir,” ujar pemain Chelsea, Willian, kala Mou tak mau memberikan konferensi persnya jelang menghadapi Manchester City, 1 Februari 2015 silam.

Reuters

Mourinho-pun sempat melancarkan kritik kepada Eden Hazard saat sama-sama membela Chelsea. Dia menyebut Hazard tak mau berkorban untuk tim. Tapi, Hazard sendiri malah menyebut komentar pedas Mourinho sebagai cambuk.

“Dia (Mourinho) memang sedikit menyentil, tetapi ini cambuk buat saya. Pelatih lain justur cenderung membela saya jika terlibat dalam masalah ini. Dia ingin potensi saya meledak, dan dia melakukan segalanya agar itu terjadi,” kata Hazard saat itu.

Apa yang ditunjukkan Indra Sjafri melalui komentar arogannya merupakan teori insentif dalam psikologi sikap. Dikutip dari Dosenpsikologi.com, di dalam teori tersebut mengasumsikan jika seseorang akan memberikan respons pada suatu komunikasi dengan menggunakan beberapa pikiran baik itu positif maupun negatif.

Serta di dalamnya juga menjelaskan jika pikiran ini nantinya akan menentukan apakah seseorang berkeinginan untuk mengubah sikapnya atau tidak sebagai bentuk akibat dari komunikasi. Dalam teori tersebut ada turunannya yakni motivasi ekstrinsik.

Motivasi ekstrinsik menggambarkan seseorang melakukan sesuatu untuk mendapatkan sesuatu yang lain atau bisa dikatakan sebuah cara untuk mendapatkan tujuan. Hal tulah yang dilakukan oleh Indra Sjafri

Jadi, sudah seharusnya Indonesia memang mengubah pola pikir untuk tak lagi sekadar ciut nyali atau segan melawan tim yang dianggap memiliki level lebih baik. Indonesia harus percaya terhadap kemampuan dirinya sendiri, seperti apa yang dilakukan Indra Sjafri.

*Tulisan ini hanya opini dari penulis dan tidak bermaksud menyinggung pihak tertentu.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More