KOLOM: Manchester United Memalukan

Football5star.com, Indonesia – Saya masih ingat betul momen saat pertama menonton sepak bola di layar kaca. Kala itu, saya masih duduk di bangku sekolah dasar.

Pertandingan yang disiarkan oleh salah satu televisi swasta adalah pertandingan Manchester United versus Liverpool musim 1996-97 yang berakhir 1-0 untuk tim tuan rumah. Karena masih kanak-kanak, saya tentu gembira dengan hasil itu meski tak tahu tim itu berasal dari mana dan siapa-sapa saja yang bermain.

Yang jelas, tim tuan rumah dengan jersey warna merah bagi saya sangat seru untuk ditonton. Ibarat laki-laki yang melihat perempuan cantik, di awal menonton saya langsung suka dengan tim tersebut. Baru sebatas suka karena melihat tampilan awal.

Di sekolah, saya masih ingat betul bagaimana sejumlah rekan bercerita soal pengalaman menonton bola di televisi pada akhir pekan. Mayoritas rekan saya saat itu banyak bercerita soal laga di Liga Italia, dan saya satu-satunya yang bercerita soal Manchester United.

Ceritanya tentu tak jelas. Saya tak bisa menyebutkan nama-nama pemain hanya mampu menegaskan tim itu bermain sangat bagus dan menang dengan satu gol tanpa balas. Ada kebanggan saat itu ketika bercerita soal laga Manchester United.

Setelah itu, berbekal koran Bola yang jadi langganan kakak yang seorang Juventini, saya mulai mendalami soal klub bernama awal Newton Heath LYR Football Club itu. Saya langsung jatuh cinta pada pemain-pemain seperti Dennis Irwin, Gary Neville, hingga King Eric Cantona.

Kebanggaan itu kemudian luntur. Ya seperti kebanyakan suporter United saat ini tentu melihat hasil pertandingan serasa ingin masuk ke dalam gua dan tak mau untuk keluar. Apa yang salah dari United saat ini? Semenjak ditinggal Sir Alex Ferguson pada 2016-17 atau setelah 26,5 tahun mengabdi, United menjadi limbung dan memalukan.

Transformasi yang gagal

“Saya menginginkan semua pemain sukses di masa depan. Anda tahu betapa hebatnya Anda semua,” begitu salah satu penggalan pidato perpisahan Sir Alex Ferguson pada Minggu 12 Mei 2013.

Pidato itu nyatanya jadi angin lalu saja bagi skuat Setan Merah. Buktinya saat manajemen menunjuk David Moyes sebagai pengganti, ia hanya bertahan setahun setelah perpisahan Sir Alex.

22 Mei 2014 setelah United dikalahkan dua gol tanpas balas oleh Everton, David Moyes dilengserkan. Rumornya sejak awal penunjukkan Moyes adalah kesalahan dari Sir Alex menunjuk suksesor.

Posisi Moyes diganti sementara oleh Ryan Giggs, si penyuka Yoga ini melatih hingga akhir musim 2014-15. Di awal musim 2015-16, posisinya diturunkan menjadi asisten pelatih dan manajemen menunjuk Louis van Gaal.

getty images

Hasilnya tetap saja gagal. Pun saat The Spesial One Jose Mourinho ditunjuk jadi pelatih, hasilnya setali tiga uang. Kini di tangan Ole Gunnar Solskjaer, hasilnya pun sama saja.

Yang jadi sorotan tentu saja bagaimana Manchester United secara klub tidak mampu bertransformasi dengan baik setelah ditinggal Sir Alex Ferguson. Mulai dari jajaran manajemen, pemain hingga suporter seperti sulit move on. Fergie ialah mantan terindah.

Harusnya saat sudah berstatus mantan, publik Old Trafford bisa nerimo bahwa Fergie tak bisa memberikan cerita dan kenangan manis. Sulit bagi pelatih mana pun saat datang ke United harus bersikap seperti layaknya Fergie.

Pada posisi inilah United sulit menemukan permainan terbaiknya. Jika mengesampingkan Moyes yang secara kualitas memang tak layak melatih tim sebesar United, apa yang kurang dari van Gaal dan Mourinho? Mengapa mereka bisa gagal di Old Trafford?

Suporter United tentu masih ingat bagaimana van Gaal mendapat banyak kritik karena gaya melatihnya yang kalem dari pinggir lapangan. Menner yang pernah sukses di Barcelona itu dianggap tak seperti Fergie yang berteriak nyaring saat pemain keliru atau saat Fergie Time beraksi.

Pun saat Jose Mourinho menunjukkan karakter dirinya dalam hal strategi melatih dan ketegasan kepada pemain. Saat Paul Pogba berulah, Mourinho menepikannya. Sayang ia mendapat kritik tajam, hal yang tak didapat Sir Alex saat bersikap sama kepada David Beckham atau Dennis Irwin.

Padahal keinginan para pengganti Sir Alex tentu saja ingin membawa perubahan tanpa mengubah bentuk dan karakter klub Manchester United. Jika merujuk pada pengertian transformasi dari konsep matematika, transformasi merupakan perubahan posisi, besar, dan bentuk suatu subjek dari objek awalnya.

Haruskah ada revolusi di Old Trafford?

Sejak Mei 2005 kepemilikan saham mayoritas United dikuasai oleh penguasa asal Amerika Serikat Malcolm Glazer. Pada titik inilah, suporter United mulai merasakan kegelisahan. Suporter merasa keluarga Glazer lebih mengutamakan laba dibanding pride sebagai klub besar.

Suara-suara sumbang soal Glazer mulai nyaring terdengar tentu saja ketika gelar ke-20 Liga Inggris dipersembahkan Sir Alex Ferguson. Faktanya sebelum itu, suara-suara untuk mengusir Glazer dari jajaran manajemen di era Fergie hanya jadi suara minoritas.

Padahal suara minoritas itu semenjak Glazer terpilih sebagai pemegang saham mayoritas sudah melakukan aksi nyata. Terbentuknya United of Manchester adalah gerakan nyata dari suporter. Latar belakang terbentuknya klub ini tentu saja soal kebijakan harga tiket yang naik, dan pemindahan jadwal kick off menjadi pukul 3 sore.

Rene Meulensteen sempat enam tahun menjadi asisten Sir Alex Ferguson di Manchester United
standard.co.uk

Sayangnya keberadaan United of Manchester bukanlah revolusi secara total di Old Trafford. 3000-an suporter yang saat ini menjadi penonton United of Manchester seperti meninggalkan rumah lama yang mau roboh.

Sementara penghuni yang masih ada di rumah itu hanya berteriak-teriak tak mampu melakukan tindakan nyata agar rumah itu tak roboh. Teriakkan yang disuarakan pun masih tak masuk akal.

Seperti bagaimana mereka terlalu berharap pada Ole Gunnar Solskjaer saat ditunjuk jadi pengganti Jose Mourinho. Lagi-lagi berbekal memori indah zaman baheula, publik menganggap Solskjaer bakal kembali menorehkan tinta emas seperti saat menjadi pemain.

Harapan yang terlalu tinggi kemudian membuat Solskjaer dan manajemen bertindak serampangan. Utamanya dalam hal pembelian pemain di awal musim ini. Yang dilakukan Solskjaer ialah solusi instan untuk memberikan kepuasaan pada penggemar, merekrut pemain dengan harga fantastis, Harry Maguire contohnya.

Revolusi di banyak pengertiannya merupakan perubahan yang berlangsung secara cepat dan menyangkut dasar dan pokok kehidupan yang dianut. Dari pengertian ini, yang jadi kritik adalah apakah semua hal positif (bukan semata melihat memori indah) sepeninggal Sir Alex harus dihapus? Salah satunya dalam hal pembentukan karakter pemain dan melahirkan pemain muda berbakat.

Van Gaal dan Jose Mourinho saat melatih masih mau menjalankan hal itu. Adnan Januzaj salah satu contohnya. Namun kemudian hal itu jadi sia-sia karena suara suporter justru menginginkan klub harusnya bisa merekrut pemain jadi.

Nasi sudah jadi bubur, pilihan untuk merekrut pemain anyar di bursa transfer musim panas pun sebenarnya tak banyak membantu perfomance klub. Pun jika ingin rekrut pemain di musim dingin nanti.

Analisis sok tahu saya sebagai seorang fan yang suka pada klub ini sejak zamannya Denis Irwin melihat aliran bola ke depan tak maksimal hingga membuat lini depan jadi mandul, minim kreasi serangan, serta ketidakmampuan untuk merusak skema serangan lawan hingga lini belakang mudah diperdaya. Semua itu bermuara karena tak karakter kuat dari para pemain.

Artinya mau tak mau saya sebagai suporter Manchester United harus melalui musim ini dengan muka tebal, jiwa yang kuat, kesabaran ekstra, serta banyak-banyak memberikan analisis sok tahu seperti tulisan saya ini.

Comments
Loading...