KOLOM: Masih Pantaskah Kita Berkorban untuk Timnas Indonesia?

Oleh: Wanda Syafii (Jurnalis Football5star.com)

Football5star.com, Indonesia – “Indonesia, Indonesia, Indonesia”. Kata-kata itu selalu mengiringi di mana pun timnas Indonesia bermain. Baik di laga persahabatan yang masuk kalender FIFA, laga persahabatan yang tidak masuk kalender FIFA, sampai pertandingan resmi di sebuah kompetisi, teriakan “Indonesia, Indonesia, Indonesia” terus lantang terdengar.

Di belahan bumi mana pun, suporter merupakan sebuah kesatuan dalam sepak bola. Di Inggris, para fan memperkenalkan kalimat “Without Fans, Football is Nothing” atau yang jika diartikan dalam bahasa Indonesia menjadi “tanpa fans, sepak bola tidak ada”.

Teriakan “Indonesia, Indonesia, Indonesia” merupakan wujud nyata dari kampanye suporter di Inggris sana. Di Eropa, ungkapan tersebut merupakan simbol perlawanan mereka terhadap pertandingan yang makin hari makin sulit dijangkau semua kalangan.

Penyebabnya tentu saja harga tiket yang dibanderol terlampau tinggi. Sebagai kiblat industri sepak bola dunia, kemegahan Premier League memang kian mencekik para penggemar yang harus mengeluarkan uang lebih untuk menyaksikan tim kesayangannya bertanding.

Masalah di Inggris kurang lebih sama dengan apa yang dialami suporter Indonesia. Bisa dibilang pula jika apa yang mencekik fan di tanah air lebih parah lagi. Ya, pecinta tim nasional dicekik dari dua arah.

Antara

Saya tidak akan menyebut ini soal tuntutan timnas Indonesia menjadi juara. Ada baiknya untuk beberapa lama kita kesampingkan kata juara, yang tentunya, sudah jadi syarat mutlak sebuah tim untuk menandai prestasi apa yang sudah dibuat.

Selasa (10/9/2019) jadi hari di mana timnas kita berada di bawah titik nadir. Mengapa demikian? Di lapangan tidak ada pemain yang membuktikan kualitasnya. Sedangkan dari tribun penonton, tidak ada teriakan, atau setidaknya, kesediaan fan untuk memenuhi 80 ribu kursi yang tersedia di Stadion Gelora Utama Bung Karno.

Padahal lawan yang dihadapi adalah Thailand, yang tidak lain dan tidak bukan musuh Indonesia di tingkat regional.  Apalagi pertandingan kemarin bertajuk Kualifikasi Piala Dunia 2022, bukan Piala AFF.

football5star.com/wanda

Akan tetapi, 69 ribu fan menghilang dari GBK. Sedangkan 11 ribu yang hadir hanya duduk dan menonton sembari menyumpahi ketidakbecusan pemain dalam memainkan si kulit bundar.

Saya yang menyaksikan langsung pertandingan di tribun Selatan seperti enggan berlama-lama melihat kedua kesebelasan mengolah bola. Perhatian justru lebih sering tertuju ke setiap sudut tribun yang kosong, maupun tribun yang terisi tapi seakan tak berpenghuni.

Memang sesekali masih terdengar “Indonesia, Indonesia, Indonesia”. Tapi setelah itu? Ya sunyi lagi. Hampir tidak ada nyanyian atau chants lain yang lumrah disuarakan para pendukung tim nasional. Dua basis besar suporter timnas, Ultras Garuda dan La Grande Indonesia juga terkesan tidak ada.

Jika biasanya mereka sudah memenuhi tribun Selatan dan Utara beberapa menit sebelum kick off, kali ini Ultras Garuda dan La Grande Indonesia baru muncul di pertengahan babak pertama. Bahkan chapo UG baru naik ‘mimbar’ ketika paruh pertama tinggal menyisakan satu menit lagi.

Ada beberapa faktor yang sepertinya menyebabkan laga Indonesia vs Thailand sepi peminat. Pertama, pertandingan dilangsungkan pada hari kerja. Kedua, harga tiket cukup mahal. Ketiga, buntut kekalahan memalukan dari Malaysia.

Dua alasan pertama mungkin terdengar ambigu. Pasalnya saat Indonesia menjamu Malaysia, dua hal itu tidak menjadi soal. Mereka juga tidak henti-hentinya meneriakkan yel-yel penyemangat.

Dari secuil pemandangan saya ini, kekalahan dari Malaysia jadi penyebab yang masuk akal laga Indonesia vs Thailand minim dukungan. Ya, pelatih Simon McMenemy seperti tidak belajar dari kesalahan ketika Andritany Ardiasyah dkk takluk dari Harimau Malaya.

Memang ada beberapa perubahan yang dibuat pelatih berpaspor Skotlandia dengan menurunkan Yanto Basna dan Irfan Bachdim sejak menit pertama. Tapi dari segi permainan? Ya sama saja.

Para pemain terlalu sering memainkan umpan-umpan lambung. Sudah tahu cara itu gagal, mereka tetap memeragakannya sampai gawang Andritany dibobol tiga kali. Padahal dari segi postur badan, kita kalah. Juga dari sisi akurasi umpan yang masih jauh dari kata akurat.

Ketika Indonesia berhasil mencetak dua gol ke gawang Malaysia, ada andil dari pemain Harimau Malaya yang membuat blunder. Lalu, dengan skema permainan yang sama, apa mungkin Simon McMenemy berharap pemain Thailand melakukan kebodohan yang sama seperti Malaysia?

Setelah kalah dari Malaysia, timnas Indonesia dibanjiri hujatan. Sesaat usai laga, ratusan fan melakukan protes di depan tribun VVIP untuk meminta pertanggung jawaban atas performa buruk di lapangan. “Kembalikan Garuda kami, kami rindu Garuda yang dulu,” teriak mereka.

Sekarang Indonesia sudah kalah dua kali dari dua pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2022. Memang masih ada empat laga lagi saat melawan Uni Emirat Arab dan Vietnam di laga kandang dan tandang, serta dua kali lawatan ke Malaysia dan Thailand.

Akan tetapi, dengan pakem permainan seperti yang sudah ditunjukkan di dua laga awal, apa yang bisa diharapkan dari timnas di laga sisa nanti? Di tanah air saja kita kalah, mau jadi apa kita nanti di tanah orang?

Dengan kosongnya GBK saat kalah 0-3 dari Thailand, suara suporter menuntut Simon McMenemy mundur dari jabatannya mulai menggema. Teriakan mereka di penghujung laga bahkan lebih nyaring dari chants-chants yang mereka lantunkan sepanjang laga.

Masih prematur memang jika menganggap McMenemy gagal sekarang. Sebab dia baru menjalankan tujuh pertandingan saja. Tapi melihat mandegnya perkembangan tim selama di bawah asuhannya, sah-sah saja suara Simon Out terdengar nyaring seantero GBK.

Di satu sisi, dua kekalahan ini merupakan buntut dari tidak becusnya PSSI dalam mengatur jadwal kompetisi Liga 1. Ya, disaat kompetisi masih berjalan, timnas sudah mengumpulkan para pemain untuk menjalani pemusatan latihan.

Masalah ini sempat disinggung McMenemy yang kesulitan memanggil pemain karena berbenturan dengan jadwal liga. Alhasil mantan pelatih Filipina terkesan hanya mendapat pemain kelas dua, terutama di posisi penjaga gawang.

Pelapis Andritany adalah kiper Semen Padang, Teja Paku Alam, dan Angga Saputra asal Tira Persikabo. Padahal masih ada nama-nama langganan timnas lain yang lebih layak seperti Muhammad Ridho dari Madura United, serta Wawan Hendrawan yang tampil gemilang untuk Bali United.

Tapi bukankah bentroknya kompetisi dengan kebutuhan timnas sudah menjadi penyakit lama federasi kita dalam menerapkan perencanaan? Dari sini kita bisa menarik kesimpulan bahwa masalah timnas Indonesia sangat njelimet karena bukan hanya menyangkut tim saja, tapi juga federasi dan kompetisi.

Dengan masalah yang terus berulang ini, masih pantaskah kita berkorban untuk mendukung timnas Indonesia? Masih pantaskah kita berbuat lebih ketika timnas dan juga federasi hanya bisa memberi seadanya?

Atau mungkin, kita memang secara terpaksa dituntut untuk terus berkorban demi Garuda, demi nama baik negara, dan demi kecintaan pada sepak bola tanpa ada hasilnya?

Comments
Loading...