Kolom: Naturalisasi, Jangan Rusak Mimpi Adik-Adik Kami

Football5Star.com, Indonesia – Bak petir di siang bolong, tiba-tiba masyarakat sepak bola Indonesia dikejutkan dengan banyaknya pemain muda asal Brasil datang. Usut punya usut, pemain itu disebut-sebut masuk program naturalisasi, yang akhirnya dibantah PSSI.

Memang, tak perlu alergi untuk merekrut pemain naturalisasi. Ini hal lumrah dalam dunia sepak bola. Banyak negara-negara top yang melakukan hal serupa. Sebut saja Mauro Camoranesi. Dia lahir di Argentina tapi kemudian malah memilih untuk membela Italia.

Kolom: Naturalisasi, Jangan Rusak Mimpi Adik-Adik Kami
FIFA.com

Bersama Timnas Italia, Camoranesi terbilang sukses besar. Dia menjadi bagian penting Timnas Italia yang juarai Piala Dunia 2006 silam. Atau Kepler Laveran Lima Ferreira yang lebih dikenal dengan Pepe di Timnas Portugal.

Dia lahir dan tumbuh di Brasil. Sama seperti Camoranesi, Pepe jua memutuskan membela Portugal dalam karier sepak bolanya. Hasilnya? Bagus karena dia juga terlibat dalam tim Portugal saat jadi jawara Eropa 2016 lalu.

Dua kasus tersebut memang tak bisa secara langsung dijadikan perbandingan. Indonesia berbeda dengan Portugal atau Italia. Di sana, status kewarganegaraan ganda tidak diharamkan. Tidak seperti Indonesia yang hanya boleh memegang satu kewarganegaraan hingga akhir hayat.

Artinya, jika Camoranesi dan Pepe masih boleh memiliki paspor Argentina serta Brasil meski sudah membela Italia dan Portugal, tidak dengan pemain yang memperkuat panji merah putih. Misal Cristian Gonzalez, yang tak boleh lagi memiliki paspor Uruguay setelah memilih jadi WNI, atau nama-nama lain semisal Greg Nwokolo hingga Fabiano Beltrame.

Nah PSSI disebut-sebut ingin menjadikan pemain naturalisasi seperti jalan pintas untuk meraih prestasi Timnas U-19 Indonesia yang akan berlaga di Piala Dunia U-20 2021. Lima pemain muda Brasil tiba-tiba datang dan tersebar di tiga klub, yakni Arema FC, Persija Jakarta, serta Madura United.

Fakhri Husaini: Serahkan Saja Status Tuan Rumah Piala Dunia ke Negara Lain! Sergio Farias Ungkap Latar Belakang Dua Calon Pemain Naturalisasi Persija Asal Brasil PSSI Naturalisasi 5 Pemain, Persija Dapat Dua Nama?

Mereka adalah Maike Henrique, Thiago Apolina Pereira, Pedro Henrique Bartoli Jardim, Hugo Guilherme Correa Grillo, dan Roberth Junior Rodrigues Santos. Sejurus dengan kehadiran lima nama itu, beberapa pihak klub mengonfirmasi statusnya. Mereka kompak menyebut kalau para pemain muda yang rata-rata berusia 18 tahun itu masuk proyek PSSI.

“Kan memang PSSI ada lima pemain yang akan dinaturalisasi. Nanti PSSI yang akan mengumumkan itu. Klub hanya mengabarkan kedatangan pemain baru,” ungkap Presiden Madura United, Achsanul Qosasi saat dihubungi wartawan.

Hal senada jua disuarakan oleh pelatih Persija, Sergio Farias. “Ya mereka adalah pemain muda yang akan berlatih untuk proyek dari PSSI. Thiago dan Maike Henrique berada di klub yang sama dengan anak saya, yakni Corinthians dan Paulista,” beber Sergio Farias saat dihubungi Football5Star.com.

Sebenarnya, saat ada Webinar dengan IDN Times yang berjudul “Ngobrol Seru Indonesia Menyambut Piala Dunia U-20 2021 dan Restart Liga 1” jua muncul paparan ketum PSSI, Mochamad Iriawan soal cara-cara luar biasa untuk prestasi pada Piala Dunia U-20 2021.

Soal Paparan Ketum PSSI yang Bocor, Indra Sjafri Tak Tahu

Ada tulisan bahwa PSSI mungkin melakukan nasionalisasi atau naturalisasi pemain di usia emas sebagai pesepak bola. Ada tiga nama yang jadi contoh, yakni Leozao, Pedro, dan Maike Henrique. Uniknya dua nama di antara contoh itu cocok dengan yang kini sudah tiba. Pedro berseragam Arema, sedang Maike Henrique sudah latihan bersama Persija.

Jauh sebelum itu pun, pada Juni lalu Iriawan sempat mengindikasikan pemain naturalisasi di Timnas U-19 Indonesia. “Dalam rapat terbatas (Ratas) bersama pak Presiden Jokowi, beliau mengatakan kenapa tidak melakukan naturalisasi pemain? Lalu saya bilang, saya tidak alergi dengan naturalisasi. Tetapi kalau naturalisasi datangnya dari umur 37, kemudian dari sana dia hanya bermain di kasta ketiga, keempat untuk apa,” kata Iriawan dalam Webinar yang diselenggarakan LPEM FEB Universitas Indonesia.

“Tetapi kalau mungkin nanti naturalisasi, siapa tahu ada yang umur 19. Kalau memang dia pemain yang bagus, kemudian mudah prosesnya, tidak memberatkan PSSI, itu akan kami pertimbangkan,” tambah dia.

Semuanya Dibantah

Kendati demikian, melalui Direktur Teknik, Indra Sjafri, PSSI membantah kabar akan melakukan naturalisasi untuk Timnas U-19. Tapi memang dia tak menampik PSSI berupaya mendatangkan pemain terbaik, tapi hanya yang punya keturunan saja, bukan naturalisasi.

“(Naturalisasi) Sampai saat ini belum ada pembicaraan Shin (Tae-yong) dengan saya sebagai Dirtek, saya juga belum ada pembicaraan ke PSSI. Jadi ada pertanyaan ada pemain yang datang, PSSI tak bisa kontrol itu. Jadi tak mungkin kita panggil pemain-pemain yang belum jelas statusnya,” bilang Indra Sjafri.

Ketika dikonfirmasi soal paparan Mochamad Iriawan tentang rencana pemain naturalisasi, Indra Sjafri kembali mengelak. “Saya tidak tahu itu. Saya setiap hari berkoordinasi dengan ketum. Gak pernah pak ketum sampaikan itu ke saya. Pak Endri (Erawan) saksinya. Belum pernah pak ketum sampaikan ke saya ada rencana untuk lakukan hal yang disampaikan,” ujar dia.

Lantas sekarang publik harus percaya kepada siapa kalau saling lempar? Drama ini tampaknya hanya akan terjawab oleh waktu. Nanti saat Piala Dunia U-20 2021 semakin dekat, pasti akan terlihat, apakah PSSI benar tak akan menaturalisasi pemain-pemain muda Brasil itu, atau malah sebaliknya?

Lagi pula untuk mendapatkan status WNI, tak semudah membalikkan telapak tangan. Dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang “Kewarganegaraan Republik Indonesia” dijelaskan Pasal 1 ayat 3, soal syarat naturalisasi. Beberapa di antaranya, bisa berbahasa Indonesia dan mengakui UUD 45. Lalu, sudah tinggal di wilayah NKRI paling singkat 5 tahun berturut-turut atau 10 tahun tidak berturut-turut.

Pertanyaannya, apakah lima pemain belia Brasil itu bisa bahasa Indonesia? Apakah lima pemain belia Brasil itu sudah tinggal di NKRI paling singkat 5 tahun berturut atau 10 tahun tak berturut-turut? Mereka saja baru kali ini terlihat di Indonesia.

Menpora Zainudin Amali, menjelaskan kalau pemerintah memang memiliki beberapa persyaratan mendorong proses naturalisasi atlet untuk prestasi. “Tentu keinginan klub itu (untuk naturalisasi) akan dipertimbangkan terlebih dahulu oleh pimpinan cabor masing-masing (dalam hal ini PSSI) sebelum dimohonkan ke Pemerintah dan terakhir tentu harus disetujui oleh DPR karena ini menyangkut kewarganegaraan seseorang,” papar dia.

Seyogyanya, memang lebih bangga Indonesia tak sesuai target tapi dengan putra-putra bangsa sendiri. Ketimbang beprestasi tapi dengan bayang-bayang pemain naturalisasi. Padahal PSSI sudah menjalankan program sangat istimewa melalui Garuda Select.

Garuda Select - Bagus Kahfi - Huddersfield - @programgarudaselect

Para pemain Garuda Select itu dipilih dari penggawa-penggawa potensial yang mentas di Elite Pro Academy. Lalu mereka dipoles oleh sosok kenamaan Dennis Wise dan Des Walker. Mereka jua ditempa mentalnya dengan main di Inggris dan Italia melawan klub-klub muda yang punya nama di sana. Paling tidak, para pemain itu sudah punya gambaran melawan para penggawa Eropa yang secara postur pasti lebih tinggi.

Atau kalau mau lebih meyakinkan lagi, panggil pulang saja beberapa pemain keturunan di luar negeri setelah Elkan Baggott dan Jack Brown. Ada banyak nama pemain blasteran yang tampil apik di Benua Biru. Contoh saja Joseph Simatupang Ferguson yang sudah memainkan enam pertandingan di Premier League U-18 bersama Blackburn Rovers dan mencetak satu assist musim ini.

Darren Sidoel jua bisa dilirik. Pemain yang baru saja diperkenalkan klub Spanyol, Cordoba CF itu menarik dicoba. Karena dia pernah memperkuat Ajax sejak U-16, U-19, hingga U-21. Penampilan terbaiknya saat dia membela Ajax U-19 dengan mencetak dua gol dari 24 laga.

So, sekarang semua keputusan ada di PSSI. Mau pakai naturalisasi? Tak perlu gengsi. Tapi, jangan sampai naturalisasi jadi penghampus mimpi para pemain bangsa sendiri yang berambisi membawa negeri terbang ke level tertinggi.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More