KOLOM: Persiraja, Simbol Kegilaan Rakyat Aceh pada Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Satu dekade lebih waktu yang dibutuhkan Persiraja Banda Aceh untuk kembali mentas di kasta tertinggi Indonesia. Selama itu pula rakyat Aceh menunggu untuk melihat tim kebanggaan main lagi di tempat semestinya.

Sepak bola tidak bisa lepas dari kehidupan rakyat Aceh secara keseluruhan. Kegilaan mereka pada olahraga sejuta umat ini mungkin bisa dibilang satu tingkat di atas provinsi lainnya di Indonesia.

Lapangan sepak bola bertebaran dari pelosok satu ke pelosok lainnya. Pagi atau sore hari, mulai dari anak kecil hingga orang dewasa, baik yang pakai sepatu atau tidak, semua datang ke lapangan untuk bermain bola.

Di sisi yang berbeda, kedai kopi yang berjejer di seluruh kota juga tak pernah sepi dari para pecinta bola yang ingin menyaksikan pertandingan lewat layar kaca. Tidak peduli malam atau dini hari, sepak bola selalu jadi teman warga untuk menikmati malam lebih lama.

Gila Bola dan Kedai Kopi sebagai Identitas

Aceh News

Makin terbatasnya akses liga-liga top Eropa tidak membuat rakyat Aceh kehabisan akal untuk terus nonton bola. Ya, keterbatasan akses itu mampu diredam oleh kedai-kedai kopi di sana.

Para pemilik kedai tak sungkan mengeluarkan uang lebih untuk berlangganan TV berbayar. Dan para pecandu si kulit bundar pun tak pernah ragu untuk keluar tengah malam meniggalkan istri, anak, atau orang tua, hanya untuk nonton bola.

Tentu budaya nonton bareng (nobar) ada di seluruh penjuru Indonesia. Tapi di daerah lain mungkin itu dilakukan terorganisir, melalui fanbase-fanbase klub yang memang rutin mengadakannya.

Tapi di Aceh, kita tidak perlu pusing bertanya pada fanbase sebuah klub jika ingin nonton bola. Datang saja ke kedai kopi, di mana pun itu, pasti ada pertandingan sepak bola yang menyapa kita lewat layar raksasa.

Ini merupakan dua contoh bagaimana rakyat Aceh sangat gila sepak bola. Sama seperti mereka gila dengan budaya ngopinya yang tak kenal waktu itu. Mungkin ini terkesan berlebihan. Tapi kalian bisa buktikan sendiri.

Sayangnya, kegilaan tersebut tidak diikuti dengan kiprah beberapa klubnya di pentas nasional. Padahal, di provinsi yang disebut sebagai Serambi Mekah memiliki beberapa klub yang sempat malang melintang di kompetisi nasional. Selain Persiraja Banda Aceh, ada pula PSLS Lhokseumawe, PSBL Langsa, PSAP Sigli, dan PSSB Bireuen.

Hanya Persiraja

Akan tetapi, dari kelima klub tersebut hanya Persiraja yang namanya masih harum sampai sekarang. Sisanya? Entah ke mana.

Kendati memiliki banyak klub, tetap saja Persiraja menjadi kebanggaan orang Aceh. ya, orang Aceh secara keseluruhan, bukan hanya Banda Aceh. Padahal jarak kota Banda Aceh dengan beberapa kota di atas cukup jauh. Tapi inilah yang dinamakan solidaritas satu daerah.

Persiraja Banda Aceh sama halnya PSMS Medan yang jadi kebanggaan Sumatera Utara, Sriwijaya FC yang selalu dibanggakan warga Sumatera Selatan. Begitu pun dengan Persipura Jayapura yang jadi identitas Papua, atau Semen Padang yang jadi kebanggaan Sumatera Barat.

Saya bukanlah orang Banda Aceh. Pergi ke ibu kota Provinsi saja masih bisa dihitung dengan jari. Tidak pernah pula saya nonton Persiraja main langsung di stadion. Saya lahir dan besar di Cot Girek, sebuah desa terpencil yang ada di pedalaman Lhoksukon, Aceh Utara. Untuk datang ke Banda Aceh dibutuhkan waktu setidaknya 7 jam perjalanan darat.

Akan tetapi, dukungan saya pada tim berjuluk Lantak Laju bukan karena PSLS Lhokseumawe yang hancur lebur. Tapi karena memang Persiraja merepresentasikan semangat juang rakyat Aceh.

Perjuangan Panjang Berujung Kemenangan

Klub ibu kota provinsi Aceh terakhir kali tampil di kompetisi teratas Indonesia pada 2007 silam. Sempat promosi beberapa tahun setelahnya, harapan untuk naik lagi ke atas buyar begitu saja seiring dualisme kompetisi di Indonesia.

Fandom

Persiraja tidak patah semangat. Mereka terus berkompetisi di kasta kedua. Sementara empat klub Tanah Rencong lainnya sudah hilang entah ke mana.

Musim lalu, Mukhlis Nakata dkk sempat lolos ke delapan besar Liga 2. Bermodalkan hasil tak terkalahkan di kandang, mereka lolos sebagai runner-up wilayah Barat. Mereka tertinggal empat poin dari Semen Padang yang berada di puncak, yang kemudian promosi ke Liga 1 2019.

Musim ini Persiraja melaju ke delapan besar dengan catatan lebih mentereng. Berstatus juara grup wilayah Barat dengan menyapu bersih semua laga kandang dengan kemenangan. Anak asuh Hendri Susilo juga tak pernah kalah di delapan besar hingga akhirnya menembus semifinal.

Kalah adu penalti dengan Persik Kediri membuat juara Perserikatan 1985 silam itu harus menghadapi laga hidup mati melawan Sriwijaya FC yang lebih berpengalaman. Namun, semangat juang anak-anak Aceh membuat mereka menang 1-0 lewat gol tunggal Assanur di awal babak kedua.

Talenta Tanah Rencong

Kini mimpi rakyat Aceh melihat perwakilannya di Liga 1 sudah terwujud. Persiraja Banda Aceh dipastikan tampil di Liga 1 2020 bersama dua tim klasik lainnya, Persita Tangerang dan Persik Kediri.

Walau membutuhkan waktu yang cukup panjang untuk melihat klub Aceh di kompetisi paling bergengsi, bukan berarti tidak ada pemain Serambi Mekkah yang unjuk gigi kasta tertinggi selama ini.

Kita semua tahu siapa Ismed Sofyan. Kapten Persija Jakarta yang lahir di Tualang Cut, Aceh Timur, adalah putra terbaik Aceh di sepak bola. Bakat-bakat Aceh sempat jalan di tempat setelah era Ismed dan Irwansyah, tapi sekarang Serambi Mekkah tidak kekurangan pemain terbaiknya di berbagai lini.

Ada Fitra Ridwan di Persija Jakarta, Miftahul Hamdi di Bali United. Juga Syakir Sulaiman yang sempat berkostum Sriwijaya FC, Bali United, dan Persiba Balikpapan. Selanjutnya, Miswar Saputra kiper andalan Persebaya Surabaya, atau dua penggawa timnas Indonesia. Hingga, Zulfiandi dan Teuku Muhammad Ikhsan, serta beberapa pemain lainnya.

Nama-nama ini jadi bukti sahih bahwa sepak bola Aceh tak pernah benar-benar mati. Mereka-mereka inilah yang selama ini mengharumkan nama Aceh lewat permainan apik di lapangan.

Kendati putra-putra terbaik sudah berpencar ke sejumlah klub, bukan berarti Persiraja tidak punya bintang panutan. Ada Mukhlis Nakata, legenda yang sudah memperkuat Tim Lantak Laju sejak 2007 silam.

Selain Mukhlis, Persiraja juga diperkuat Defri Riski, winger yang pernah mengharumkan Indonesia saat membawa timnas U-19 juara Piala AFF 2013. Jangan lupakan pula Feri Komul, bek tangguh yang pernah memperkuat Persija Jakarta medio 2013 hingga 2016.

Suara

Tiga nama ini adalah putra asli Aceh yang sudah lama bermimpi membawa Persiraja main di Liga 1. Tak ayal, keberhasilan naik kasta musim depan membuat sang kapten, Mukhlis Nakata, berderai air mata. Tepatnya sesaat setelah wasit meniup peluit tanda berakhirnya pertandingan.

Pulanglah Ismed

Kelolosan klub yang bermarkas di Stadion Haji Dimurthala itu membuat saya berandai-andai. Mungkinkan para putra terbaik Aceh kembali ke klub kebanggaan rakyat Aceh ini?

Saya teringat pada Bali United ketika pertama kali terbentuk pada 2015 lalu. Saat itu pemain-pemain seperti I Gede Sukadana, I Made Wirahadi, dan I Putu Gede pulang memperkuat klub kampung halamannya.

Kepulangan mereka ke Bali United memang tak lepas dari ketiadaan klub asal Pulau Dewata lain di kasta tertinggi Indonesia. Kini, dengan situasi yang nyaris serupa, mungkinkan Fitra Ridwan, Zulfiandi, TM Ikhsan, dan Miswar Saputra pulang untuk berseragam Persiraja musim depan?

Atau sudikah Ismed Sofyan kembali mengabdi untuk klub yang turut membesarkan namanya itu? Tentu sangat indah rasanya jika pemain yang akrab dengan nomor 14 itu menutup karier panjang di rumah yang sebenarnya.