Kolom: Rumput Tetangga Memang Jauh Lebih Hijau

Football5Star.com, Indonesia – Rumput tetangga lebih hijau. Sering kita mendengar ujar-ujar tersebut. Singkat tetapi bermakna dalam. Peribahasa yang selalu dilontarkan saat kita mulai merasa tidak puas dengan apa yang sudah kita miliki.

Kiasan itu muncul saat ada perasaan iri dengan orang lain. Ungkapan yang dikatakan saat kita mulai tidak nyaman dengan segala sesuatu yang melekat dalam diri kita.

Nyatanya itu yang mendera sepak bola Indonesia. Sudah beberapa bulan terakhir, berita pemain Indonesia yang memilih hijrah ke negeri tetangga menghiasi nyaris semua media-media olahraga di Tanah Air.

Dari mulai Ryuji Utomo ke Penang FC, Todd Rivaldo Ferre gabung Lampang FC, hingga Syahrian Abimanyu yang diresmikan Johor Darul Takzim. Belum lagi, sejumlah nama seperti Asnawi Mangkualam yang dirumorkan ke Ansan Greeners, Saddil Ramdani yang selangkah lagi gabung Sabah FC, hingga Stefano Lilipaly yang diburu sejumlah klub Malaysia.

Entah ini berita membahagiakan atau justru sebaliknya. Apakah mereka yang hijrah memang sudah tak memiliki masa depan di sepak bola Indonesia? Perkara gaji, sebenarnya klub-klub Indonesia berani bersaing dengan tim luar negeri.

Bahkan, Ansan Greeners, mengklaim kalau Asnawi Mangkualam rela digaji tak terlalu besar demi bermain di K-League 2. Hal itu diakui sendiri oleh manajemen Ansan, Joo Chan-yong.

“Asnawi menerima gaji tahunan sebesar milyaran di Indonesia. Tapi dia rela memangkas gajinya ketika datang ke K-League. Keadaan tim kami tidak bisa memberi banyak, tetapi Asnawi memiliki keinginan kuat untuk menantang K-League. Dia datang ke Korea dengan mimpi besarnya” ungkap Chan-yong dikutip dari Naver.

Tak cuma pemain lokal, legiun import Indonesia pun antre untuk hijrah ke negara tetangga. Malaysia contohnya, klub-klub di sana berhasil mendaratkan, nama seperti David da Silva, Makan Konate, Diogo Campos, sampai Alex Goncalves.

Lantas apa penyebabnya? Tak lain dan tak bukan jelas kompetisi Indonesia yang masih mati suri. Menikmati hiburan si kulit bundar di Indonesia memang kini jadi tontonan yang langka.

Covid-19 bukan cuma melanda Indonesia, tapi dunia. Namun, cuma di Tanah Air saja yang sepak bolanya berhenti akibat pandemi. Kata-kata “Sepak bolanya, Pak” dari Presiden Joko Widodo kepada Menpora Zainudin Amali saat kali pertama ditunjuk seakan menguap begitu saja.

Indonesia Sempat Jadi Primadona

Ketidakjelasan kompetisi di Indonesia pun melatari para pemain pergi. David Da Silva salah satunya. Pemain asal Brasil itu memilih pergi dan bergabung dengan Terengganu FC karena belum jelasnya nasib Liga 1.

“Situasi ini tidak baik bagi saya. Sudah sepuluh bulan saya tidak bermain. Saya harus melangkah. Tidak bisa menunggu situasi ini,” beber David dalam laman resmi Persebaya beberapa waktu lalu.

Padahal kalau menarik mundur dua dekade ke belakang, sepak bola Indonesia punya daya tarik tersendiri di Asia Tenggara. Pemain dari negara-negara ASEAN berbondong-bondong mencari nafkahnya di sini.

Dok. Detik

Tak kurang dari 20 pemain ASEAN hijrah ke Indonesia. Mulai dari pemain Malaysia, Safee Sali di Pelita Jaya, Muhammad Ridhuan dan Noh Alam Shah bersama Arema. Lalu, Pradit Taweechai, Nipont Chanarwut, Suchao Nuchnum, dan Sinthaweechai Hathairattanakool di Persib. Mustafic Fachruddin, Precious Emuejeraye, Baihakki Khaizan dan Agus Casmir di Persija, hingga beberapa nama, seperti Khairul Amri, Shahril Ishak, dan Itimi Dickson.

Foto: indosport.com

Lantas, sampai kapan? Rumput kita sebenarnya sama-sama hijau, tapi yang membedakannya hanyalah tanahnya, cocok ditanami atau tidak.

*Tulisan ini murni opini pribadi, tanpa bermaksud menyinggung pihak tertentu

david da silvaLiga 1Liga 1 2021makan konateRyuji UtomoSaddil Ramdani