Kolom: Tak Usah Mikir Piala Dunia, Main Bola Saja Susah!

Football5Star.com – Penampilan Timnas Indonesia yang babak belur di Kualifikasi Piala Dunia 2022 sepertinya merupakan cermin dari bagaimana sepak bola diperlakukan. Bagaimana tidak, sepak bola di negeri ini selalu kalah dengan isu-isu politik yang terjadi.

Sepanjang 2019 ini, situasi politik Indonesia memang tak menentu. Dimulai dari Pemilu, sepak bola Indonesia dipaksa untuk mengalah demi menghormati hajatan akbar pesta demokrasi itu. Akhirnya, kick-off Liga 1 yang direncanakan dihelat Maret, harus mundur jauh pada 15 Mei 2019 lalu.

Kini belakangan muncul isu-isu lainnya yang berkaitan dengan kebijakan politik. Aksi demo yang melakukan protes kepada kebijakan itu, hingga menjelang pelantikan Presiden dan Wakil Presiden periode 2019-2024 jadi alasan.

Antara Foto

Sepak bola lagi-lagi jadi korban. Terhitung sejak akhir September hingga Oktober, ada tujuh laga yang harus mengalah karena alasan izin keamanan. Suporter sepak bola seperti dianggap sebagai elemen berbahaya yang mengancam.

Pada 2013, hal yang nyaris serupa sempat menimpa Bangkok, Thailand. Protes anti-pemerintahan terjadi yang dikomandoi oleh Organisasi Masyarakat Reformasi Demokrasi (PDRC). Protes itu bahkan sempat bikin pihak keamananan mengevakuasi Perdana Menteri Yingluck Shinawatra.

Situasinya mirip dengan Indonesia. Pendemo awalnya menolak RUU amnesti yang bisa membuat mantan PMnya, Thaksin Shinawatra kembali. Demo tersebut bahkan berlangsung sejak November 2013 hingga 2014 akibat krisis politik.

Akan tetapi, nyatanya Thai League 1 tetap terlaksana sesuai jadwal. Pekan perdana musim 2014 tetap dihelat pada 22 Februari 2014. Malahan, hingga pekan ke-38, sama sekali tak ada penundaan jadwal meski situasi politik di negara tersebut tak kondusif.

Sepak Bola Pemersatu

Padahal, sepak bola merupakan alat pemersatu bangsa. Presiden Joko Widodo, pada 24 Januari 2017 lalu jua pernah mengungkapkan kalau sepak bola merupakan olahraga yang menyatukan.

“Kita semua melihat bahwa sepak bola merupakan olah raga yang digemari berbagai kalangan masyarakat. Namun juga sepak bola bisa menyatukan kita, menyatukan bangsa Indonesia,” kata Presiden Jokowi saat memimpin rapat terbatas Kabinet Kerja di Kantor Kepresidenan, dikutip dari Beritasatu.com.

Akan tetapi, yang terjadi malah sebaliknya. Sepak bola Indonesia justru kembali ke abad kedelapan saat Inggris menggunakan olahraga ini bak perang. Kala itu Inggris menjadikan sepak bola semacam kepentingan pelampiasan kepada Skotlandia.

Raja Edward II menyebut sepak bola sebagai pemainan setan yang dibenci Tuhan. Karena itu, pada 13 April 1314, dia melarang kaum bangsawan untuk memainkan sepak bola. Lantas, apakah sepak bola Indonesia justru kembali ke masa itu?

Menurut Budiyono (2007) yang dikutip dari jurnal penelitian Universitas Indonesia atas nama Rokhmat Taufiq Hidayat menyebut, sepak bola sangat ampuh menjadi pendamai. Itu dibuktikan di semenanjung Korea, yaitu sebelum Piala Dunia 2002 digelar di Korea Selatan. Sejak lama Korea Utara dan Korea Selatan terlibat konflik terbuka. Berbagai upaya dialog dilakukan, tetapi hasilnya masih minim.

Namun pada 2002, di mana Korea Selatan akan menjadi tuan rumah Piala Dunia, dialog yang sempat berhenti kembali mencair setelah tim nasional kedua negara melakukan pertandingan persahabatan menjelang digulirkannya Piala Dunia 2002 di Korea Selatan dan Jepang.

Bahkan, Korsel dalam waktu dekat untuk kali pertamanya akan bertandang ke markas Korut, Pyongyang dalam laga Kualifikasi Piala Asia Grup H. Itu adalah kali pertama Korut menjamu Korsel dalam 30 tahun terakhir.

Hal itulah yang harusnya menjadi renungan untuk pihak-pihak terkait yang menganggap sepak bola seperti hal menakutkan. Maka, jangan lah memandang jauh, mengharapkan Timnas Indonesia bisa menembus Piala Dunia, kalau bermain di negeri sendiri saja susah.

Comments
Loading...