[KOLOM] Timnas U-19 Indonesia Tak Usah Lagi Lawan Klub Kroasia

Football5Star.com, Indonesia – Empat gol tanpa balas. Memang luar biasa timnas U-19 Indonesia asuhan Shin Tae-yong. Menghadapi tim U-19 Hajduk Split, Selasa (20/10/2020), David Maulana cs. mampu memetik kemenangan 4-0. Itu kemenangan terbesar selama mereka melakukan uji tanding dalam pemusatan latihan di Kroasia.

Tak heran bila Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, begitu gembira. “Luar biasa kemenangan timnas U-19 atas Hajduk Split. Lawan merupakan tim papan atas di Liga Kroasia,” kata dia di laman resmi PSSI.

Pak Ketum tidak salah. Hajduk Split adalah salah satu klub teras Kroasia. Di kompetisi U-19, 1. HNL Juniori, mereka juga tengah memimpin klasemen dengan hasil sempurna, 27 poin dari 9 laga. Kebanggaan yang dilontarkan pun sah-sah saja. Bagaimanapun, mencetak 4 gol ke gawang lawan bukanlah hal mudah.

Akan tetapi, bila dicermati, kebanggaan yang timbul dari kemenangan itu tak perlu berlebihan, apalagi diglorifikasi. Memang benar, permainan dan hasil akhir yang diraih anak-anak asuh Shin Tae-yong harus diapresiasi tinggi. Namun, kita tetap harus menempatkan semuanya pada porsi yang tepat dan benar.

Tim yang dihadapi timnas U-19 Indonesia pada Selasa lalu bukanlah pemimpin klasemen 1. HNL Juniori. Tak ada sang pencetak gol terbanyak, Marin Ljubicic. Tak ada pula gelandang yang masuk daftar “The Next Generation” versi The Guardian, Ivan Cubelic.

Bila ditelusuri, tim yang dihadapi David Maulana dkk. sebenarnya adalah tim Juniori 2 alias tim U-18. Indikasi paling kuat, lihatlah sosok pelatih yang mendampingi tim pada laga itu. Dia adalah Ivan Vukasovic, bukan Marijan Budimir. Di laman resmi Hajduk Split, dia tercantum sebagai pelatih Juniori 2 alias U-18. Skuat yang dibawa pun gado-gado. Tiga orang dari Hajduk Split II. Tentu masih berumur 18 tahun.

Hajduk Split dan Dinamo Zagreb Mengecewakan

Tak seperti tim Juniori yang ditangani Marijan Budimir, tim asuhan Vukasovic tak mengikuti kompetisi apa pun. Tim ini tak lebih dari tim reserve bagi tim Juniori dan menjalani laga saat ada uji tanding. Artinya, tim ini jelas tak punya soliditas apik untuk memberikan ujian bagi timnas U-19.

Fakta ini jelas mengecewakan. Tadinya, ketika Hajduk Split diumumkan sebagai lawan pengganti timnas U-19 Bosnia & Herzegovina, ada harapan besar. Satu hal yang terbayang, ketangguhan Elkan Baggott dan lini pertahanan timnas U-19 Indonesia akan diuji oleh Marin Ljubicic, pemain tersubur di 1. HNL Juniori saat ini. (BACA: Timnas U-19 vs Hajduk Split, Elkan Baggott Ditantang Marin Ljubicic)

Sebelumnya, hal serupa juga dilakukan Dinamo Zagreb pada akhir September lalu. Kala itu, meskipun tetap ditangani Andrej Miokovic, tim U-19 Dinamo Zagreb tak turun dengan kekuatan inti. Jangankan Ivan Saranic, Martin Baturina, Fran Tomek, dan Bartol Barisic, kiper kedua pun tak diturunkan pada laga lawan timnas U-19.

Putusan kedua klub teras Kroasia itu memang dapat dimengerti. Dinamo Zagreb menurunkan tim lapis kedua, bahkan lapis ketiga, karena dua hari sebelumnya baru menjalani laga di 1. HNL Juniori. Jeda dengan laga lawan Garuda Muda tak sampai 48 jam. (BACA: Dinamo Zagreb Turunkan Lapis Kedua Saat Lawan Timnas U-19?)

Adapun untuk Hajduk Split, alasan yang paling masuk akal, kesepakatan melawan tim asuhan Shin Tae-yong muncul hanya sehari sebelum pertandingan. Di tengah perjalanan kompetisi, apalagi mendekati laga klasik melawan Dinamo Zagreb, pelatih Marijan Budimir tentu tak mau mengambil risiko.

Timnas U-19 Perlu Lawan Lebih Kuat

Terlepas dari hal itu, langkah Dinamo Zagreb dan Hajduk Split sebetulnya telah mengecewakan dan merugikan timnas U-19 Indonesia. Alih-alih menghadapi tim utama yang dapat memberikan ujian berat, tim asuhan Shin Tae-yong hanya melawan tim pelapis yang kemampuannya biasa-biasa saja.

Bercermin dari hal itu, sepertinya timnas U-19 Indonesia tak perlu lagi melawan klub Kroasia pada sisa pemusatan latihan di negeri itu. Seperti diketahui, masih ada dua slot uji tanding, yaitu pada 23 dan 26 Oktober. Hingga kini, belum ada kejelasan soal lawan yang akan dihadapi Elkan Baggott cs.

Seiring perjalanan pemusatan latihan, seharusnya lawan-lawan yang dihadapi semakin kuat. Ini sangat penting untuk benar-benar mengukur perkembangan yang terjadi di tim, baik dari segi fisik maupun taktik.

Sangat tepat yang diungkapkan Iwan Fals pada 16 Oktober lalu. Kala itu, di akun Twitter-nya, dia berujar, “Pengen liat timnas (U-)19 lawan Kroasia atau Bulgaria lagi.”

Tentu tak akan mudah menemukan lawan seperti itu. Apalagi saat ini manajemen timnas dan PSSI ibarat berkejaran dengan waktu untuk menemukan lawan bagi Garuda Muda. Opsi pun terbatas. Sepertinya hanya tim-tim dari kawasan Balkan yang mungkin diundang ke Split.

Pelajaran untuk PSSI

Persoalan uji tanding ini hendaknya jadi pelajaran bagi PSSI untuk masa mendatang. Harus ada perencanaan yang matang, jangan asal ada lawan saja. Dalam kerangka persiapan tim, sangat penting menentukan lawan uji tanding sesuai dengan kondisi tim. Kemenangan bukanlah hal utama. Hal terpenting adalah sebanyak apa pelajaran yang bisa dipetik.

Pada pemusatan latihan di Kroasia, lawan-lawan uji tanding justru terbalik. Pada tahap awal, ketika tim tak siap, timnas U-19 Indonesia justru berhadapan dengan lawan kuat, yakni timnas U-19 Bulgaria, timnas U-19 Kroasia, dan timnas U-19 Arab Saudi dalam sebuah turnamen mini. Berikutnya, lawan yang dihadapi justru bisa dikatakan lebih ringan dibanding mereka.

pssi.org

Penentuan lawan uji tanding juga bisa disesuaikan dengan kebutuhan pelatih terkait taktik. Misalnya, untuk menguji lini serang, tentu dibutuhkan lawan dengan kualitas pertahanan apik. Sebaliknya, untuk menguji lini belakang, perlu lawan dengan lini depan mumpuni.

Lawan uji tanding juga bisa dipilih berdasarkan tipe permainan berbeda-beda untuk menguji fleksibilitas tim dalam menghadapi ragam kesulitan di lapangan. Bagaimanapun, pada Piala Dunia U-20 nanti, kita akan menghadapi lawan dengan tipe permainan yang tak seragam.

Lalu, apakah timnas U-19 Indonesia tak boleh menghadapi tim-tim semenjana atau bahkan lemah? Tentu saja tidak ada yang tidak boleh. Lawan-lawan semacam ini diperlukan ketika mentalitas tim perlu didongkrak. Misalnya pada akhir masa persiapan, tepat sebelum mengikuti turnamen. Perlu diingat, kemenangan akan mendongkrak kepercayaan diri dan mentalitas tim, juga para pemain.

Shin Tae-yongtim U-19 Dinamo Zagrebtim U-19 Hajduk SplitTimnas U-19 Indonesia