KOLOM Timo Scheunemann: Tidak Ada yang Tidak Bersalah dalam Sepak Bola Indonesia

Oleh: Timo Scheunemann (Pelatih dan Pemerhati Sepak Bola)

Football5star.com, Indonesia – Ramai diperdebatkan pergantian pemain oleh coach Simon yang malah semakin melemahkan lapangan tengah, atau pemilihan kiper, dan lain-lain, Jumat (6/9/2019). Menurut saya kita belum sampai di level itu.

Menyalahkan pihak-pihak tertentu secara spesifik adalah hak negara yang sepak bolanya sudah maju. Kita masih di level “semua bersalah”. Maksud saya begini.

Pemain menyalahkan klub karena kerap kurang profesional, tapi pemain sendiri rata-rata masih tidak memperhatikan konsumsi dan porsi istirahat sesuai kebutuhan atlet. Ibarat Ferrari yang diisi bensin oplosan. Ora iso ngono.

Klub menyalahkan pemain tapi klub masih sering tidak memberikan hak pemain dan tidak mendidik pemainnya sendiri. Mengeluhkan kemampuan taktis dan kedisiplinan pemain tapi klub sendiri masih jauh dari total membina akademi. Scout profesional tidak ada. Setelah liga banyak yang dibubarkan. Ora iso ngono.

Penonton minta klub punya tim bagus , menang, juara tapi masih sering anarkis dan teralu ikut campur internal klub. Ora iso ngono. Pelatih mengeluh soal ini itu tapi banyak yang tidak mau belajar.

Padahal peningkatan pemahaman soal taktik, psikologi pemain, kepemimpinan, atau sport science sangat perlu dilakukan pelatih kita. Sudah ada Youtube, sudah ada Google, ilmu sudah semakin gampang dicari. Ora iso ngono. You get the point.

Kalau dilanjut pihak pemerintah, federasi, juga wartawan, semua masih memiliki banyak ruang untuk berkembang. No one is innocent. Sebelum itu dilakukan kita masih “kalah bersama”. Kekalahan vs Malaysia adalah kekalahan kita bersama, tanggung jawab kita bersama.

Bukan tanggung jawab Kiper yang tampil kurang meyakinkan, bukan tanggung jawab bek kanan yang salah posisi di gol ketiga, bukan tanggung jawab pelatih yang kurang beruntung dalam melakukan pergantian pemain. No, my friend, ini tanggung jawab kita bersama.

Comments
Loading...