Kurnia Sandy: Peran Aburizal Bakrie dan Kegagalan di Sampdoria

Football5star.com, Indonesia – Pertemuan antara Aburizal Bakrie dengan penguasa asal Italia Enrico Ercolani di Jakarta pada Agustus 1992 menjadi awal perjalanan karier sejumlah pesepak bola muda Indonesia salah satunya kiper Pelita Jaya saat itu Kurnia Sandy mencicipi pentas Serie A Italia.

Saat itu, Ercolani memiliki hubungan yang sangat baik dengan pemilik Sampdoria saat itu Paolo Mantovani. Dalam pertemuan dengan Aburizal Bakrie, tercipta komunikasi tentang keinginan sepak bola Indonesia menjadi tim kuat jelang perhelatan Olimpiade 1996.

“Saat pertemuan tersebut, mereka mulai berbicara tentang sepak bola dan tuan Bakrie bertanya kepada Ercolani apakah dia memiliki kontak dengan klub Italia,” kata anak dari Mantovani, Enrico Mantovani seperti dikutip Football5star.com dari Ghanasoccer, Selasa (24/12/2019).

Kurnia Sandy Cerita Pengalaman Dilatih Sven-Goran Eriksson
ghanasoccer.net

Dilanjutkan oleh Enrico, Ercolani kemudian berkomunikasi dengan ayahnya tentang pembicaraan tersebut. “Ia menjelaskan ke ayah saya tentang impian tuan Bakrie mengirim tim muda Indonesia untuk berlatih di Italia,” ucapnya.

Yang terjadi kemudian di luar ekpektasi Aburizal Bakrie. Pembicaraan itu ditanggapi secara serius oleh Mantovani. Bahkan ia sempat melemparkan gagasan tersebut ke pejabat di FIGC. Federasi Italia ini pun menyambut positif ide tersebut.

“Bersama mereka kami kemudian merencanakan proyek membawa tim U-19 Indonesia ke Campionato Primavera sebagai tim tamu. Ini berarti mereka akan bermain dengan klub seperti Juventus, Parma, Torini, Bologna”

Dari sinilah Kurnia Sandy yang saat itu masih berusia 17 tahun jadi salah satu pemain yang diproyeksi untuk berangkat ke Italia dan bergabung dengan skuat Sampdoria. Il Samp saat itu diperkuat pemain besar seperti Gianluca Vialli, Roberto Mancini dan Attilio Lombardo dan dilatih oleh Sven Goran Eriksson.

Bersaing dengan Ferron dan Sereni

Kurnia Sandy lahir di Semarang pada 24 Agustus 1975. Kemampuannya sebagai kiper muda tak lepas dari tangan diri seorang pelatih kiper kawakan Herman Kadiaman. Tak mengherankan jika kemudian ia menjadi kiper andalan untuk Pelita Jaya.

Tim berjuluk Young Guns tersebut dibela Kurnia Sandy selama semusim yakni 1994/95. Di akhir musim itu, Kurnia Sandy yang sudah masuk ke tim Primavera PSSI terbang ke Italia bersama pemain muda lainnya saat itu seperti Kurniawan Dwi Yulianto dan Bima Sakti.

Proyek yang direncanakan Aburizal Bakrie dan Ercolani pada tahun 1996 mulai dijalankan. Tiba di Italia, Kunia Sandy dan kawan-kawan langsung ditangani oleh sosok Romano Matte, pelatih yang fokus pada pembinaan pemain muda di klub Italia.

Pusing Karena 2 Pemain Absen, Pelatih Kiper Madura United Ingin Main Lagi

Dari data yang dihimpun Football5star.com, selama di Italia, para pemain muda Indonesia ini melakoni 26 pertandingan, hasilnya mereka mampu mencetak 7 kemenangan dan imbang 8 kali. Hasil ini jadi modal untuk PSSI memanggil pulang mereka dan mengikuti babak kualifikasi Olimpiade 1996. Sayangnya hasilnya negatif.

Yang menarik kemudian adalah kenangan dari Mantovani tentang sosok Kurnia Sandy. Menurutnya, ia saat itu bersikeras kepada pelatih kiper Sampdoria Pietro Battara soal kesempatan agar Kurnia Sandy bisa menjadi kiper ketiga.

“Pada awal musim 1996/97, kami harus memutuskan kiper pilihan ketiga. Ada Fabrizio Feron, Matteo Sereni, dan Kurnia Sandy. Saya mengatakan kepada Battara agar bisa memilih Kurnia Sandy. Ini akan jadi pesan penting untuk mitra kami di Indonesia.” kenang Mantovani.

Saat itu, Mantovani menyebut bahwa dirinya sangat yakin Kurnia Sandy punya potensi besar. Namun Pietro Battara menyebut bahwa ia akan memilih Kurnia Sandy jika memang memiliki keterampilan teknis.

“Saya sangat mempercayai Pietro dan dia meyakini saya bahwa Kurnia Sandy memiliki segala kemampuan untuk bisa menjadi kiper pilihan ketiga,” ucapnya.

Terkendala administrasi dan pulang ke Pelita Jaya

Kurnia Sandy sendiri sempat mengakui bahwa dirinya hampir mendapat kepercayaan dari Battara. Ia menyebut Battara sangat ingin saya bisa jadi kiper ketiga Il Samp.

“Pietro Battara ingin saya menjadi kiper pilihan ketiga bagi Sampdoria setelah saya bermain bagus untuk tim nasional dalam pertandingan persahabatan dengan mereka,” ucap Kurnia. “Saat itu kami menang dan saya bermain baik sehingga saya kembali ke Italia.”

Malah Kurnia hampir bisa jadi kiper ketiga Sampdoria. Sayangnya masalah adminstrasi yang membuatnya Kurnia Sandy gagal menembus tim utama.

“Pada satu titik, kiper pilihan pertama kami, Ferron terluka dan Sereni berada di starting XI. Saya akan berada di bangku cadangan tetapi masalah birokrasi yang membuat saya gagal,” kenang Kurnia.

Setahun kemudian, mau tak mau Kurnia pun kembali ke Indonesia. Ia melanjutkan karienrya di Pelita Jaya. Kurnia mengakhiri kariernya di Bandung FC pada 2012. Setelah sempat menderita penyakit, kini eks kiper Persik Kediri itu menjadi pelatih kiper untuk timnas Indonesia.

Comments are closed.