Laszlo Kubala, Penyintas Rezim Komunis dan Tragedi Superga

Football5star.com, Indonesia – Legenda Barcelona, Laszlo Kubala mungkin pantas menyandang sebagai salah satu pesepak bola paling beruntung di dunia sepak bola. Pasalnya, ia menjadi penyintas rezim komunis Hungaria dan tragedi kecelakaan pesawat yang menewaskan skuat Torino pada 1949.

Meskipun berasal dari Hungaria, Kubala bukanlah bagian dari skuat The Mighty Magyars yang mendominasi dunia sepak bola internasional pada periode 1950an. Pasalnya, Kubala memutuskan pergi dari Hungaria yang dikuasai rezim komunis pada 1946. Ia sempat berpindah pindah dari Austria, Cekoslovakia sebelum akhirnya datang ke Italia pada 1949 dan sepakat memperkuat Torino.

Di era 1940an, Torino merupakan salah satu tim yang ditakuti di kancah sepak bola Italia. Mereka berhasil merengkuh lima gelar Liga Italia. Tak cuma itu, Torino juga diperkuat pemain-pemain andalan timnas Italia.

Performa impresif di kompetisi domestik membuat Torino mendapat undangan partai persahabatan melawan raksasa Portugal, Benfica. Kubala menjadi salah satu pemain Torino yang rencananya akan dibawa ke Portugal.

Namun, Kubala urung berangkat karena putranya yang masih berusia satu tahun menderita sakit parah. Ia pun memutuskan tetap berada di Italia demi merawat sang buah hati.

Keputusan tersebut menyelamatkan nyawa Kubala. Pasalnya, pesawat yang mengangkut skuat Torino menabrak dinding Basilika Superga di kota Turin. Kecelakaan tersebut menewaskan 31 penumpang pesawat.

Sportswallah
PINDAH KE SPANYOL DAN MELEGENDA BERSAMA BARCELONA

Tragedi Superga membuat Laszlo Kubala memutuskan pergi dari Italia dan pindah ke Spanyol demi memperkuat Barcelona pada Juni 1950. Namun, Kubala tak bisa langsung menjalani debutnya bersama BlaugranaPasalnya, pemerintah Hungaria dikenai sanksi larangan bermain selama satu tahun.

Skorsing ini diberikan karena Federasi Sepak Bola Hungaria menyebut Kubala sudah melanggar perjanjian kontrak dan pergi ke luar negeri tanpa izin. Ia baru bisa menjalani laga debutnya bersama Barcelona 1951.

Kubala bukanlah satu-satunya penyintas Hungaria yang merapat ke Barcelona. Ia bermain di bawah pelatih Ferdinand Daucik dan mampu menunjukkan performa luar biasa. Kubala mampu mencetak 26 gol dari 19 partai pada laga debutnya di musim 1951-52.

Sports Mole

Penampilan gemilang Kubala berhasil Blaugrana berhasil merengkuh lima gelar pada musim 1951-52 gelar liga, Copa del Generalísimo, Copa Eva Duarte, Piala Latin, dan Copa Martini Rossi. Yakni gelar liga, Copa del Generalísimo, Copa Eva Duarte, Piala Latin, dan Copa Martini Rossi.

Semusim berselang, karier Kubala nyaris berakhir setelah ia dinyatakan positif mengidap Tuberkolosis. Namun, di luar dugaan ia berhasil bangkit dan kembali tampil gemilang.

Pada 1958, Kubala berhasil meyakinkan dua bintang timnas Hungaria, Sandor Kocsis dan Zoltan Czibor bergabung ke Barcelona. Kehadiran Kocsis dan Czibor secara perlahan mulai menggusur posisi Kubala di skuat Blaugrana.

Kehadiran Kocsis dan Czibor bukanlah satu-satunya faktor yang membuat Kubala mulai tersingkir. Ia juga disebut terlibat perselisihan dengan pelatih kepala, Helenio Herrera. Herrera tak suka dengan kehidupan glamor Kubala di luar lapangan

Pada 1961, Kubala akhirnya memutuskan keluar dari Barcelona. Selama 10 tahun memperkuat Blaugrana, Kubala berhasil mencetak 281 gol dari 357 penampilannya. Ia memutuskan bergabung ke tim rival sekota, Espanyol. Kubala mengakhiri karier profesionalnya bersama tim asal Kadana, Toronto Falcons pada 1967.

BarcelonaLaszlo KubalaLegenda