Le Classique di Pentas Ligue 1, Sejarah Permusuhan PSG vs Marseille

Football5star.com, Indonesia – Pekan ke-2 Ligue 1 langsung menghadirkan pertandingan dalam tensi tinggi dalam tajuk Le Classique antara PSG vs Marseille di Parc des Princes, Senin (14/9/2020). Pertemuan kedua tim ini memiliki level ketegangan yang sama dengan El Clasico milik Real Madrid dan Barcelona serta El Superclásico milik River Plate dan Boca Juniors.

Laga pada Senin dinihari WIB nanti ini adalah pertemuan ke-98 kedua tim di pentas Ligue 1. Bagi tim tuan rumah, pertandingan ini terasa sangat berbeda dan kurang menguntungkan. Tujuh pemain andalan PSG beberapa pekan lalu dinyatakan positif virus corona.

Kabar terbaru, Neymar yang sempat terpapar corona dikabarkan sudah mulai kembali berlatih. Namun pelatih Thomas Tuchel mengaku belum mau menurunkan pemain asal Brasil tersebut.

“Saya tidak tahu persisnya. Jika mungkin, beberapa pemain dapat tampil. Namun, andaipun bermain, mereka tertinggal dalam latihan” ucap Tuchel seperti dikutip Football5star.com dari Le Parisien.

Tidak adanya pemain andalan juga membuat PSG tersandung di pekan pertama dengan kalah 0-1 dari tim promosi, RC Lens. Sedangkan bagi tim tamu, Marseille, kondisi mereka relatif cukup baik.

Anak asuh André Villas-Boas tersebut meraih kemenangan 3-2 atas Brest. Terlepas dari faktor teknis, laga Le Classique memiliki catatan dan sejarah panjang permusuhan kedua tim.

Sejak pertama kali bertemu di kompetisi tertinggi Liga Prancis pada 1971, Marseille sebenarnya memiliki catatan bagus jika bertemu PSG. Wajar karena PSG sendiri baru berdiri satu tahun sebelumnya. Sedangkan Marseille merupakan tim tua dan mapan yang sudah berdiri sejak 1899.

Sebelum kehadiran PSG, l’Ohème dalam rentang waktu 89 tahun hanya bersaing dengan tim-tim seperti Saint-Étienne ataupun Bordeaux. PSG belum lahir saat itu. Bahkan di era 90-an saat PSG mendapat sokongan dari raksasa televisi Prancis, Canal +, mereka belum bisa bersaing dengan Marseille.

“Negara Api Menyerang”

Mengutip dari film Avatar, ‘semuanya berubah saat negara api menyerang’, kondisi itu juga yang terjadi saat Les Parisiens kedatangan investor dari Timur Tengah. PSG berubah menjadi tim yang mengganggu stabilitas Marseille di kompetisi domestik.

Meski begitu sejarah permusuhan para fan sebenarnya mulai membesar di setelah 1991. Saat itu kelompok pendukung Marseille menuduh elit politik Paris melukan kolaborasi untuk membawa PSG meraih kejayaan di 1994. Saat itu PSG mampu meraih gelar Ligue 1 dan Piala Winners 1995-96.

Sejak konsorsium penguasah Qatar (QSI) resmi membeli PSG pada Juni 2011, 20 edisi Le Classique di semua kompetisi hanya sekali dimenangi Marseille dan tiga kali berakhir imbang, sedang sisanya jadi milik Le Parisien termasuk partai final Piala Prancis 2015/16.

Kedatangan QSI praktis membuat PSG kini punya keunggulan telak atas Marseille dalam rekam jejak Le Classique yang sudah berlangsung 96 kali di semua kompetisi sejak 1971. PSG menang 42 kali, Marseille menang 32 kali dan 19 pertemuan sisanya berakhir imbang.

Padahal, sebelum QSI datang, Marseille punya keunggulan berupa 31 kemenangan dan hanya 26 kali kalah dari 76 kali pertemuan. Terakhir kali Marseille menang atas PSG terjadi pada 27 November 2011 sekira enam bulan setelah serah terima kepemilikan Le Parisien ke tangan QSI.

Bahkan pada pertemuan terakhir kedua tim di Oktober 2019, Marseille sama sekali tak berkutik. Mereka dilumat oleh PSG dengan empat gol tanpa balas. Tak mengherankan rasa amarah dan benci ada di diri pendukung Marseile.

Bahkan saat final Liga Champions musim lalu, pendukung Marseille gelar pesta di pusat kota untuk merayakan kegagalan PSG meraih gelar juara karena dikalahkan Bayern Munich 0-1. Hal ini tentu akan menambah menarik laga PSG vs Marseille di Senin dinihari WIB nanti.

Andre Villas-BoasLigue 1marseilleParis Saint-GermainThomas Tuchel