LEGENDA: Ansyari Lubis, Kisah Playmaker Termahal Liga Indonesia

Football5star.com, Indonesia – Bicara sepak bola modern tak lepas dari keberadaan penting sosok playmaker dalam sebuah tim. Sepak bola Indonesia pernah memiliki playmaker yang mungkin saat ini sulit untuk dicari penggantinya, ia adalah Ansyari Lubis.

Sebagai seorang playmaker, pemain yang akrab disapa Uwak ini memiliki peran magis dan kreativitas tinggi saat mengolah si kulit bundar. Bisa dikatakan saat Ansyari Lubis bermain, ia banyak menyentuh bola dan menuntaskan dengan umpan akurat ke rekannya.

Lahir di Tebing Tinggi, Sumatera Utara pada 29 Juli 1970 Uwak memulai karier sepak bolanya di klub PSKTS Tebing Tinggi dan kemudian hijrah ke Medan Jaya pada 1989 hingga 1993. Sebagai pemain berdarah Batak, karakter bermain Uwak tak lepas dari gaya main rap-rap. Meski dengan polesan dan teknik yang sedikit berbeda.

Twitter.com/memoriligina

Tak jauh berbeda dengan gegenpressing ala Juergen Klopp, gaya main rap-rap menekankan pada tekanan dan penjagaan lawan di saat bersamaan. Pemain yang menerapkan gaya main ini memiliki stamina ekstra, minimal si pemain harus memiliki Vo2max56.

Di metode bermain seperti ini, Uwak menunjukkan kualitas individunya. Ia bermain di area lapangan tengah yang sedikit mendalam dengan akurasi umpan jitu dan memiliki insting gol yang sangat ganas di depan gawang lawan.

Sebagai seorang playmaker, bisa dikatakan Ansyari Lubis hampir mirip dengan gaya main seorang Gaizka Mendeita. Ia merupakan tipikal pemain dengan daya jelajah begitu tinggi dan sangat mobile. Ia menjelajah hampir seluruh sudut lapangan demi menjalankan sistem operasi timnya.

Dari Medan Jaya ke Pelita Jaya

Pada 1989, Uwak memutuskan untuk pindah ke klub Medan Jaya. Saat itu, klub yang berdiri pada 1987 ini mampu jadi tim kuda hitam bagi tim-tim mapan di era Galatama dan Divisi Utama Liga Indonesia.

Meski tak meraih trofi bersama klub berjuluk Kijang Sumatera tersebut, permainan Uwak membuat kagum publik sepak bola nasional di era itu. Tak heran jika salah satu klub Divisi Utama Pelita Jaya tertarik untuk meminangnya pada 1993.

Kepindahan Uwak ke Pelita Jaya jadi headline pemberitaan media nasional saat itu. Seperti dikutip Football5star.com dari Harian Kompas, Pelita Jaya harus menggelontorkan dana mencapai Rp 25 juta untuk bisa mendapatkan jasa Ansyari Lubis.

n7n4.wordpress.com

Pembelian Uwak dari Medan Jaya ke Pelita Jaya mencatatkan namanya sebagai salah satu pemain termahal di Liga Indonesia. Namun uang sebesar itu mampu dibayar tuntas oleh Uwak.

Uwak mampu memberikan gelar juara Galatama untuk Pelita pada musim tersebut. Pelita berhasil mengalahkan Gelora Dewata di partai final yang digelar di Stadion Sriwedari, Solo, dengan skor 1-0.

Ia juga keluar sebagai pencetak gol terbanyak kompetisi dengan 19 gol. Ditambah lagi, ia juga didaulat sebagai pemain terbaik kompetisi pada musim tersebut. Ansyari Lubis berada di Pelita hingga pergantian milenium baru.

Kegemilangan di level klub membuat nama Uwak dipanggil membela timnas Indonesia. Pada 1991, Uwak menjadi salah satu penggawa timnas di ajang Pra Olimpide 1994. Ia juga membela timnas saat Pra Kualifkiaski Piala Dunia 1994.

Dikutip dari data RSSF, Uwak tercatat telah membela timnas Indonesia sebanyak 29 kali dengan catatan 7 gol. Pemain berpostur tinggi 1.65 m pada 2003 silam memutuskan untuk gantung sepatu di klub PSDS Deli Serdang.

Namun kecintaannya pada sepak bola membuat Uwak tak bisa lepas dari lapangan hijau. Setelah resmi pensiun, ia memutuskan untuk mencoba karier sebagai assisten pelatih di Pro Duta FC pada 2010 lalu.

Karier kepelatihan

Setelah di Pro Duta FC, pelatih yang baru menerima lisensi A AFC itu juga sempat menjadi asisten pelatih PSMS Medan di 2016 silam. Setahun kemudian, Uwak berhasil mengantarkan Aceh United (sekarang Babel Aceh United) promosi ke Liga 2.

Setelah itu ia sempat melatih ke PSPS Riau pada 2018. Namun, Uwak memilih untuk berlabuh di PSDS Deli Serdang dan membawa tim ini juara Liga 3 PSSI Sumut.

Pada tahun ini, torehan prestasi Ansyari Lubis belum berhenti. Karir kepelatihan pemain yang berhasil mengantarkan Indonesia sebagai runner-up atau meraih medali perak SEA Games 1997 ini juga kembali membawa tim Karo United juara Liga 3 PSSI Sumut.

bolahita

Sekaligus mencatatkan torehan kali ketiga secara berturut-turut membawa tim juara di Liga Indonesia. Bahkan ada yang sampai promosi ke Liga 2. Ansyari Lubis juga saat ini tercatat sebagai pelatih di tim sepakbola Pra Pon Sumut.

“Ya pertama saya mengucapkan terimakasih. Tapi sejatinya dimanapun melatih, Saya selalu tekankan kepada pemain untuk bersemangat, kerja keras untuk masa depan kalian. Jadi gelar juara Karo United ini berkat perjuangan anak-anak, selamat buat pemain,” kata Ansyari Lubis seperti dikutip dari bolahita.

Ansyari LubisLegendalegenda nasionalTimnas Indonesia