Legenda Anwar Ujang, Putra Karawang yang Dipuji Pele dan Dicintai Orang Medan

Football5star.com, Indonesia – Bagi orang Medan khususnya mereka yang jadi suporter PSMS Medan dan Pardedetex tentu tak asing dengan putra Karawang bernama Anwar Ujang. Pemain berposisi bek ini jadi salah satu legenda bagi dua klub orang Medan tersebut.

Anwar lahir di Cikampek pada 2 Maret 1945, namun ada juga yang menyebut bahwa Anwar lahir pada 18 Maret 1948. Sejak kecil, Anwar sudah cinta dengan sepak bola. Ia pun sempat tercatat menjadi bagian dari Pesat, salah satu anggota klub Persika Karawang.

Menariknya, sebelum benar-benar memutuskan untuk jadi pemain profesional, Anwar rupanya sudah terdaftar sebagai karyawan di Pertamina. Namun hal itu tak menghalangi Anwar untuk terus melanjutkan kariernya sepak bolanya. Ia pun sempat bergabung ke Maesa, salah satu anggot klub Persija Jakarta.

View this post on Instagram

Anwar Ujang..The Legend of PSMS

A post shared by Ilyas Indra Utama (@ilyasindrautama) on

Pada akhir 60-an, Anwar memutuskan untuk merantau ke Sumatera Utara. Ia bergabung ke Pardedetex. Sekedar informasi, Pardedetex adalah klub yang dimiliki oleh TD Pardede, raja tekstil dari Medan. Kedatangan Anwar Ujang ke klub ini memang didasari oleh keinginan dari TD Pardede membuat klub miliknya jadi nomor satu di era Perserikatan.

Anwar datang bersama pemain-pemain hebat sekaliber, Soetjipto Sundoro, Judo Hadijanto, Sinyo Aliandu, Iswardi Idris, hingga Abdul Kadir. Para pemain ini adalah langganan timnas dan baru saja mengantarkan Indonesia meraih gelar juara di turnamen King’s Cup di Bangkok.

Setelah dari Pardedetex, Anwar hijrah ke klub Medan lainnya, PSMS Medan. Saat membela PSMS Medan, Anwar satu angkatan dengan pemain besar lainnya, antara lain, Sunardi B, Parlin Siagian,Wibisono, Ronny Pasla, Tumsila, hingga si ‘Biang Kerok’, Nobon Kayamuddin.

Dijuluki Beckenbauer Indonesia dan Dipuji Pele

Gaya bermain Anwar Ujang di lini pertahanan memang berbeda dari pemain satu angkatannya. Anwar sangat visioner, mampu mengintimidasi lawan, ahli membaca taktik lawan. Tak heran jika kemudian ia disamakan dengan legenda Jerman, Franz Beckenbauer.

Pada 21 Juni 1972, Anwar bersama tiga rekannya di PSMS Medan, Ronny Pasla, Sunarto, dan Yuswardi berkesempatan untuk membela Indonesia melakoni laga persahabatan melawan Santos yang saat itu diperkuat oleh legenda sepak bola dunia, Pele.

Laga yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno itu berakhir dengan kemenangan tipis 3-2 Santos atas tim Merah Putih. Menariknya Pele yang saat itu dinanti aksinya tak berdaya menghadapi permainan Anwar Ujang dkk. Anwar yang jadi kapten mampu memberikan perlawanan sepadan untuk Santos.

Legenda Anwar Ujang, Putra Karawang yang Dipuji Pele dan Dicintai Orang Medan
instagram.com/ilyasindrautama

Majalah Tempo edisi 1 Juli 1972 menggambarkan. “Pele, Mutiara Hitam Brazil jang mendjadi pusat perhatian, malam itu tidak mengesankan sedikit pun kehadiran “dewa stadion” sebagai jang digelarkan orang Brazil pada dirinja,”

“Maka tidak heran kalau gaja permainan prof Santos dan insiden-insiden jang mentjukai waktu permainan jang berharga, menimbulkan kutukan-kutukan penonton,” tulis Tempo.

Meski Pele dianggap menunjukan aksi ala kadarnya, permainan Anwar Ujang di jantung pertahanan juga tak bisa dipandang sebelah mata. Pele bahkan memuji Anwar sebagai salah satu pemain terbaik Indonesia pada laga tersebut.

“Nomor 5 sebagai pemain terbaik Indonesia” kata Pele saat itu. Nomor 5 adalah nomor yang dikenakan Anwar di timnas Indonesia. Setelah pertandingan melawan Santos, timnas kembali dijajal oleh Uruguay dan pada laga ini, Anwar kembali menunjukkan kelasnya.

Akhir karier

Pada 19 April 1974, Indonesia melawan Uruguay yang jadi peserta di Piala Dunia 1974. Pada laga yang berlangsung di Senayan tersebut, seperti Santos, Uruguay pun dibuat kewalahan dengan aksi Anwar di jantung pertahanan.

Hasilnya Anwar Ujang dkk mampu meraih kemenangan 2-1. Tak terima dengan kekalahan tersebut, Uruguay meminta rematch. Di laga ulang, pada 21 April, timnas harus menyerah dengan skor tipis 2-3.

Sayang setelah pensiun dari sepak bola, Anwar yang mempersembahkan gelar juara Divisi Utama Perserikatan untuk PSMS Medan pada 1969 dan 1971, juara Marah Halim Cup 1972 dan 1973, Juara Soeharto Cup 1972 dan membawa PSMS Medan ke babak semifinal Piala Champions Asia, sempat kesulitan berobat dan kurang mendapat perhatian dari banyak pihak.

Anwar menghembuskan nafas terakhirnya pada 18 Oktober 2014 di Medan, Selamat jalan, Legenda!

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More