Legenda: Aples Tecuari, Antara Gorengan, Teh Manis dan Tentara

Football5star.com, Indonesia – Aples Tecuari lahir di Jayapura, Papua pada 21 April 1973. Aples bisa disebut sebagai salah satu mutiara Papua yang tampil gemilang di panggung sepakbola tanah air. Aples memulai karier sepak bola dengan cukup gemilang, ia adalah bagian dari proyek Primavera timnas Indonesia.

Sebagai putra asli Papua, Aples memiliki karakter bermain yang sangat khas. Permainannya tanpa kenal kompromi, agresif, dan memiliki tackle yang sangat baik. Ia adalah salah satu stopper terbaik Indonesia di era 90-an.

Kemampuan Aples mulai menyita perhatian publik sepak bola nasional setelah antarkan tim PON Papua (Irian Jaya) meraih medali emas PON 1993 di Jakarta. Setelah capaian itu, Aples mendapatkan panggilan PSSI yang sedang menyiapkan tim muda untuk dikirim ke Italia. Proyek Primavera membuat kemampuan Aples semakin terasah.

Menimba ilmu sepak bola di Italia, Aples Tecuari yang saat itu tergabung di timnas U-19 berkompetisi di Serie A U-19 atau yang lebih dikenal dengan nama Primavera. Setelah menimba ilmu di negeri Piza, Aples kembai ke Indonesia dan bergabung ke Pelita Jaya.

Kabar Terbaru Maboang Kessack, Bintang Kamerun yang Alami Krisis 1998

Selain membela Pelita dan beberapa klub Liga Indonesia lain seperti PSPS Pekanbaru, Persija Jakarta, hingga Perseman Manokwari, Aples juga sangat sering mendapatkan panggil membela timnas Indonesia di berbagai kelompok usia.

Meski memiliki karier yang cukup gemilang di lapangan hijau. Sosok Aples sangat sederhana. Ia bukan sosok pesepak bola yang haus popularitas.

Gorengan dan teh manis

Salah satu fan Pelita Jaya lewat blog pribadinya pernah mengungkap bagaimana Aples ialah pemain yang sangat sederhana. “Aples begitu sederhana, ia datang dari Sawangan (mess Pelita Jaya saat itu) dengan angkutan umum,” tulis fan Pelita Jaya tersebut.

Menurut fan Pelita Jaya tersebut, jika Aples berada di angkutan umum, dirinya mau berbaur dengan penumpang yang lain tanpa sungkan. “Di dalam angkot, Aples tidak duduk di kursi depan, ia memilih untuk di kursi belakang untuk bisa mengobrol dengan fans yang pulang juga dengan angkutan umum,” tulis blogger iwanography

Yang menarik, Aples juga dikenal sebagai pemain yang cukup suka meyantap gorengan dan minum teh manis. Aples sangat suka jajan gorengan sebelum latihan dengan skuat Pelita Jaya saat itu.

Habis menyantap gorengan, ada satu minuman yang selalu ditenggak habis oleh Aples yakni minuman teh. “Teh yang diminum itu selalu dibawa ke dalam stadion,”

Kesederhanaan yang ditunjukkan Aples saat jadi pesepak bola membuatnya begitu dikagumi pecinta sepak bola nasional. Timnas Indonesia era 90-an memang tak bisa dilepaskan dari sosok Aples di lini belakang.

Aples sendiri pernah mengatakan bahwa perjalanan kariernya di sepak bola bukan hal yang ia rencanakan. Aples justru sejak kecil bercita-cita jadi tentara.

“Saya besar di kawasan tentara di daerah Sentani,” ujar Aples. “Karena hal itu sejak kecil saya berkeinginan jadi tentara. Nah, saat itu salah satu syarat jadi tentara di Papua adalah jago bermain bola. Oleh karena itu saya mulai belajar bermain sepakbola.” kata Aples seperti dikutip dari Panditfootball, Selasa (14/4/2020).

Aples pun mengungkap bahwa waktu kecil saat bermain sepak bola, ia dan rekan-rekannya membutuhkan perjuangan. Di Papua menurut Aples, bermain sepak bola bukan hal mudah. Salah satu kendalanya ialah soal bola yang digunakan.

Aples tak habis akal. Ia mengatakan bola tenis biasa yang ia gunakan bermain bersama rekan-rekannya. Tentu tak mudah bermain sepak bola dengan menggunakan bola tenis.

“Jarang ada yang menjual bola tenis. Saya sendiri berinisiatif jadi ball boy tenis tentara. Karena selain dapat bayaran, saya juga dapat mengambil bola tenis yang sudah tidak digunakan.” kenang Aples.

Capaian di timnas Indonesia

Bersama timnas Indonesia, Aples ialah palang pintu yang sangat tangguh. Pada 1995, ia bersama dengan Chrisleo Yarangga dan Alexander Pulalo berguru ke Italia.

Aples mulai membela Indonesia pada 1993. Ia kemudian gantung sepatu dari timnas pada 2004 silam. Pada 1993 juga Aples sempat membela tim sepakbola Papua untuk ikuti PON ke XIII yang berlangsung di Jakarta. Membela tim Papua, Aples mampu menyumbangkan medali emas.

Pada PON 1993, Aples yang masih junior satu tim dengan talenta Papua seperti, Yakob Rumayom, Nando Fairyo, Anis Bonay dan Alex Pulalo. Pada SEA Games 1997, Aples harus menjadi cadangan di barisan belakang timnas Merah Putih. Posisinya digantikan oleh Nur Alim dan Sugiantoro.

Kamu Pasti Gak Tahu! 5 Putra Papua yang Curi Perhatian Publik Luar Negeri

Aples harus jadi cadangan karena ia menderita yang penyakit rabun ayam. Pengelihatannya jadi kabur jika sudah malam hari. 

Meski begitu, Aples tetap diturunkan kala final SEA Games 1997, timnas saat itu harus berhadapan dengan Thailand.

Aples kala itu diperintahkan oleh Danurwindo untuk menjaga ketat penyerang andalan Thailand, Kiatisuk Senamuang. 

Sayang saat itu Aples hanya sanggup menyumbangkan medali perak usai kalah di drama adu penalti di stadion Gelora Bung Karno. 

Dari sejumlah pengalaman yang pernah ia jalani bersama klub dan timnas Indonesia. Aples mengaku bahwa momen paling menyenangkan ialah saat ia masih membela Persipura.

“Pengalaman paling menyenangkan ketika masih muda, ya, saat bermain untuk Persipura di divisi satu dulu. Saya yang masih muda dipercaya bermain untuk tim inti.” ucap Aples.

Sedangkan setelah pulang dari Italia, Aples mengaku sangat bahagia saat membela PSPS Pekanbaru. Menurutnya saat itu ia bermain bersama sejumlah pemian hebat seperti Erol FX Iba hingga Sugiantoro.

“Sedangkan sepulangnya dari Eropa, PSPS Pekanbaru menjadi pengalaman yang paling berkesan. Terutama soal pemain. Siapa yang tidak tahu nama Sugiantoro, Uston Nawawi, Erol FX Iba, dan Carlos de Mello? Kami saat itu begitu tangguh.” kenang Aples.

Jadi PNS dan Pembinaan pemain muda

Pada Mei 2019 lalu, Aples Tecuari mendampingi tim muda Indonesia bermain di Portugal. Aples jadi pelatih untuk tim U-15 Indonesia di ajang Iber Cup.

Turnamen Iber Cup merupakan turnamen sepak bola yang cukup banyak peminatnya. Seperti dikutip dari website resmi Iber Cup, tiap tahunnya kompetisi sepak bola ini diikuti oleh 50 ribu pemain dari seluruh dunia.

Pada tahun ini Iber Cup tidak hanya berlangsung di Portugal, namun juga di sejumlah negara seperti Amerika Serikat, Brasil, Spanyol, Inggris, dan Jepang.

Iber Cup juga mengadopsi aturan kelompok umur sesuai statuta FIFA. Selain itu, negara yang mendaftar pada kompetisi ini haruslah anggota dari FIFA.

Selain itu, Iber Cup juga menerapkan aturan tak jauh berbeda di kompetisi sepak bola lainnya seperti kemenangan mendapat 3 poin, imbang 1 poin, dan kalah 0 poin. Untuk babak adu penalti, aturan FIFA juga diterapkan pada kompetisi ini.

Usai pensiun dari sepak bola, Aples juga pernah disebut-sebut menjadi PNS di lingkungan Dispora Provinsi Papua Barat.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More