Eduard Ivakdalam: Meia Armador dari Tanah Papua

Banner E-Magazine Januari 2020

Football5star.com, Indonesia – Pada 2014 saat Jokowi melakukan kampanye pemilihan Presiden di tanah Papua, ia sempat menyinggung soal kualitas pesepak bola di Bumi Cendrawasih.

Presiden RI ini menyebut sejumlah talenta terbaik Papua seperti Titus Bonai, Boaz Salossa, serta Elly Eiboy. Sayang, ia melewatkan satu nama pemain besar Papua, Eduard Ivakdalam atau yang akrab disapa Kaka Edu.

Eduard Ivakdalam adalah pesepak bola Papua yang sangat sulit dicari penggantinya saat ini. Ia seorang regista dari tanah Papua yang memiliki rekam jejak gemilang di sepak bola nasional. Kaka Edu layak disejajarkan dengan legenda Papua lainnya seperti Johanes Auri, Rully Nere, Mettu Duaramuri, Isaac Fatari, Ronny Wabia, Chris Yarangga hingga Jack Komboy.

goal.com

Edu lahir di Merauke, 19 Desember 1974. Kecintaannya pada sepak bola mengantarkannya mejalani karier di PS Merauke. Ia sempat pindah ke PS Maren Jayapura. Skill olah bola Edu mulai dikenal sepak bola pada era 90-an.

Tentu pencinta sepak bola nasional harus berterimakasih kepada sosok dibalik ditemukannya skill Edu, Tumpak Sihite. Pelatih legendaris berdarah Sumatera Utara ini melatih Persipura di era Ligina II musim 1995/1996. Tumpak saat itu tak mau seperti pelatih tim lain yang andalkan pemain asing, ia lebih mengandalkan pemain lokal, salah satunya Eduard Ivakdalam.

Tidak hanya ada satu Ivakdalam di Persipura saat dilatih Tumpak. Ada juga Carolino Ivakdalam yang jadi andalan bersama pemain seperti Ronny Wabia dan Ritham Madubun.

Sosok Meia Armador

Meski saat itu Edu masih anak kemarin sore, namun publik sepak bola terkesima dengan gaya permainanya. Edu saat itu ditempatkan oleh Tumpak sebagai seorang holding midfielder atau dalam bahasa Brasil Meia Armador.

Edu bermain dengan teknik tinggi, memiliki kecerdasan membaca permainan, dan oportunis memotong ancaman tim lawan. Edu memang tak memiliki kemampuan fisik seperti pemain Papua pada umumnya. Namun, ia seorang pengumpan ulung dan mampu membuka ruang untuk pemain lain menciptakan gol.

Eduard Ivakdalam

Pemain yang juga dipanggil Paitua alias bapak tua yang pemain Persipura lainnya itu mengabdi selama 16 tahun. Sentuhannya tidak hanya ajaib di lapangan namun juga jadi kapten sekaligus pengayom untuk pemain muda, tengok saja bagaimana ia meredam sifat emosional Boaz Solossa di awal kemunculannya.

“Setelah teman sekamar saya tak lagi di Persipura, Boaz gabung sekamar dengan saya. Dia bilang ingin belajar jadi pemimpin di lapangan. Saya hanya mengatakan agar dia selalu memperhatikan apa yang saya lakukan sehingga bila saya sudah tak di Persipura, dia bisa melakukan hal sama,” ucap Edu seperti dikutip Football5star.com dari bola.com, Selasa (21/2/2020).

Persipura, Prestasi dan Akhir yang Pahit

Bersama Persipura, Edu sukses memberikan tinta emas. Ia mampu mengantarkan Persipura menjadi juara Divisi Utama 2005, juara ISL 2009, dan juara Community Shiled 2009. Sepak terjangnya di timnas Indonesia juga patut diancungi jempol, salah satunya mengantarkan Indonesia raih medali perak di SEA Games 1997.

Pada 2009/2010, karier Edu di Persipura berakhir. Saat itu usianya sudah menginjak 35 tahun dan ia merasa dirinya masih sanggup untuk bermain. Namun pada awal musim 2010/2010, dirinya disisihkan dari skuat Persipura. Ia tak diberitahu jadwal latihan Persipura di musim tersebut.

“Saat saya dalam perjalanan pulang setelah bicara dengan Bapak Kambu, saya ditelpon teman-teman yang mengabari bila hari itu latihan dimulai. Saya kaget karena sebagai kapten saya merasa tidak diberitahu.”

Status saya saat itu masih menunggu pembicaraan kontrak tuntas. Saya pun putar balik menuju Lapangan Brimob dan benar ada latihan. Padahal, saya sempat bertanya kepada Bapak Kambu perihal jadwal latihan dan beliau menjawab tak tahu,” paparnya seperti dikutip dari bola.com

Edu sangat kecewa dengan hal tersebut. Kontraknya dengan Persipura pun saat itu, ia anggap berlarut-larut. Ia merasa pintu keluar sudah ditujukan kepada dirinya oleh manajemen Persipura namun dengan cara yang tak etis.

“Untuk apa saya menunggu? Saya harus mengambil keputusan. Mereka (manajemen Persipura) bilang agar saya bersabar, tapi saya merasa tarik ulur ini tidak tepat. Saya pun mengambil langkah pergi dari tim,” ucap Edu.

Edu pun melanjutkan kariernya di tim tetangga Persipura, Persidafon. Ia tak mau ke tim di luar Papua karena kecintaannya pada Bumi Cendrawasih. “Saya sangat cinta Persipura. Selain itu, saya juga tak mau meninggalkan keluarga di Papua,” bilang Edu.

Saat ini, Edu menjadi tim sepak bola PON 2020 Papua. Pada April 2019, Edu telah menyeleksi sejumlah nama yang layak membela tim Papua di PON 2020 yang bakal berlangsung pada 20 Oktober hingg 2 November mendatang.