Fakhri Husaini: Kisah Keberanian Putra Lhokseumawe di Sepak Bola Nasional

Football5star.com, Indonesia – Pada Desember 2018 publik sepak bola Indonesia dibuat geger dengan pemberitaan mengenai match fixing di sepak bola nasional. Putra Lhokseumawe, Fakhri Husaini salah satu yang jadi sorotan.

Bagaimana tidak, ia saat itu berani untuk melawan permintaan PSSI agar tidak hadir di acara Mata Najwa yang membahas mengenai kasus match fixing. Dalam acara tersebut, Fakhri berani bersuara lantang.

“Orang yang main di lapangan itu ikut-ikutan berjudi. Itu yang paling bahaya. Bola menjadi bagian dari perusahaan judi.” kata mantan gelandang kreatif PKT Bontang di acara Mata Najwa.

Fakhri Husaini: Keberanian Putra Lhokseumawe di sepak Bola Nasional

Tidak berhenti disitu, Fakhri juga blak-blakan mengenai larangan dari PSSI untuk tidak hadir di acara Mata Najwa.

“Saya dilarang-larang datang ke Mata Najwa. Yang ngelarang ada tiga orang yang telepon sebelum saya berangkat ke Mata Najwa, yang terakhir telepon dan panjang itu Sekjen. Hampir satu jam telepon,” kata Fakhri kepada awak media saat itu.

“Kalau Mata Najwa saya diundangnya buat saya menarik, bunyinya pengaruh match fixing terhadap pembinaan usia muda kalau ini saya tidak hadir, saya punya kepentinngan di situ,” tambahnya.

Seperti saat masih jadi bagian penting PKT Bontang dan timnas Indonesia, Fakhri Husaini memang tak diragukan lagi soal keberaniannya untuk sepak bola nasional.

Peran sang ayah

Pelatih kelahiran 27 Juli 1965 tersebut sudah sejak kecil sudah akrab dengan dunia sepak bola. Sang ayah merupakan pemain sepak bola di tim PS Pertamina Rantau Panjang. Ia mengaku sejak kecil sangat sering membersihkan dan menjemur bola setelah latihan sang ayah.

“Sejak kelas satu MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri) Rantau Panjang, saya sudah mulai bermain bola dengan teman-teman sebaya yang tinggal di kompleks Pertamina Rantau Panjang, Aceh Timur. Saya menginisiasi teman-teman untuk membuat klub sepak bola yang kami beri nama Merpati Putih,” kenang Fakhri seperti dikutip dari cnnindonesia.

Fakhri Husaini
football5star.com/ervhan satrio

Saat duduk di bangku SMP, ia sempat ikut berpartisipasi di POPSI (Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Indonesia) pada 1980/1981 hingga level provinsi. Untuk mengasah bakat sepak bolanya, Fakhri mengaku bahwa dirinya sempat berlatih dengan para karyawan PT Arun LNG yang usianya lebih dewasa.

“Ketika kompetisi internal PSLS (Persatuan Sepakbola Lhokseumawe Sekitarnya) 1980/1981 digelar, PS Arun memasukkan nama saya dalam daftar pemain mereka. Ini adalah kompetisi resmi pertama saya.” kata pelatih yang mengaku mengidolakan Franz Beckenbauer.

Menariknya, Fakhri menyebut bahwa sang ayah yang meskipun seorang pemain bola sempat melarangnya berkarier di lapangan hijau. Hal itu lantaran saat masih bermain di level junior, Fakhri beberapa kali mendapat pelanggaran dari pemain yang usianya lebih tua.

“Saya sebenarnya tidak diizinkan orang tua untuk bermain bola, walaupun ayah latar belakang pemain bola.”

“Ayah saya pernah ribut di suatu pertandingan, kepalanya pecah. Tidak tahu dipukul siapa, tapi penonton sudah masuk semua dan kacau balau. Trauma itu yang membuat dia khawatir kalau saya jadi pesepakbola.” ucapnya.

Jadi Andalan PKT Bontang

Setelah lulus dari bangku SMA, ia merantau ke Jakarta dan bergabung ke tim Bina Taruna di Rawamangun, Jakarta Timur. Meski fokus di sepak bola, ia mengakui bahwa pendidikan tetap yang jadi utama.

Fakhri pun meneruskan sekolahnya dengan mencoba masuk ke Universitas. Awalnya ia ingin masuk ke fakultas kedokteraan Universitas Indonesia, namun gagal dan pada akhirnya ia memutuskan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Kristen Indonesia (UKI).

Pada 1989, ia melanjutkan karier di Lampung Putera. Pada 1991, ia bermain untuk klub Petrokimia dan hanya bertahan satu tahun di sana. Pada 1992, ia hijrah ke PKT Bontang (saat ini Pupuk Kaltim) dan jadi andalan di sana.

Membela PKT selama 9 musim, prestasi terbaik Fakhri Husaini bersama PKT hanyalah finalis Liga Indonesia pada musim 1999/2000.

Meski begitu, ia menjadi langganan timnas Indonesia. Prestasi terbaiknya di Tim Nasional adalah finalis Sea Games 1997 di Jakarta. Pada semifinal, Fakhri berhasil membobol gawang Singapura dan membuat Indonesia menang 2-1.

Sayangnya, Indonesia harus mengakui keunggulan Thailand pada babak Final lewat babak adu penalti. Meskipun kalah, Fakhri menjadi man of the match kala itu.

Pelatih berbakat untuk pemain muda

Sosok Fakhri harus diakui sebagai pelatih berbakat untuk pemain muda Indonesia. Fakhri sempat menjadi pelatih yim Kaltim pada PON XVII di Kaltim tahun 2008. Meskipun hanya meraih predikat juara 3 pada PON Kaltim, Bontang FC tertarik ‘memulangkan’ Fakhri untuk melatih klub tersebut.

Sempat menangani Timnas Indonesia U-17 dan U-19, Fakhri akhirnya ditunjuk sebagai pelatih Timnas Indonesia U-16. Bersama Garuda Muda, Fakhri berhasil meraih juara di Vietnam dalam turnamen Tien Phong Plastic Cup 2017.

Fakhri Husaini
pssi.org

Tak hanya itu, keberanian Fakhri dalam memoles timnas usia muda pun patut diacungi jempol. Bukan semata-mata sukses mengantarkan lolos ke putaran final Piala Asia U-16 dan U-19, atau sejumlah prestasi lainnya. Melainkan mengubah posisi pemain yang bukan berada di posisi biasanya.

Salah satu keputusan berani Fakhri ialah mengubah posisi Bagas Kaffa yang awalnya striker menjadi seorang bek sayap kanan. Ia juga mengubah posisi Supriadi dan Fajar Fathur dari lini depan menjadi penyokong di lini tengah. Hasilnya tentu saja sangat memuaskan.

Sayang keberanian Fakhri berakhir. Pihak PSSI gagal mendekati dirinya untuk mendampingi Shin Tae-yong di skuat timnas Indonesia. Fakhri pun saat itu fokus pada pekerjaannya di PT Pupuk Indonesia sebagai Superintendent Bina Wilayah Departemen CSR.