Legenda Ferril Hattu, Pengagum Johan Cruyff yang Hobi Bermain Golf

Football5star.com, Indonesia – Sepanjang sejarah sepak bola nasional, salah satu momen yang dianggap sebagai ajang kejayaann timnas Indonesia ialah saat meraih medali emas SEA Games 1991 di Manila, Filipina. Saat itu, skuat timnas dikapteni libero kelahiran Surabaya, Ferril Raymond Hattu.

Ferril Hattu jadi salah satu faktor penting mental skuat Garuda untuk meraih medali emas di pesta olahraga terakbar se-Asia Tenggara tersebut. Faktor utamanya tentu saja sang arsitek Anatoli Polosin.

Bersama dua asistennya, Vladimir Urin dan Danurwindo, mereka mampu memberikan medali emas SEA Games 1991. Kembali ke sosok Ferril Hattu. Pemain yang pernah bermain di Niac Mitra ini seperti dikutip dari koran Tempo, 15 April 2007 menceritakan momen krusial sebelum timnas berangkat ke Manila.

Legenda Ferril Hattu, Pengagum Johan Cruyff yang Hobi Bermain Golf
inews

Menurut Feriil, sebelum berangkat ke Manila, skuat Indonesia dipanggil menghadap ke ketua umum PSSI saat itu, Kardono. Ia menyampaikan bahwa dirinya tidak memiliki uang. Untuk bonus jika timnas meraih medali emas, Kardono hanya mampu memberikan uang Rp3juta.

Sontak saja pengakuan dari orang nomor satu di PSSI itu membuat mental pemain timnas menurun. Beberapa pemain menurut Ferril bahkan sempat ingin memutuskan untuk tidak berangkat ke Manila. Sebagai kapten, Ferril memainkan perannya. Ia memotivasi rekan-rekannya bahwa mereka harus tetap berjuang dan tidak memikirkan soal uang.

Menurut Ferril, membela timnas di ajang SEA Games adalah tugas negara lebih mulia dibanding sekedar materi. Ferril juga menegaskan bahwa persiapan yang sudah dilakukan sedemikan berat dan lama sayang kalau dibiarkan percuma karena pemain mogok.

Wejangan dari Ferril untungnya diterima oleh pemain timnas lain. Namun masalah tak berhenti di situ. Dua striker utama, Bambang Nurdiansyah dan Mustaqim, jelang keberangkat malah mendapat cedera. Praktis, Polosin hanya akan mengandalkan Peri Sandria dan dua pemain muda minim pengalaman, Widodo C. Putro dan Rochi Putiray.

Meski begitu, timnas Indonesia mampu mengalahkan lawan-lawannya dan mempersembahkan medali emas. “Kuncinya adalah kebersamaan karena kami sudah lama berkumpul di pelatnas,” kata Ferril.

Hobi golf dan pemerhati sepak bola nasional

Di luar kecintaannya pada sepak bola, mantan pemain Persebaya dan Petrokimia Gresik tersebut memiliki hobi lain yakni golf. Ferril acapkali bermain golf di Taman Dayu Golf Club di Pasuruan, Jawa Timur.

“Persis setelah saya pensiun dari sepak bola (1997), saya bermain golf,” ungkap Ferril.

Sebelum asyik dengan olahraga golf, ia mengaku juga sempat bermain tenis setelah pensiun dari sepak bola. Namun golf jadi pilihannya. Menurutnya bermain golf melatih konsentrasi dalam mengambil keputusan.

Dia menjelaskan, saat bermain golf, tanggung jawab ada pada diri sendiri. Selain itu, belajar mengoptimalkan peluang meski kondisi tidak ideal. “Terpenting targetnya tercapai,” ujar Dirut di PT Graha Sarana Gresik (PT GSG) tersebut.

Legenda Ferril Hattu, Pengagum Johan Cruyff yang Hobi Bermain Golf2

Meski hobi bermain golf dan menjadi direktur di Anak Perusahaan Yayasan Petrokimia Gresik, Ferril tetap memiliki perhatian pada sepak bola nasional.

Laporan dari Yon Moeis dari Tempo pada 11 April 2010 menunjukkan bagaimana kecintaan Ferril pada kondisi sepak bola nasional. Saat Kongres Sepak Bola Nasional di Hotel Santika, Malang, Ferril datang.

“Ferril seperti orang asing dalam pesta sepak bola itu. Dia seperti berada di tempat yang salah. Dia berada di komunitas yang berisi orang-orang yang berperilaku bak preman,” tulis Tempo.

“Suaranya yang pelan dengan kalimat yang santun itu tertelan oleh kegaduhan kongres yang melelahkan itu,”

Ferril adalah sosok libero tangguh tanpa kompromi di lapangan hijau, setelah pensiun ia tetap meledak-ledak jika berbicara mengenai kondisi sepak bola nasional.

“Suaranya pelan. Dia bertutur dengan kalimat yang tersusun rapi. Tapi pengagum Johan Cruff itu bisa meledak-ledak, berontak, bicara pedas setiap kali menyikapi karut marut sepak bola nasional,” tulis Tempo.

Yang juga diingat oleh pencinta sepak bola nasional tentang sosok ini adalah meski ia menjadi kapten timnas saat meraih medali emas SEA Games 1991, dirinya tak pernah membusungkan dada.

“Dia cerdas, rendah hati. Ferril memperlakukan sepak bola dengan baik dan benar. Dia memahami betul arti sepak bola yang sesungguhnya,”

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More