Legenda Franco Baresi: Ornamen Estetis Catenaccio Italia

Football5star.com, Indonesia – Banyak orang yang bersikap sinis terhadap gaya catenaccio milik Italia. Tim-tim Italia yang menerapkan taktik ini dianggap menerapkan gaya permainan negatif. Tapi coba tengok bagaimana skema ini dimainkan oleh seorang Franco Baresi.

Di era 90-an, skema catenaccio dilebur menjadi satu dengan total football milik Belanda oleh AC Milan dan Baresi jadi salah satu aktor intelektualnya. Berperan sebagai sweeper, Baresi membuat AC Milan jadi tim sulit terkalahkan. Keindahan sepak bola Italia terpancar di tiap laga.

Bicara soal Baresi bicara soal kesetiaan dan kehormatan seorang pesepak bola. Bicara Baresi juga bicara ornamen estetis permainan sepak bola Italia. Sulit untuk mencari atau menyejajarkan pemain lain dengan sosok satu ini, pun dengan Paolo Maldini.

Baresi lahir di Travaglito, Lombardy, hanya satu jam dari kota Milan. Sejak kecil, ia sudah bergelut dengan si kulit bundar. Keluarga Baresi seperti layaknya banyak keluarga di Italia tak bisa dilepaskan dari sepak bola.

Kegagalan di Inter Milan

Sang kakak yang usianya hanya terpuat dua tahun dari dirinya, Giuseppe kelak jadi legenda bagi Inter Milan. “Saudaraku sudah bersama Inter. Saya ingin mengikutinya untuk uji coba dengan Inter tapi gagal,” kata Baresi seperti dikutip Football5star.com dari thesefootballtimes, Selasa (17/9/2019).

Kegagalan tes di Inter membawa berkah bagi tim tetangga AC Milan. Baresi kemudian dibawa pelatihnya untuk ikut tes di akademi AC Milan, saat itu usianya baru 14 tahun. Pada titik inilah Baresi menemukan cinta sejati dan membawanya ke petualangan bak roller coaster.

getty images

Bersuanya Baresi dan AC Milan bukan semata pertemuan sepasang muda mudi yang tengah di mabuk asmara. Bukan sekedar cinta monyet layaknya remaja usia belasan tahun. Baresi menemukan perasaan yang ia sendiri sulit untuk dijelaskan.

“Saya malu pada awalnya. Saya baru berusia 14 tahun dan saya seperti berada di planet lain ketika tiba di sini (komplek pelatihan Milanello). Saya tidak bisa menyembunyikan perasaan ini ketika awal datang ke sini,” kenang Baresi.

Jadi legenda

Mantan pelatih AC Milan Nils Liedholm mengatakan bahwa dirinya sangat kagum dengan Baresi muda. Menurut pria asal Swedia itu, di usianya yang teramat muda, Baresi menempa dirinya tak seperti kebanyakan pemain seusianya.

“Pada usia 18 tahun, ia sudah memiliki pengetahuan tentang menjadi seorang pemain senior,” kata Liedholm. Baresi memang lakoni debutnya bersama tim senior Milan saat Liedholm membesut i Rossoneri.

Baresi jalani debut pada April 1978, saat AC Milan berhadapan dengan Verona. Sunggung beruntung para penonton yang hadir di stadion saat itu karena melihat penampilan pertama seorang bek yang kelak menjelma jadi legenda bagi AC Milan.

Dua tahun sebelum lakoni debutnya, Baresi mendapat cobaan pertama dalam kariernya. Kedua orang tuanya meninggal dunia. Ia sempat kendur meski kemudian kecintaan yang diberikan Milan membuatnya bangkit dan terus menempa kemampuan dirinya.

“Kondisi tersebut membuat kami harus menyingsingkan lengan baju kami dan tumbuh dengan cepat untuk bertahan hidup,”

“Saya pikir kekuatan saya bukanlah fisik. Saya memang pemain yang cukup cepat tetapi di atas semua itu, semua tergantung apa yang ada di isi kepala Anda,” ucap Baresi.

Kemampuan natural

Ya, Baresi adalah sedikit pesepak bola yang memiliki daya nalar dan lebih mengoptimalkan otaknya tak sekedar fisik semata. Tak mengherankan jika Liedholm memilikin pandangan bahwa Baresi memiliki pengetahuan yang melebihi usianya.

Mantan rekan Baresi di AC Milan, Ruud Gullit pernah mengatakan bahwa Baresi seperti cenayang. “Sering kali dia tahu apa yang akan dilakukan striker lawan atau bagaimana arah bola dilepaskan seorang gelandang,” ucap pemain asal Belanda itu.

Football Italia

Baresi sendiri tak pernah tahu mengapa ia memiliki kelebihan itu. Baginya kemampuan membaca arah permainan bukanlah sesuatu yang dapat dipelajari.

Ia memang memiliki kemampuan sangat cepat untuk menghalau pergerakan lawan. Sliding tackle miliknya tanpa belas kasihan. Ia sangat lugas membuang dan menghalau bola.

“Hal seperti itu adalah natural. Tentu saja seorang pemain bisa meningkatkan hal itu dan tumbuh seiring pengalaman, namun tentu saja itu adalah salah satu bakat alam,” ucap Baresi seperti dikutip dari Fourfour Two.

Menjalani karier selama 20 tahun dan lakoni 719 pertandingan bersama AC Milan, Baresi total mempersembahkan 17 gelar juara. Baresi hadir tidak hanya saat Milan merasakan momen indah, ia juga berada di garda paling depan saat klub ini terdegradasi ke Serie B selama dua kali di awal 80-an.

Momen pahit dalam sejarah Milan itu dimanfaatkan sejumlah klub lain untuk menggoda kesetiaan Baresi. Ia tak bergeming dan memilih berada di klub meski berkompetisi di kasta kedua. Setelah berhasil membawa Milan promisi ke Serie A pada 1982-83, Baresi diangkat jadi kapten gantikan Aldo Maldera dan Fulvio Collovati.

Kemampuan seorang sweeper sejati

Nils Liedholm sempat meminta Baresi untuk mengevaluasi diri pasca lakoni laga debut melawan Verona. Selama musim panas 1978, pelatih Swedia itu menempa Baresi untuk menjadi seorang libero di barisan pertahanan Milan.

Memiliki postur tubuh kecil dan sempat diperguncingkan dengan pemain Milan lain dengan menyebutnya Piscinin alias si kecil, Baresi tak menyerah untuk menempa kemampuan dirinya. Ia lebih memilih menutup mulut dan ‘menampar’ para pencibirnya dengan permainan indah di lapangan.

Saat skema Catenaccio tengah gandrung dipraktekkan tim Italia, AC Milan mempraktekkannya tak sekedar menumpuk pemain di area pertahanan. Bagi orang Italia, memasang grendel bukan sekadar memperbanyak orang pada daerah pertahanan. Baresi paham dengan filosofi dari skema ini.

Menurut Karl Rappan, skema catenaccio memang bukan sekedar sistem bertahan tak cukup dengan hanya menggunakan pagar, tetapi juga wajib dipasangi sebuah gembok. Gembok pada sistem ini ada pada seorang sweeper atau libero.

getty images

Fungsi inilah yang dimainkan Baresi di Milan. Ketika diserang, sistem catenaccio memainkan man marking kepada setiap pemain lawan. Hanya seorang sweeper yang tidak melakukan tugas itu. Tugas seorang sweeper seperti Baresi ialah pelapis pertahanan ketika rekannya kalah duel dengan striker lawan.

Inilah yang dimaksud oleh Rappan soal skema catenaccio. Tak hanya dihalangi barisan pertahanan yakni pagar, pemain lawan juga harus membuka gemboknya. Ketika di Milan, Baresi mampu berada di tempat yang paling tepat untuk menutup ruang kosong.

Posisinya tidak selalu berada paling belakang atau diantara barisan pertahanan dan kiper. Baresi bisa berada sejajar dengan barisan pertahanan, juga bisa berada di depan barisan pertahanan.

Pensiun dan nomor 6 yang abadi

Legenda hidup Argentina, Diego Maradona bahwa mengakui bahwa dirinya sulit untuk menjinakkan gembok milik Milan itu. “Saya rasa Baresi adalah bek yang hebat, ini adalah memori yang akan saya kenang sepanjang hidup saya,” ucap Diego Maradona saat diwawancarai ketika ia baru saja bertukar kostum dengan Baresi.

Baresi pada akhirnya memutuskan untuk pensiun dari lapangan hijau pada 1997 silam atau tiga tahun setelah kegagalannya bersama timnas Italia di Piala Dunia 1994.

“Jika akan ada pemenang, maka seseorang harus kalah,” kata Baresi mengomentari kegagalannya di final Piala Dunia 1994.

Meski menyisakan kesedihan di level timnas usai perhelatan tersebut, pertandingan perpisahan Baresi pada 28 Oktober 1997 dianggap jadi salah satu momen kesedihan publik sepak bola Italia.

Untuk menghormati kesetiaan, pengabdiaan, dan prestasinya, AC Milan memutuskan untuk juga mengistirahatkan nomor punggung 6 milik Baresi. Keputusan ini seolah menyiratkan bahwa ornamen estetis catenaccio Italia ini tak akan pernah tergantikan oleh siapapun.

Comments
Loading...