LEGENDA: Geoff Hurst, Pemenang Piala Dunia yang Melawan Demensia

Football5star.com, Indonesia – Piala Dunia 1966 adalah puncak kehebatan tim nasional Inggris. Di negeri sendiri mereka sukses menjadi juara. Dan sampai sekarang torehan serupa tidak mampu diulang.

Sudah banyak talenta yang dilahirkan Inggris. Tidak sedikit pula pelatih kelas dunia yang mencoba mengulang 1966. Tapi pada akhirnya semua gagal juga. Jangankan untuk mencapai final, melenggang ke semifinal saja baru dua kali mereka lakukan.

Inggris 1966 memang dihuni oleh banyak talenta hebat. Gordon Banks, Bobby Moore, Ian Callaghan, Charlton bersaaudara, Jimmy Greaves, Roger Hunt, hingga Geoff Hurst adalah bukti keperkasaan mereka. Belum lagi ada sosok Sir Alf Ramsey di balik kemudi tim.

Advanced Television

Dari beberapa nama beken di atas, Geoff Hurst yang paling mencuri perhatian. Dia adalah striker haus gol yang juga jadi penentu The Three Lions angkat trofi Jules Rimet di Wembley.

Kendati begitu, Hurst tidak serta merta dipilih Alf Ramsey sebagai senjata utama. Tahun 1966 adalah tahun debutnya membela negara. Padahal saat itu usianya sudah 24 tahun.

Geoff Hurst tepatnya melakoni debut bersama timnas Februari 1966, lima bulan sebelum dihelatnya Piala Dunia. Dia bermain saat melawan Jerman Barat.

Dari situ, nama Hurst terus melejit. Apalagi performanya bersama West Ham United musim tersebut sangat luar biasa. Tanpa pikir panjang, Alf Ramsey menyertakan namanya dalam daftar 22 pemain ke Piala Dunia.

Sebagai debutan, bomber West Ham United harus bersabar. Pada awal turnamen ia kalah bersaing dengan Jimmy Greaves dan Roger Hunt yang sudah lebih dulu padu.

Hurst sepertinya harus menunggu salah satu dari kedua pemain itu mengalami cedera. Dan benar saja kesempatan baru datang saat Jimmy Greaves mengalami cedera ketika melawan Prancis

Tanpa pemain lain, Alf Ramsey akhirnya memainkan Hurst saat perempat final melawan Argentina. Keputusan ini tepat. Sundulan sang bomber sukses membawa tuan rumah melaju ke semifinal dan akhirnya menginjakkan kaki di final untuk menantang Jerman Barat.

Jelas, Hurst dalam puncak kepercayaan diri waktu itu. Fan juga sudah melihatnya sebagai sosok pembeda di lapangan. Tapi di final, di laga paling penting dalam sejarah Inggris, Alf Ramsey dihadapkan oleh dilema.

Di satu sisi dia tidak mau melewatkan momentum striker West Ham United itu. Tapi di sisi lain sang penyerang utama, Jimmy Greaves, sudah pulih dan siap dimainkan lagi.

Football Assosiation

Tekanan makin besar kala media mulai mempertanyakan siapa yang akan berduet dengan Roger Hunt, Jimmy Greaves atau Geoff Hurst? Setelah mempertimbangkan banyak hal, Ramsey akhirnya tetap pada pendiriannya untuk mengandalkan Hurst di depan.

Hurst tidak menyia-nyiakan kesempatan langka ini. Semula memang tidak berjalan sesuai rencana. Inggris ketinggalan oleh gol Helmut Haller. Ini sekaligus membuat tuan rumah untuk pertama kalinya kebobolan lebih dulu sepanjang turnamen.

Tapi kemudian Hurst membuktikan pengaruhnya. Ia sukses menyamakan kedudukan lewat sundulan usai memanfaatkan tendangan bebas Bobby Moore. Dia pula yang kemudian memastikan kemenangan tuan rumah lewat hat-trick yang dibuat saat extra time.

Inggris berpesta di Wembley. Nama Geoff Hurst dielu-elukan seisi stadion. Tubuhnya diangkat oleh rekan setim untuk merayakan trofi Piala Dunia pertama. Dan yang tak boleh dilupakan, hingga saat ini dia adalah satu-satunya pemain yang sukses membukukan hat-trick di Piala Dunia.

Menaikkan Pamor Sepak Bola Irlandia

Keperkasaan pemain kelahiran London tidak memudar di tingkat klub. Dia adalah legenda West Ham United yang telah mengoleksi 248 gol dari 500 penampilan. Tapi kariernya tidak segemilang beberapa rekannya di timnas.

Hurst tidak pernah memperkuat klub besar layaknya Roger Hunt di Liverpool, Bobby Charlton di Manchester United, atau Jimmy Graeves yang pernah berseragam Chelsea dan AC Milan.

Akan tetapi, percaya atau tidak, dia tidak pernah berambisi untuk bermain di tim-tim besar. These Football Times pernah menyebutnya sebagai pesepak bola yang anti-ketenaran.

Ke mana dan di klub apa dia berada bukanlah soal. Yang penting bagi Geoff Hurst adalah bermain dengan caranya sendiri dan menemukan kenyamanan di sana.

Sepanjang karier profesionalnya dia hanya memperkuat lima klub. Kelima klub itu adalah West Ham United, Stoke city, West Bromwich Albion, Seattle Sounders, dan Cork Celtic. Ya, tidak ada klub besar. Bahkan bisa dibilang hampir semuanya semenjana.

whufc.com

Tapi di sinilah spesialnya Hurst. Dia sebenarnya pernah mendapat tawaran bermain di klub-klub mapan. Terlebih usai menjadi pahlawan Inggris di Piala Dunia. Liverpool, Manchester United, hingga AC Milan sempat mendekati. Tapi ia menolak itu karena masih cinta klub kampung halaman, West Ham.

Setelah masa jayanya habis bersama The Hammers, karier Hurst di klub selanjutnya terbilang singkat. Belum selesai rasa terkejut fan saat melihatnya terbang ke Amerika Serikat untuk Seattle Sounders 1976 silam, ia balik lagi ke Eropa untuk berseragam Cork Celtic.

Tidak banyak yang tahu Cork Celtic. Maklum saja, klub Irlandia itu sudah bubar sejak 1979 silam. Dan Hurst datang dua tahun sebelumnya.

Republik Irlandia memang tidak memiliki kompetisi yang mapan. Saat ini saja mereka kalah pamor dari Liga Skotlandia. Sedangkan dulu, Liga Irlandia dianggap tidak lebih dari sekadar kompetisi semi profesional.

Anggapan ini pula yang ingin diubah manajemen Cork Celtic yang saat itu cukup diperhitungkan. Melalui pemain-pemain top dunia mereka mencoba menaikkan pamor klub dan kompetisi.

Dan tentu saja pilihan bukan hanya jatuh kepda Geoff Hurst. Cork Celtic juga menggaet rekannya di timnas Inggris, Bobby Tambling, serta legenda Jerman, Uwe Seeler, yang saat itu sudah berumur 41 tahun.

Hurst akhirnya tiba musim dingin 1977. Banyak yang menganggap bahwa kepindahan ini karena dia sudah tidak mampu bersaing di level profesional sehingga mau meniti karier di Irlandia.

Kehadiran Hurst beserta Bobby Tambling dan Uwe Seeler benar-benar membentuk pamor baru Liga Irlandia. Negara-negara tetangga seperti Skotlandia, Inggris, maupun Irlandia Utara mulai membicarakan kompetisi mereka.

Sementara penduduk asli sudah tidak ragu untuk memenuhi stadion. Ya, sejak Hurst datang, kehadiran suporter di stadion meningkat tiga kali lipat. Stadion yang tadinya hampir tidak pernah terisi setengah kapasitas mulai full seat.

Setelah tiga bintang tersebut, bintang-bintang lain mulai berdatangan ke Liga Irlandia pada tahun-tahun berikutnya. Mulai dari Bobby Charlton, Gordon Banks, Jimmy Johnstone, hingga George Best.

“Mendapatkan seorang pemain berkualitas seperti Geoff Hurst adalah pencapaian luar biasa untuk Cork,” kata Michael Tobin, rekan Hurst di Cork Celtic kepada These Football Times.

“Setelah kami memenangkan liga pada 1974 dengan jumlah penonton yang sangat banyak, penonton kami pada 1976 menjadi sedikit sehingga klub mengambil keputusan untuk mendapatkan nama besar. Dan dia adalah Hurst,” ia menambahkan.

Melawan Demensia Lewat Larangan Menyundul Bola

Peraih satu trofi Piala FA bersama West Ham United 1964 silam akhirnya pensiun Juli 1977. Dia sempat berkarier sebagai pelatih dan menangani beberapa klub seperti Telford United, Chelsea, dan Al-Kuwait.

Akan tetapi karier manajerialnya berlangsung pendek. Pemilik 49 caps bersama The Three Lions kemudian memutuskan berhenti 1984 silam.

Sekarang dia sangat konsen dengan kesehatan para pesepak bola, terutama mereka yang sudah pensiun dan menjalani masa tua. Satu yang menjadi fokus Hurst adalah ancaman penyakit demensia.

Demensia adalah penyakit yang merusak otak. Penderitanya akan mengalami penurunan daya ingat. Kondisi seperti ini bisa berdampak pada gaya hidup, kemampuan bersosialisasi, hingga aktivitas sehari-hari.

Salah satu penyebab dari banyaknya pesepak bola yang mengidap demensia karena kebiasaan menyundul bola semasa bermain. John Charlton, anak dari Stiles Charlton 2017 lalu mengatakan bahwa sepak bola jadi faktor utama sang ayah mengidap demensia

Pendapat soal menyundul bola bisa merusak otak diperkuat oleh penelitian yang dilakukan University College London 2017 lalu. Berdasarkan pemeriksaan post-mortem dari otak enam pemain ditemukan gejala enefalopati traumatik kronis (CTE).

“Kami telah menunjukkan bahwa ada bukti cedera kepala yang dialami pemain bola. Cedera ini berdampak pada kehidupan dan kesehatan mereka yang mengalami demensia,” ujar Profesor Huw Morris dari University College London kepada Telegraph.

Sementara itu, studi Universitas Glasgow menemukan bahwa mantan pesepak bola tiga kali lebih berisiko meninggal karena demensia.

express.co.uk

Di Inggris saja, beberapa legenda meninggal dunia akibat demensia. Yang bikin Hurst sedih bukan main, beberapa di antara mereka adalah rekannya saat menjuarai Piala Dunia 1966. Sebut saja Jack Charlton, Stiles Charlton, Martin Peters, Ramon Wilson, dan sekarang Bobby Charlton sedang terbaring lemah karena demensia.

Fenomena ini pula yang membuat Hurst ingin semua pihak di sepak bola memikirkan ancaman demensia. “Buktinya terus muncul sampai sekarang. Saya selalu berpikir akan kembali beberapa tahun lalu mungkin ada persentasi tinggi pemain sepak bola mengidap demensia,” katanya kepada Talksport.

“Hasil terbaru menunjukkan pesepak bola tiga kali lebih mungkin mengidap demensia. Ada dua elemen penting yang harus dipikirkan. Yaitu tidak terlalu banyak berlatih dengan sundulan dan para pemain yang masih berusi 10 tahun dilarang menyundul bola karena otak mereka belum berkembang,” ia menambahkan.

Geoff Hurst, yang di final Piala Dunia 1966 mencetak gol lewat sundulan juga khawatir jika suatu saat dirinya mengalami nasib seperti rekan-rekannya itu. Ketakutan itu bertambah mengingat usianya yang saat ini menginjak 79 tahun.

“Ini mengkhawatirkan sampai tingkat tertentu, tapi saya tidak akan kehilangan waktu tidur karena itu. Apa yang selalu saya pikirkan, bahkan sebelum demensia ini dengan rekan satu tim saya yang meninggal, bahwa menjadi tua adalah undian tentang apa yang Anda alami,” imbuhnya.

Agak mustahil memang membayangkan sepak bola tanpa mengandalkan sundulan kepala. Tapi lagi-lagi, sekeras apa pun sepak bola, seprestisius apa pun hegemoninya dia tidak pantas membuat para pelakunya kehilangan nyawa di hari tua karena demensia.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More