George Weah, Superstar Pertama Afrika yang Sesungguhnya

Football5star.com, Indonesia – Bicara soal pesepak bola terbaik Afrika sepanjang masa, pasti banyak nama yang muncul. Samuel Eto’o, Didier Drogba, Roger Milla atau George Weah. Semuanya bisa benar berdasarkan kriteria tertentu.

Africa Ranking pada 2017, seperti halnya BeSoccer, menempatkan Samuel Eto’o di tempat teratas. Di belakangnya, barulah George Weah. Namun, ada satu hal menarik dalam bahasan soal Weah. Mereka menyebut mantan striker Liberia tersebut sebagai superstar pertama Afrika.

George Weah dinonatkan sebagai Pemain Terbaik Abad Ini oleh IFFHS.
iffhs.de

George Weah memang tak pernah berkiprah di Piala Dunia. Dia juga tak pernah membawa timnas Liberia berjaya di Piala Afrika. Namun, kiprahnya tetap istimewa. IFFHS pada 1996 bahkan menetapkan dia sebagai Peepak Bola Afrika Terbaik Abad Ini.

Lahir dengan nama George Tawlon Manneh Oppong Ousman Weah, pria asal Liberia ini punya karier yang terbilang unik. Publik pernah mengenalnya sebagai salah satu pesepak bola terbaik di dunia. Kini, ia berdiri di kursi tertinggi sebagai seorang presiden.

Meniti karier di Young Survivors Claratown, Weah muda secara perlahan merajut mimpinya menjadi pemain dunia. Hingga pada akhirnya, AS Monaco bersedia merekrutnya pada 1988. Itu adalah momentum awal sepak terjangnya di Eropa.

Buah Keisengan Wenger

Kisah Weah di Eropa tak bisa dilepaskan dari sosok Arsene Wenger. Tanpa “keisengan” pelatih berjuluk The Professor itu, mungkin dunia tak akan pernah mengenal George Weah sebagai striker dahsyat.

“Seorang teman saya bekerja di Afrika. Saya bertanya apakah dia melihat ada seorang striker hebat. Dia merekomendasikan George. Lalu, saya suruh seseorang untuk memantau dia. Kami lantas memboyong George dengan dana 50.000 pounds,” kenang Wenger di situs resmi Arsenal.

Sang striker pun tak lantas mengemuka begitu saja. Datang ke Monaco, dia sempat mengalami awal sulit. Namun, wejangan Wenger menjadi tonik tersendiri. “Butuh beberapa lama bagi dia untuk beradaptasi, tapi dia sangat ambisius, berbakat, dan sangat tekun,” ucap The Professor.

Hal itu diakui Weah. “Suatu hari, saya merasa cukup letih berlatih dan berkata kepada dia (Wenger) bahwa saya sakit kepala. Dia berkata kepada saya, ‘George, saya tahu ini berat. Namun, kamu perlu bekerja keras. Saya yakin, dengan talentamu, kamu bisa jadi salah satu pemain terbaik di dunia.’,” urai dia kepada Daily Post pada 2017.

Kata-kata Wenger menjadi kenyataan. Perlahan tapi pasti, dia menjadi seorang striker fenomenal yang menakutkan siapa saja. Seorang pengamat sepak bola tanah air, Pangeran Siahaan, pernah menyebut Weah kala itu bagaikan Lionel Messi saat ini.

Itu bukan basa-basi. Weah pernah melakukan hal yang juga dilakukan Messi, juga Diego Maradona. Itu adalah mencetak gol dengan solo run dari daerah sendiri. Bahkan, Weah lebih hebat karena menggiring bola dari kotak penalti Milan saat menjebol gawang Hellas Verona pada musim 1996-97.

Non-Eropa Pertama yang Meraih Ballon d’Or

George Weah juga seorang pembuat sejarah. Di ajang Ballon d’Or, dia tercatat sebagai pemain non-Eropa pertama yang sukses menjadi yang terbaik. Itu ditorehkan pada 1995, tahun saat dia hengkang dari Paris Saint-Germain ke AC Milan.

George Weah menjadi pemain non-Eropa pertama yang meraih Ballon d'Or.
the24.ie

Memang benar, striker maut Liberia itu diuntungkan perubahan sistem. Tahun itu, untuk kali pertama pemain non-Eropa diikutkan dalam pemilihan. Namun, tetap saja, tanpa performa hebat, dia tak akan mampu berada di atas Juergen Klinsmann, Jari Litmanen, dan Alessandro Del Piero.

Keberhasilannya di Ballon d’Or dipastikan bukan keberuntungan. Itu karena dia juga dinobatkan sebagai Pemain Terbaik Afrika dan Pemain Terbaik FIFA pada tahun itu. Hingga kini, Weah adalah satu-satunya pemain Afrika yang pernah merebut Ballon d’Or dan dinobatkan sebagai pemain Terbaik FIFA.

Weah diangkut ke Milan pada 1995 dengan dana hanya 7 juta euro dari Paris Saint-Germain. Dia diproyeksi sebagai pengganti Marco van Basten yang tak kunjung pulih dari cedera lutut berkepanjangan. Musim itu, Van Basten resmi dilepas I Rossoneri.

Tak seperti Van Basten, Weah memang gagal merebut capocanonniere. Selama lima musim berkostum I Rossoneri, torehan gol terbanyaknya hanya 13 buah. Namun begitu, duetnya dengan Roberto Baggio berhasil membawa Milan dua kali juara Serie A.

Karier Weah mulai meredup pada awal 2000 ketika Milan memutuskan untuk meminjamkannya ke Chelsea di bursa transfer musim dingin. Bersama klub asal London tersebut, Weah lebih sering menghabiskan waktu di bangku cadangan, hingga masa peminjamannya habis pada akhir musim.

Milan pun melepasnya secara gratis ke Manchester City pada musim panas 2000. Berselang enam bulan, ia kembali dilepas tanpa biaya ke Olympique Marseille, yang lantas melepasnya ke Al Jazira pada akhir musim 2000-01.

Sukses di Dunia Politik

Setelah memutuskan pensiun pada 2003, Weah membuat gebrakan dalam kariernya. Ia memberanikan diri terjun ke dunia politik. Tidak tanggung-tanggung, ia mengincar kursi kepresidenan pada pemilu 2005 dengan dukungan dari partai yang ia dirikan sendiri, Congress for Democratic Change.

Sebenarnya, itu tidak berada dalam rencana awal Weah. Saat gantung sepatu, dia mengaku lebih berhasrat menjadi pebisnis. Meskipun banyak orang mengusulkan dia mencalonkan diri sebagai presiden, dia dengan tegas berkata, “Saya ini bukan politikus!”

Akan tetapi, kegeraman terhadap situasi di Liberia tak bisa disembunyikan. Hal itu sempat terlontar dari mulutnya saat mengumumkan pensiun. “Saya menikmati jadi pebisnis. Saya tak akan kembali ke Liberia lagi. Tidak akan, sampai ada perubahan pemerintahan. Orang-orang saat ini hidup dalam ketakutan!” kecam dia kala itu.

Jadilah dia maju sebagai calon presiden pada 2005. Situasi politik Liberia tengah kacau usai Perang Sipil selama empat tahun. Tantangan Weah tak berhenti di situ. Dalam pemilihan umum, ia berhadapan dengan politisi kawakan, Ellen Johnson Sirleaf.

George Weah - Liberia - Presiden - Football5star
theaustralian.com.au

Jam terbang yang belum banyak di dunia politik menjadi salah satu alasan dirinya gagal menjadi presiden di masa itu. Kontroversi kewarganegaraannya juga sempat mencuat ke publik, yang menyebabkan elektabilitasnya tidak terlalu unggul.

Gagal pada pemilihan umum 2005, Weah tidak menyerah. Setelah menapaki tangga politik sebagai Senat pada 2014, ia kembali memberanikan diri menjadi presiden pada 2016. Kali ini, targetnya terpenuhi usai mengungguli lawannya, Joseph Boakai pada pemilu dua putaran dan unggul suara lebih dari 60 persen.

Ia tercatat sebagai Presiden Liberia pertama yang berasal dari kalangan atlet. Ia bertekad memerangi korupsi serta meningkatkan taraf literasi rakyat negara.

“Mereka bilang saya tidak layak menjadi presiden karena latar belakang pendidikan. Padahal, yang dibutuhkan Liberia adalah seseorang yang punya jiwa kepemimpinan dan tahu betul permasalahan bangsa. Satu hal yang tidak akan saya lakukan adalah memecah belah bangsa sendiri, Liberia.”

Comments
Loading...