Jean-Pierre Papin: Ditabrak Mobil Hingga Jadi Mesin Gol Mematikan

Football5star.com, Indonesia – Pada usia 13 tahun legenda sepak bola Prancis Jean-Pierre Papin ternyata pernah alami nasib nahas. Papin ditabrak mobil dengan kecepatan tinggi dan membuatnya patah kaki.

Kejadian miris ini dialami Papin tak lama setelah ia berikrar kepada sang ibu bahwa dirinya kelak akan jadi pesepak bola profesional, “Suka atau tidak, aku akan menjadi pesepak bola profesional,” kata Jean-Pierre Papin seperti dikutip Football5star.com dari L’Equipe, Kamis (9/1/2019).

Tekad dan keinginan kuat ini yang membuat patah kaki yang dialami Papin sembuh dalam waktu cukup cepat. Papin sendiri mengakui bahwa setelah tabrakan tersebut, dirinya sempat mengubur cita-citanya jadi pesepak bola.

“Ini adalah keajaiban yang sebenarnya, saya tidak bermaksud untuk bermain sepak bola setelah patah kaki itu. Tekad untuk jadi pesepak bola menjadikan keajaiban itu bisa terjadi,” tambahnya.

readfootball.co

Tujuh tahun setelah insiden patah kaki itu, Papin memulai karier profesionalnya. Di tahun-tahun sebelumnya, ia memang fokus di karier junior dan semiprofesional. Valenciennes yang menjadi tim profesional pertamanya.

Saat itu Valenciennes langsung jadi mesin gol untuk tim yang berkiprah di Ligue 2 tersebut. Dari 35 pertandingan yang dilakoni, Papin di musim pertama bersama Valenciennes mencetak 16 gol. Jumlah gol ini membuat tim Liga Belgia tertarik untuk meminangnya.

Meski hanya bermain semusim di Liga Belgia, penampilan Papin menarik minat Henri Michel pelatih Prancis untuk Piala Dunia 1986. Ia pun dipanggil untuk memperkuat tim Ayam Jantan meski pemanggilan ini mendapat pro kontra bagi publik sepak bola Prancis.

Pihak yang kontra di Prancis menilai bahwa pemanggilan Papin sangat tak masuk akal. Alasannya saat itu, ia hanya bermain di Liga Belgia dan Papin pun masih tercatat sebagai pemain tim U-23 Prancis. Meski dapat cibiran, Papin mampu membuktikkan pemanggilan itu tak keliru.

Dua gol mampu dikoleksi Papin. Satu gol ia catatkan saat Prancis menang 4-2 atas Belgia di pertandingan perebutan tempat ketiga. Sedangkan satu gol lainnya dicetak saat Prancis menang 1-0 atas Kanada di babak fase grup.

Berjaya di Les Phoceens, Gagal di Die Roten

Setelah perhelatan Piala Dunia 1986, Papin kembali ke Prancis. Klub berjuluk Les Phoceens, Marseille sukses mendapatkan jasa Papin. Di klub inilah publik sepak bola dunia mulai mengenalnya dengan gayanya mencetak gol.

Pada saat itu, sejumlah media dan pencinta sepak bola dunia mengenal gaya mencetak gol Papin dengan sebutan Le Papinnades. Istilah itu mengacu pada cara Papin cetak gol lewat sepakan voli dengan sudut cukup sempit.

“Saya memiliki bakat untuk mencetak gol. Tanpa kemampuan itu, saya tidak akan berarti apa-apa di sepak bola.” kata Papin seperti dikutip dari L’Equipe.

Enam musim di Marseille, Papin terus menunjukkan peningkatan capaian gol. Di musim pertama, ia cetak 16 gol. Di musim kedua meningkat menjadi 23 gol. Jumlah gol tersebut terus naik hingga di musim terakhir di Marseille catatkan 38 gol.

pausefoot.com

Secara keseluruhan, Papin mencatatkan 134 gol dari 215 pertandingan. Torehan gol ini membuat raksasa Serie A AC Milan untuk meminangnya. Kepindahan Papin ke Milan tercatat sebagai transfer termahal dunia yakni 20 juta poundsterling.

Sayangnya torehan gol Papin bersama Milan menurun. Dua musim di San Siro, Papin hanya mampu mencetak 18 gol dari 40 pertandingan. Menurunnya jumlah gol itu lebih karena gaya bermain sepak bola Italia yang tak sesuainya dengan dirinya.

Milan yang saat itu dilatih oleh Fabio Capello menerapkan gaya main sangat defensif. Sejumlah pihak menyebut bahwa gaya main Capello terlihat membosankan dan hancurkan Papin.

“Sifat defensif dari pendekatan Milan membuat keputusan Papin untuk pindah ke tim lain,” tulis sejumlah media Italia. Meski begitu, hal tersebut tak menghalangi Bayern Munich untuk merekrutnya.

Di klub berjuluk Die Roten ini, karier Papin menurun. Cedera jadi faktor utama Papin tak mampu berkembang di Bundesliga. Dari 27 penampilan di Munich, Papin hanya catatkan 3 gol.

Menjadi warga kehormatan Prancis

Pada 2005 lalu, Papin mendapat penghargaan spesial dari negaranya sendiri. Jean-Pierre Papin, diberi penghargaan istimewa oleh Prancis. Ia dianugerahi titel Legion d’Honneur yang merupakan penghargaan tertinggi bagi seorang warga negara Prancis.

“Saya sulit menemukan kata yang tepat untuk menggambarkan perasaanku sewaktu menerima dua surat yang mengabarkan berita baik ini: satu dari Menteri Olahraga Jean-Francois Lamour, dan satunya dari Perdana Menteri Jacques Chirac.” kata Papin.

pausefoot.com

“Saya juga hampir merasa malu menerima penghargaan ini karena peraihnya adalah orang-orang yang memberi kontribusi begitu banyak buat Prancis,” tutur Jean-Pierre Papin dilansir SBS.

Kegiatan Papin pun tidak hanya sekedar di lapangan sepak bola. Bersama istrinya, papin adalah motor organisasi ‘Neuf du Coeur’ yang bertujuan mengumpulkan dana amal buat penderita penyakit yang menyerang otak, yang juga dialami anak perempuannya, Emilie.

Comments
Loading...