Legenda Johan Neeskens, Berlian Kasar yang Jadi Banteng di Catalan

Football5star.com, Indonesia – Jika bicara Total Football milik Belanda kebanyakan orang akan menyebut nama Rinus Michels tentunya dan Johan Cruyff. Tapi ada satu nama yang membuat gaya main tim Belanda era 70-an itu menjadi sempurna, ia adalah Johan Neeskens.

Thesefootballtimes menuliskan bahwa Neeskens ialah berlian kasar yang diekstraksi dari akademi Racing Club Heemstede. Ya, Neeskens bukan berasal dari akademi Ajax seperti halnya Johan Cruyff. Kehadiran Neeskens jadi penyempurna taktik Total Football milik Rinus Michels.

Di awal kariernya ia berperan sebagai seorang bek kanan, saat itu Neeskens dianggap anugrah bagi banyak pelatih. Ia memiliki kegigihan dan keganasan saat membantu skema serangan dan bertahan.

Legenda Johan Neeskens, Berlian Kasar yang Jadi Banteng di Catalan2
getty images

“Singkatnya, jika Cruyff adalah yin yang menjadi contoh pertama, Johan Neeskens adalah yang yang mencontoh terakhir,” tulis Thesefootballtimes tentang peran Neeskens di taktik Total Football milik Belanda.

Johannes Jacobus Neeskens lahir pada 15 September 1951 di Heemstede, Belanda. Ia langsung masuk ke akademi di usia belia. Saat itu, dirinya dianggap memiliki kecepatan di atas rata-rata. Mantan pemain Ajax, Sjaak Swart pernah menyebut bahwa kecepatan dari Neeskens membuatnya bermain tidak hanya menjadi seorang full back tapi juga gelandang sentral.

Tidak mengherankan jika kemudian Rinus Michels saat memanggilnya ke timnas Belanda sempat mem-plot dirinya di lapangan tengah bersama dua pemain Feyenoord, Wim Jansen dan Wim van Hanegem. Ketiga pemain ini saat itu mampu meredam agresifitas Brasil di sebuah pertandingan.

“Faktanya Neeskens hampir bermain sendirian di tengah lapangan. Kecepatannya membuat terdorong jauh ke depan, hal itu membuat pemain Brasil sibuk di area pertahanan. Kondisi ini membuat Cruyff dan Van Hanagem memiliki banyak ruang kosong di lini tengah,”

Menjadi El Toro di Barcelona

Setelah membela Ajax dari 1970 hingga 1974 dan mempersembahkan 10 gelar, termasuk tiga gelar Liga Champions, Neeskens hijrah ke Barcelona. Ia menyusul Johan Cruyff dan Rinus Michels yang sudah terlebih dahulu berada di sana.

Di awal kedatangannya, publik Catalan sempat menjulukinya Johan Segon atau Johan yang kedua. Namun lambat laun julukan itu berubah, Neeskens pun lebih sering dijuluki si banteng atau El Toro.

Julukan itu berdasarkan cara bermainnya di lapangan hijau. Neeskens sangat angkuh dan agresif saat pertandingan. Ia memiliki komitmen yang besar dan dianggap sebagai gladiator tak pantang menyerah.

“Hampir semua orang saat itu ingat bagaimana ia seperti banteng pemangsa yang mendorong dan menggaruk tanah, mendengus ke bawah dan membuat mangsanya menderita. Tidak mengherankan jika publik Catalan menjulukinya El Toro,” tulis Thesefootballtimes.

Neeskens pernah mengatakan bahwa ia memang terlahir sangat kompetitif. Dirinya selau berkeinginan untuk meraih kemenangan di tiap pertandingan.

“Ketika saya berjalan ke lapangan, saya selalu ingin menang dan mendapatkan bola. Saya tidak peduli dengan diri saya sendiri,” ucap Neeskens.

Sayangnya bermain bersama Barca selama 6 musim, Neeskens hanya mampu menyumbangkan dua gelar, yakni Copa del Rey 1977-78 dan Piala Winers 1978-79. 140 pertandingan dilakoninya bersama Barca dengan torehan 35 gol.

Pada 1979, datang tawaran dari klub Amerika Serikat, New York Cosmos. Ia pun hijrah ke Amerika Serikat dan di saat yang bersamaan Johan Cruyff juga pindah ke Los Angeles Aztecs. Sayangnya keputusan ini membuatnya jatuh ke lembah hitam.

Akhir Karier dan obat-obatan terlarang

Keputusan Neeskens untuk pindah ke Amerika Serikat membuatnya semakin dipuja oleh banyak pihak. Ia mendapat lampu sorot dari media. Jika Cruyff dianggap sebagai John Lennon, maka Neeskens ialah George Harrison begitu media Amerika menyebut kedatangan keduanya.

Kariernya yang moncer baik di level timnas dan klub membuat Neeskens memang jadi bintang idola. Didukung wajah rupawan serta rambut gondrong, ia pun dianggap bintang rock lapangan hijau.

Tiap malam, Neeskens dikelilingi banyak wanita cantik. Pindah ke Amerika Serikat, ia menemukan ‘surga dunia’. Di saat kariernya jeblok bersama New York Cosmos, Neeskens justru dikabarkan menjadi kecanduan alkohol, kokain, dan judi.

Legenda Johan Neeskens, Berlian Kasar yang Jadi Banteng di Catalan3
zimbio

Kondisi ini pun membuat dirinya hampir tidak dipercaya untuk bisa kembali memperkuat Belanda. Pelatih Belanda saat itu, Kees Rijvers pada babak kualifikasi Piala Dunia 1982 sampai harus terbang ke Amerika Serikat untuk memantau langsung perkembangan Neeskens.

Rijvers mengatakan kepada Neeskens bahwa ia bisa mendapat kesempatan membela Belanda di laga melawan Belgia jika mampu memulihkan kebugaran fisiknya. Tawaran itu diterima Neeskens, ia pun disebut terus berlatih sepanjang hari. Setiap sore, Neeskens datang ke stadion untuk berlatih sendirian.

Neeskens memang pada akhirnya bisa kembali memperkuat Belanda dan melakoni pertandingan di akhir 1981 di Stadion De Kuip. Awalnya para pendukung Belanda tak mengenali pemain kurus dengan rambut cokelat. Kokain dan alkohol memang merengut kebugaran tubuhnya. Namun ketika ia berlari dan menunjukkan skill, De Kuip berguncang karena reaksi para penonton.

Pada 1991, Johan Neeskens memutuskan pensiun di klub kecil Swiss, Zug. Setelah pensiun, ia tercatat pernah menjadi asisten pelatih Australia, NEC, Belanda, Barcelona, hingga Galatasaray.