Legenda: Jose Luis Chilavert, Si Anjing Galak Berhati Malaikat

Football5star.com, Indonesia – Bagi orang Paraguay, kiper satu ini bukan sekedar pesepak bola. Pemain berjuluk The Bulldog ini dianggap tokoh revolusioner yang setara dengan Che Guevara.

Media ternama Inggris, BBC pada 2002 menyebut bahwa pemain Jose Luis Chilavert lebih dari sekedar seorang pesepak bola tapi juga tokoh inspirasi bagi masyarakat Paraguay. Dia bahkan sempat digadang-gadang bisa menjadi presiden Paraguay di masa depan.

Meski mendapat pengakuan seperti itu, Chilavert menepisnya. Ia menganggap dirinya tak sebesar itu. “Tapi Paraguay bukan sekedar Chilavert,” kata kiper kelahiran Luque.

Pengakuan terhadap sisi lain Chilavert ini tak berlebihan. Sejak memutuskan untuk pensiun dari sepak bola, ia banyak mengkritik soal praktek korupsi yang dilakukan oleh politisi negaranya. Pada 2016, ia meminta pejabat di Paraguay untuk menginvestasikan uang pada anak-anak kurang mampu.

Legenda: Jose Luis Chilavert, Si Anjing Galak Berhati Malaikat
The National

“Dalam karier, saya tak pernah merasakan tekanan. Tekanan adalah ketika Anda sebagai pejabat tidak mampu memberi makan kepada anak-anak.” kata Chilavert seperti dikutip The National.

Semenjak masih berkarier di lapangan hijau, kiper bernama lengkap José Luis Félix Chilavert González itu memang dikenal dengan karakter keras, emosional, dan tak sungkan untuk berbicara lantang. Berani untuk mengungkap apa yag menurutnya kebenaran sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari Chilavert.

Jika menilik dari latar belakang keluarganya, tak mengherankan jika kepribadian Chilavert seperti itu. Ia berasal dari keluarga tak mampu, ayahnya, Catalino Chilavert hanya seorang pegawai rendahan. Sejak usia 7 tahun, ia membantu ibunya, Nicolasa Gonzalez memeras susu sapi dan menjualnya ke kota.

Karier sepak bola Jose Luis Chilavert

Chilavert memulai kariernya di sepak bola saat membela Sportivo Luqueño, klub kota kelahirannya pada 1982. Sejak bermain di klub kota kelahirannya ini, insting Chilavert untuk mencetak gol terasah.

Satu tahun setelah bergabung dengan Sportivo Luqueno, ia tercatat mencetak gol debutnya melalui eksekusi tendangan bebas. Di klub ini, kemampuan Chilavert sebagai kiper sangat terasah. Bagaimana tidak, di Sportivo Luqueno, Chilavert dilatih langsung oleh legenda kiper Paraguay, Modesto Sandoval.

Sandoval juga yang beberapa kali bereksperimen skema menyerang mendorong Chilavert melakukan build up. Sandoval seperti dikutip dari The National juga selalu memberikan porsi latihan tendangan bebas.

Pada 1984, ia hijrah ke klub Guarani. Meski semusim bermain di klub ini, Chilavert catatkan 1 gol dari 19 penampilannya. Catatan ini membuat klub Argentina, San Lorenzo meminangnya. Meski sudah mencetak 5 gol di klub sebelumnya, San Lorenzo masih belum percaya ia bisa mencetak gol.

Legenda: Jose Luis Chilavert, Si Anjing Galak Berhati Malaikat
getty images

Di klub Argentina itu Chilavert membukukan gol pertamanya melalui eksekusi penalti. Setelah itu ia terus mengasah kemampuan tendangan bebasnya. “Kemudian, saya mulai berlatih penalti dan tendangan bebas sampai mereka memberi saya kepercayaan,” katanya.

Pihak klub pun kagum dengan apa yang dilakukan Chilavert. Setiap hari, ia tak langsung pulang begitu sesi latihan reguler selesai. Ia selalu berada di lapangan dan berlatih tendangan bebas. Ia bisa melakukan latihan tambahan selama 2 hingga 3 jam.

Tiga musim di San Lorenzo, Chilavert mendapat tawaran untuk bermain di kompetisi Eropa. Klub Spanyol, Real Zaragoza yang saat itu diasuh Radomir Antić meminang Chilavert pada 1988. Di awal, Chilavert justru jadi public enemy suporter klub berjuluk La Romareda.

Chilavert dianggap terlalu berani untuk maju meninggalkan sarangnya. Wajar jika suporter Zaragoza kaget dan gerah dengan gaya main Chilavert, di era tersebut tidak ada kiper seeksentrik dirinya.

“Saya masih ingat, para suporter panik. Mereka terus berteriak dari pinggir lapangan dan meminta saya kembali ke gawang. Tapi saya tidak peduli pendapat orang lain dan percaya dengan kemampuan saya,” kata Chilavert seperti dikutip dari marca.

Pada 1991, ia meninggalkan Zaragoza dan kembali ke Argentina. Ia memutuskan menerima pinangan dari Vélez Sarsfield. Di klub inilah, Chilavert mendapat pujian dan kritikan, seperti menjadi kiper pertama yang mencetak hat-trick dan jadi bulan-bulanan media Argentina.

“Di Argentina, mereka tidak dapat memaafkan kesuksesan saya karena saya orang Paraguay. Mereka adalah orang yang berpikir bahwa orang Paraguay tak punya hak untuk sukses di sana,” kata Paraguay menceritakan hal buruk saat ia bermain di Velez.

Chilavert bahkan membandingkan dirinya dengan legenda Argentina, Diego Maradona. Menurut Chilavert, media Argentina tak adil dengan kondisinya. Pada 1994, Maradona sempat membuat insiden dengan menembak ke udara saat diwawancarai sejumlah wartawan.

“Pembunuh, pemerkosa, dan seseorang yang menembakkan pistol ke wartawan tidak akan mereka hukum. Tapi mereka akan dengan cepat menghukum saya ketika melakukan kesalahan,” ungkapnya.

Si Bulldog berhati malaikat

Meski sering mendapat kritik di Argentina, Chilavert menutup karier sepak bolanya di Velez Sarsfield pada 2004. Setelah gantung sepatu, Chilavert tetap aktif menyuarakan apa yang menurutnya menjadi kebenaran.

Pada 2008 lalu misalnya, bersama dengan Edgar Baumann, dirinya melakukan kampanye untuk membongkar kasus korupsi olahraga di Paraguay. Chilavert dan Baumann melakukan gugatan kepada Komite Olimpiade Paraguay, Ramón Zubizarreta.

Proses hukum ini dijalani oleh Chilavert lebih dari satu tahun. Perjuangan tersebut tak sia-sia, pada 2009, Mahkamah Agung Paraguay memvonis Zubizarreta bersalah karena melakukan korupsi uang beasiswa kontingen Paraguay di Olimpade 2000.

Praktek melawan korupsi memang sudah cukup lama dilakukan oleh Chilavert. Pada Copa Amrerica 1999 misalnya ia menolak bertanding membela Paraguay karena protes terhadap tuduhan korupsi direktur CONMEBOL.

Ada satu kisah menarik lainnya soal sisi malaikat Chilavert. Pada Piala Dunia Antarklub 1994 di Tokyo, Jepang, Chilavert sukses mengantarkan Velez menjadi juara setelah kalahkan AC Milan 2-0. Usai pertandingan, Chilavert mendapat uang tunai 14 ribu dollar dan tiga tas berisi sarung tangan kiper dari Adidas.

Namun saat akan pulang, petugas bandara Tokyo menghentikan Chilavert dan akan menyita tiga tas tersebut. Chilavert menolak dan seperti dikutip dari The National, ia bertengkar hebat dengan para petugas itu.

Publik sempat mengaggap bahwa tindakan Chilavert itu berlebihan. Namun ia memiliki alasan khusus. Berhasil tiba di Buenos Aires dengan tiga tas tersebut, Chilavert rupanya membagikan sarung tangan Adidas itu ke sejumlah akademi klub. Ia juga menyumbangkan pakaian dan uang hadiah ke sejumlah rumah sakit.

Memberi bantuan kepada kaum papa terus dijalankan oleh kiper yang pernah menghantam Roberto Carlos dan Faustino Asprilla itu. Media lokal Paraguay menyebut bahwa Jose Luis Chilavert sangat sering berpergian ke pelosok menggunakan truk Toyota miliknya dan membagikan bantuan kepada kaum papa.

“Ia juga orang yang religius. Ia tidak akan tidur saat tahu ada anak-anak yang tidak memiliki rumah. Dia suka pergi ke sekolah dan memberikan tanda tangan kepada mereka serta bantuan.” tulis salah satu media lokal Paraguay.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More