LEGENDA: Papa Bouba Diop, Pencetak Sejarah yang Ditakuti Paul Scholes

Football5star.com, Indonesia – Sebelum memasuki era milenium baru, sepak bola Senegal tidak pernah dipandang. Di daratan Afrika saja mereka kalah kelas dari Kamerun, Nigeria, bahkan Mesir.

Namun, semua cerita berbalik pada milenium baru. Piala Dunia 2002 jadi titik balik kehebatan Senegal. Dari turnamen di Korea Selatan dan Jepang, mereka memulai hegemoninya di sepak bola.

Dari Piala Dunia 2002 pula muncul nama-nama berbakat Senegal. Sampai sekarang negara di Afrika Barat tak henti-hentinya memasok pemain terbaik di kompetisi elit Eropa.

futaa

Saat ini Senegal  memiliki nama-nama hebat seperti Sadio Mane, Idrissa Gueye, Keita Balde, Shiekhou Kouyate, Ismaila Sarr, serta Kalidou Koulibaly. Secara tidak langsung, dipercayanya mereka memperkuat klub-klub top Eropa tak lepas dari jasa para seniornya di Piala Dunia 2002.

Seperti yang disinggung di atas, Piala Dunia 2002 jadi tonggak sejarah untuk Senegal. Mereka lolos ke turnamen terakbar di dunia untuk pertama kalinya. Saat itu, tidak ada pemain mereka yang dikenal.

Baru pada laga pertama, skuat Bruno Metsu membuka mata dan telinga dunia. Mereka mengalahkan juara bertahan Prancis dengan skor tipis 1-0. Papa Bouba Diop, gelandang jangkung mereka mengukir sejarah.

Gol Papa Bouba Diop ke gawang Fabian Barthez menjadikannya pemain Senegal pertama yang mencetak gol di Piala Dunia. Setelah itu, namanya jadi legenda dengan rekan lain seperti El Hadji Diouf, Salif Diao, dan Aliou Cisse.

Sebagai gelandang bertahan, Diop tampil spartan pada Piala Dunia 2002. Dia benar-benar memainkan peran vital dan menjadikan lini tengah sebagai poros permainan, sesuai dengan filosofi yang dianut Bruno Metsu.

fifa.com

Diop selalu main selama 90 menit pada enam laga Piala Dunia. Menariknya, dia bukan cuma orang Senegal pertama yang cetak gol di Piala Dunia, tapi juga penentu langkah negaranya ke babak 16 besar.

Melakoni laga hidup mati melawan Uruguay pada laga pamungkas fase grup, pemain yang kala itu masih berkarier di Swiss dengan Grasshoppers, mencetak dua gol pada babak pertama. Kendati pada akhirnya Uruguay menyamai kedudukan menjadi 3-3, Senegal tetap sukses ke 16 besar.

Perjalanan pasukan Bruno Metsu di Korea Selatan dan Jepang berakhir di perempat final. Mereka kalah 0-1 dari Turki. Walau begitu, kepulangan ke tanah kelahiran menumbuhkan kebanggaan dan optimistis tinggi soal masa depan sepak bola Senegal.

Diop yang Beda dari Pemain Senegal Lain

Hubungan Senegal dengan Prancis tak bisa dipisahkan. Banyak pemain Prancis yang lahir di Senegal. Dan tidak sedikit pula pemain Senegal yang lahir di Prancis.

Fenomena ini tak lepas dari masa lalu kedua negara. Senegal adalah negara jajahan Prancis dan mereka merdeka pada 4 April 1960. Kendati demikian, hubungan kedua negara dan masyarakatnya masih sangat erat sampai sekarang.

Hubungan harmonis ini terus berlanjut di dunia sepak bola. Buktinya, 21 dari 23 pemain Senegal di Piala Dunia 2002 bermain di Liga Prancis. Uniknya, Papa Bouba Diop, salah satu pemain berpengaruh saat itu termasuk dalam dua bintang yang tak berkompetisi di Prancis.

Diop memang memiliki jalan karier yang berbeda dari banyak pesepak bola Senegal. Memang, ia memulai karier di negerinya sendiri saat memperkuat ASC Diaraf 1994. Tapi setahun kemudian dia langsung terbang ke Swiss untuk berseragam Vevey United.

Getty Images

Enam tahun sang gelandang mengadu nasib di Swiss. Membela tiga klub seperti Vevey United, Xamax, dan Grasshoppers hingga dipanggil ke Piala Dunia 2002.

Selepas Piala Dunia, barulah Diop dilirik klub Prancis. Ketika itu dia dipinang RC Lens yang masih cukup diperhitungkan di Ligue 1. Dua tahun di sana, ia tak pernah membuat Lens keluar dari 10 besar. Posisi klub saat itu stabil di peringkat kedelapan.

Selebihnya, Diop melanjutkan karier ke Inggris dengan memperkuat Fulham, Portsmouth, West Ham United, dan Birmingham. Di negeri Ratu Elizabeth pula dia berhasil mengangkat gelar pertamanya.

Trofi pertama yang dia dapat adalah Piala FA 2008. Saat itu sang gelandang bertahan meraihnya bersama Portsmouth. Walau tidak mencetak gol dan assist, kerja kerasnya bersama tiga kolega lain dari Afrika seperti Nwankwo Kanu, John Utaka, dan Sulley Muntari benar-benar bikin permainan Portsmouth penuh tenaga.

 Mendapat gelar pertama di Inggris, Papa Bouba Diop kemudian menutup karier di Inggris pula. Sempat mengadu nasib ke Yunani untuk memperkuat AEK Athena, ia kembali ke Premier League dengan seragam Birmingham City 2012 lalu dan pensiun di sana setahun berselang.

Pemain yang Ditakuti Paul Scholes

Papa Bouba Diop memang tak pernah memperkuat klub besar. Untuk urusan trofi saja, dia hanya meraih dua kali sepanjang kariernya.

Akan tetapi faktor tersebut tidak menjadi hambatan untuk pemain lain takut menghadapinya. Salah satu bintang besar yang takut melawan Diop adalah legenda Manchester United, Paul Scholes.

Getty Images

Sudah delapan kali Paul Scholes melawan pemain yang punya tinggi badan 194 sentimeter itu. Dia memang hanya kalah sekali, tapi secara keseluruhan dia benar-benar dibuat ketakutan oleh Diop.

“Satu lagi orang yang tidak ingin saya hadapi, apakah Anda masih ingat Papa Bouba Diop? Dia bermain untuk Portsmouth dan pernah berseragam Fulham juga,” kenang Scholes seperti dikutip Football5star dari BBC.

“Dia pemain yang sangat besar, kami bahkan biasa memanggilnya dengan sebutan lemari. Saya sering beradu fisik dengannya itu benar-benar membuang waktu. Dia sangat kuat dan mendominasi lawan dan saya sangat benci melawannya,” ia menambahkan.

Cukup jarang memang pemain yang punya tinggi badan menjulang bermain sebagai gelandang bertahan. Tapi itulah yang dilakukan Papa Bouba Diop. Dia berhasil mengemban peran itu dengan terus diandalkan di klub maupun timnas Senegal.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More