LEGENDA: Papat Yunisal, Ratu Sepak Bola Indonesia

Football5star.com, Indonesia – Membicarakan sepak bola perempuan Indonesia, tidak lengkap rasanya jika tak membahas sosok satu ini, Papat Yunisal. Dapat dikatakan bahwa ia adalah ratu sepak bola perempuan Tanah Air.

Lahir di Subang pada 11 Juni 1963, Papat Yunisal sejak kecil memang sudah akrab dengan dunia olahraga. Sang ayah, Otman Atmo sempat tampil di Pekan Olahraga Nasional (PON) tingkat mahasiswa. “Ayah sempat ikut tujuh cabang olarhaga waktu itu,” kata Papat kepada football5star.com, Senin (23/4/2019).

Tak heran jika dari kecil Papat begitu gandrung dengan olahraga, meskipun ia seorang perempuan. Papat mengaku sempat menekuni bulu tangkis, bola basket, bahkan hoki.

“Dulu awalnya malah cukup serius main hoki. Sampai menjalani pendidikan di Sekolah Keguruan masih sering latihan dan main,” ucap Papat.

Dokumentasi pribadi

Ketika lulus di sekolah keguruan di Bandung, batin Papat sempat bertarung. Ia mengaku lebih ingin menekuni profesi sebagai atlet dibanding menjadi seorang guru.

Ia sempat bimbang dengan kata hatinya soal menjadi guru atau atlet. Papat padahal sudah mendapat SK mengajar di Sekolah Mohamad Toha, Bandung, tapi ia tak ambil.

Papat memutuskan untuk menjadi atlet. Akan tetapi, mengapa sepak bola ia tekuni? Mengapa bukan hoki?

“Saat itu masih sedikit perempuan yang main sepak bola. Bagi saya itu peluang namun juga tantangan tersendiri. Pak Indra Thohir (ketua klub Putri Priangan) melihat saya miliki skill bagus di lapangan,” tutur Papat.

Pada 1979 setelah melewati beberapa kali seleksi, Papat akhirnya bergabung ke klub Putri Priangan. Ia berposisi sebagai seorang striker, posisi yang saat ini menurut Papat sangat jarang ditaklukan pesepak bola perempuan.

“Tetap waktu itu cobaan dan tantangan sangat banyak. Banyak orang yang bertanya, ‘kok mau jadi pesepak bola?’ perempuan kan harusnya masak, di dapur’. Tapi saya tetap berjuang dan tunjukkan kalau saya mampu,” ujar Papat.

Karier di Lapangan hijau

Perjuangan Papat tak sia-sia. Meski di awal banyak mengalami cibiran dan tantangan, ia mampu tunjukkan bahwa seorang perempuan juga bisa menjadi pesepak bola handal.

Di sejumlah turnamen seperti Galanita hingga Kartini Cup, Papat tunjukkan kualitasnya di lapangan hijau. Pintu untuk bermain di timnas Indonesia pun terbuka pada 1981. Tak butuh waktu lama untuk Papat torehkan prestasi.

Pada perhelatan ASEAN Women’s Championship 1982 yang berlangsung di Thailand, Papat mampu mengantarkan timnas perempuan Indonesia meraih posisi runner up.

Papat Yunisal (keempat dari kiri) jongkok.

“Saat itu saya masih 17 tahun, pemain muda saat itu. Ketika melawan Singapura, saya mencetak gol pada menit-menit akhir dan masuk sebagai pemain pengganti. Saya sempat tidak percaya bisa cetak gol,” kata Papat.

Sayang di babak final, timnas perempuan Indonesia tak mampu berkutik saat menghadapi musuh bebuyutan, Thailand. Di pertandingan final yang berlangsung di Stadion National, Bangkok, Indonesia menyerah 1-4 dari Thailand.

Setelah gantung sepatu dari sepak bola, Papat tak bisa lepas dari lapangan hijau. Ia mengejar lisensi kepelatihan.

Ia pun mendapat gelar lisensi B AFC, gelar yang sangat sedikit bisa diraih oleh mantan pesepak bola perempuan. Kemampuan akademik Papat di bidang olahraga juga mendapat pengakuan dari banyak tokoh sepak bola, salah satunya dari Emral Abus.

Disertasi S3 Papat mengenai Asian Games 2018 dinilai mantan pelatih Persib Bandung itu salah satu disertasi terbaik. Karenanya Papat sangat menekankan para pesepak bola perempuan juga mengejar bidang akademik.

“Pesepak bola khususnya perempuan wajib mengejar bidang akademik, ini untuk karier mereka ke depan,” kata perempuan yang juga menjadi dosen di STKIP Pasundan, Cimahi.

Tak meninggalkan kodrat

Lepas dari perhelatan ASEAN Women’s Championship, karier Papat di lapangan hijau terus menarik perhatian banyak orang.

Meski fokus mengejar karier di lapangan hijau, Papat tak lupa akan kodratnya sebagai perempuan. Papat sadar betul bahwa sebagai perempuan, ia harus tetap menjaga penampilan di luar lapangan dan tetap berpenampilan feminim.

“Ketika di lapangan, kami pesepak bola perempuan harus bisa lebih jago dari pemain laki-laki. Tapi ketika selesai pertandingan, pemain perempuan harus tetap tampil cantik dan tahu merawat tubuh. Kita, pemain perempuan juga harus bisa masak.” ucap Papat.

Dokumentasi pribadi

Perempuan bagi Papat ialah kunci keberhasilan. Karenanya meski terus bermain di lapangan hijau, dirinya selalu berpegah teguh untuk tetap menjaga harkat dan derajat perempuan.

“Sebagai orang yang dikenal publik, pemain bola perempuan harus tetap menjaga harga diri mereka. Jangan pernah untuk tunjukkan bahwa pemain sepak bola perempuan itu terkesan negatif,” ujarnya.

Sisi psikologis yang begitu diperhatikan Papat membuatnya begitu dihormati oleh kalangan pesepak bola perempuan. Ketika menjabat anggota Exco PSSI yang membawahi sepak bola perempuan, Papat fokus dengan tugasnya.

Dari hal yang paling sederhana begitu ia perhatikan. Ia misalnya sangat keras dalam urusan pemberian obat untuk pesepak bola yang tengah haid misalnya.

“Saya tak ingin mereka minum sembarang obat lalu berefek pada karier sepak bolanya. Saya juga memperhatikan betul soal pemberian vitamin dan lain-lain,” tutur Papat.

“Saya juga menekankan kepada orang tua pemain, jangan hanya anaknya di suruh bermain terus. Perhatikan juga faktor lainnya. Ketika pemain berumur 20 tahun ke atas, dorong untuk dirinya memikirkan jodoh,” ucapnya menambahkan.

Ketika disinggung soal kondisi sepak bola perempuan dulu dan sekarang, Papat menyebut tentu banyak perbedaan. Perbedaan itu menurut Papat sangatlah mengenakkan bagi pemain.

Namun ia menganggap hal itu justru tantangan agar pemain bisa lebih baik lagi. “Secara material tentu lebih banyak untungnya. Namun bukan berarti itu menjadikan para pemain bisa menyalahgunakannya.”

Karenanya Papat Yunisal selalu menghimbau agar para pemain sepak bola perempuan sadar akan kodrat dan tetap berjuang meniti karier sampai pada level tertinggi.

Comments
Loading...