LEGENDA: Rekor Emas Abadi Peri Sandria

Football5star.com, Indonesia – Satu catatan yang identik dengan sosok ini adalah torehan gol terbanyak selama satu musim ketika masih bermain. Selebihnya, tidak banyak yang tahu soal informasi tentang pria kelahiran Binjai tersebut. Sosok ini adalah Peri Sandria. Pemain pertama dan masih satu-satunya yang memegangn rekot 34 gol selama satu musim.

Selama menjadi pemain, klub yang paling lama ia bela adalah Mastrans Bandung Raya. Kini, klub tersebut sudah entah ke mana, melebur jadi salah satu kontestan liga papan atas di Indonesia. Jejaknya pun sulit terdeteksi yang mana.

Namun, Peri tetaplah Peri. Torehannya sebagai pemain lokal tersubur dalam satu musim belum ada yang memecahkan. Bahkan hingga 24 tahun rekor itu terukir, belum ada satu pun putra bangsa yang jangankan mematahkan. Untuk mendekati pun terbilang sulit.

Peduli Pembinaan Usia Muda
Meski tidak lagi berlarian di atas lapangan sebagai pemain. Perhatian Peri terhadap sepak bola nasional tetaplah besar. Kini, ia menyambung hidup sebagai pelatih dengan bekal Lisensi B Nasional. Untuk “naik tingkat” menjadi A, ia terbentur usia.

Apa boleh buat, Peri tetaplah menjalani hidup dengan penuh kebersahajaan di hari tuanya. Tekadnya untuk mencetak pemain-pemain handal di masa depan tetaplah besar. Tujuannya tidak lain, hanya ingin melihat putra bangsa berjaya di kandang sendiri.

Belum lama ini, berlangsung turnamen Piala Kemenpora U-14 dan U-16 di Stadion Datu Adil, Tarakan, Kalimantan Utara. Peri berkesempatan menyaksikan langsung bibit-bibit muda beraksi di atas lapangan. Dengan mata kepalanya sendiri, ia melihat harapan besar dalam diri anak-anak tersebut.

“Tidak hanya dengan kegiatan kejuaraan saja, harus menyeluruh mulai dari mental mereka saat tampil. Jadi di nasional nanti mereka sudah terbiasa dengan kompetisi. Sebenarnya kita harus melihat ke bawah dahulu baru bisa melihat ke atas. Artinya yang menjadi fokus kita adalah para anak muda yang bertalenta ini dibina secara berkala,” ucapnya kepada Kaltara Prokal           

Salah satu faktor penghambat proses regenerasi usia muda di Indonesia menurut Peri adalah ketidakseriusan pemerintah daerah. Padahal baginya, perhatian pemerintah daerah merupakan tolok ukur kepedulian sebuah wilayah dalam membangun olahraga, dalam hal ini sepak bola.

“Pandangan saya pemain-pemain lokal Kaltara seperti di U-16 ini sudah memiliki kemampuan yang baik. Saya rasa layak untuk tampil di tim nasional. Namun lagi-lagi saya berpesan harus ada peran pemerintah dan terjun langsung ke lapangan melihat potensi yang ada di daerah dan itu wajib,” jelas Peri Sandria.

Sayembara Hibah Sepatu Emas
Sebagai pemegang rekor pemain lokal tersubur dengan 34 gol, Peri bukan tidak pernah berharap torehannya itu pecah. Justru, ia mendorong para putra tanah air untuk berlomba-lomba mencetak gol lebih banyak darinya. Sebagai mantan pemain nasional, ia agak miris melihat bursa pemain lokal yang lesu dari tahun ke tahun.

Semakin hari, klub-klub lokal justru berlomba-lomba untuk mendatangkan pemain asing yang tidak semuanya produktif. Beberapa musim belakangan, paling hanya nama-nama macan Lerby Eliandry, Samsul Arif Munip, dan Ferninand Sinaga yang muncul. Selebihnya, nama-nama minor datang dan pergi silih berganti.

Untuk menggenjot semangat pemain lokal, Peri berani menghibahkan trofi sepatu emasnya bagi siapa pun yang mampu memecahkan rekor 34 gol tersebut. Tujuannya semata-mata hanyalah untuk melihat para pemain lokal mampu berbicara di rumah sendiri.  

“Barangiapa yang bisa memecahkan rekor itu, saya akan memberikan sepatu emas ini untuk yang bersangkutan. Tujuannya bukan untuk mencari sensasi, akan tetapi lebih kepada motivasi agar pemain lokal berani bersaing dengan pemain asing,” ucapnya dalam salah satu wawancara yang dikutip Football5star dari Kompasiana.

Agak miris melihat seorang pemegang rekor gol terbanyak tanah air tidak terlalu populer di masyarakat. Mungkin namanya masih kalah tenar dibandingkan sosok Robby Darwis, Adjat Sudrajat, hingga Djajang Nurjaman, yang populer di Jawa Barat. Namun, Peri tetap bersahaja tanpa harus dikenal masyarakat luas.

Comments
Loading...