Ronald Koeman: Pemilik Canon Ball Paling Mematikan di Sepak Bola

Football5star.com, Indonesia – Bagi kebanyakan pencinta sepak bola jika membicarakan liga atau klub Belanda pastinya hanya tertuju pada tiga klub yang mendominasi, Ajax,Feyenoord, dan PSV Eindhoven.

Padahal di sebelah utara Belanda, tepatnya di Groningen terdapat akademi sepak bola yang menjadi kawah candradimuka untuk seorang legenda Orange, Ronald Koeman.

Akademi Groningen sendiri tak hanya melahirkan sosok Ronald Koeman si pemilik Canon Ball yang mematikan itu. Nama pemain bintang seperti Arjen Robben dan striker Barcelona Luis Suarez hingga Virgil van Dijk adalah jebolan dari akademi ini.

@RonaldKoeman.Official

Bagi orang Belanda, rumah sepak bola sebenarnya memang berada di kota Groningen dengan klub serta akademi mereka. Koeman yang lahir di Zaandam, yang tak jauh dari Amsterdam memilih untuk menimba ilmu di akademi ini.

Sekedar informasi, jarak antara kota Zaandam dengan Gronigen 194 km dengan menempuh perjalanan darat menghabiskan waktu kurang lebih dua jam. Ayah dari Ronald Koeman, Martin Koeman yang memilih untuk sang anak menimba ilmu sepak bolanya di akademi ini.

Sebelum Ronald Koeman masuk ke akademi Groningen, sang kakak Erwin Koeman yang terlebih dahulu merasakan tempaan sepak bola di akademi tersebut. Awalnya Ronald di akademi Groningen di-plot sebagai seorang gelandang.

Pelatihnya di akademi Groningen seperti dikutip Football5star.com dari thesefootballtimes, Selasa (31/12/2019) menyebut Koeman memiliki kemampuan sangat baik menjaga garis pertahanan dan membantu skema serangan. Ia juga memiliki akurasi tendangan sangat bagus semenjak masih berkarier di akademi.

Pada September 1980, Koeman melakoni debut di tim senior Groningen melawan NEC di usi 17 tahun 183 haru. Ia menjadi pemain termuda ketiga di FC Groningen yang menjalani debut di tim senior. Meski masih muda, debutnya dilakoni dengan cukup apik.

Salah satu media lokal Belanda menyebut saat itu bahwa Koeman memiliki kedewasaan seorang pesepak bola profesional. Ia tenang dan mampu mengontrol diri meski berhadap dengan pemain yang usianya lebih tua.

Pada musim pertamanya di tim senior, Koeman langsung dipercaya sebagai algojo untuk free kick dan penalti. Karenanya ia mampu mencetak 6 gol untuk FC Groningen di musim pertama. Kesemuanya dicetak lewat sepakan free kick dan tendangan jarak jauh yang mematikan.

Melalui masa transisi sepak bola Belanda

Karier Ronald Koeman harus melewati fase transisi di sepak bola negaranya. Saat usianya mendekati masa keemasan, 20 tahun. Sepak bola Belanda saat itu bisa dikatakan mengalami masa payah. Orange tak lolos ke Piala Eropa 1984 dan Piala Dunia 1986.

Padahal di level klub, Koeman mampu menorehkan 29 gol di dua musim pertamanya bersama FC Groningen. Catatan ini yang membuat Ajax kepincut dengannya dan Koeman menerimanya dengan senang hati.

Kepindahan ke Ajax menjadi langkah terbesar dalam karier sepak biola Koeman. Di saat yang bersamaan, sepak bola Belanda pun tengah membangun pondasi untuk bisa kembali menjadi negara yang disegani di lapagan hijau.

getty images

Bersama Ajax, Koeman harus menunggu setidaknya dua musim untuk bisa meraih gelar pertamanya. Saat itu Feyenoord tengah menguasai Eredivise. Meski begitu, Koeman masih meneruskan koleksi gol pribadinya bersama Ajax.

Di Ajax, Koeman bekerja bersama-sama dengan legenda sepak bola Belanda lainnya seperti Marco Van Basten, Frank Rijkaard, John Bosman, dan Gerald Vanenburg. Sayangya mereka hanya mengunci satu gelar di musim kedua Koeman bersama Ajax.

Tiga musim di Ajax, pada 1986 Koeman menuai kontroversi. Ia memutuskan untuk hengkang ke PSV dan membuatnya di-cap sebagai pengkhianat oleh suporter Ajax. Setelah sempat diasuh oleh Hans Kraay, Koeman mendapat sosok pelatih yang jadi insipirasinya Guus Hiddink.

Hijrah ke Barcelona dan pensiun di Feyenoord

Setelah dari PSV, Koeman hijrah ke Spanyol dan Barcelona jadi klub yang ia tuju. Kepindahan Koeman tentu saja menyusul Johan Cruyff mantan pelatihnya di Ajax. Di klub Catalan ini, Koeman jadi aktor penting di balik skema total football yang dikembangkan Cruyff.

Meski pindah ke liga dengan budaya bermain yang berbeda, kemampuan Koeman untuk urusan canon ball tak juga hilang. Kaki kanan Koeman di beberapa pertandingan berhasil membuat Barcelona menang atau terhindar dari kekalahan.

Salah satu canon ball yang diingat publik Catalan ialah sepakannya ke gawang Real Madrid di laga El Clasico. Satu gol dicetaknya di Bernabeu dan satu gol lagi di Nou Camp. Bagi publik Catalan, Koeman layak masuk sebagai legenda mereka.

getty images

Memberikan 9 gelar untuk Barcelona, satu diantaranya gelar Liga Champions 1991/92, Koeman pada akhir musim 1995 memutuskan untuk pulang kampung ke Belanda dan bergabung ke Feyenoord.

Di klub inilah pengoleksi 239 gol selama kariernya di sepak bola berakhir. Koeman memutuskan pensiun dari sepak bola pada 1997 dan memilih fokus untuk mengejar karier sebagai pelatih.

Tak lama setelah pensiun, Koeman menjadi asisten pelatih Guus Hiddink di Belanda. Setahun kemudian, ia menjadi asisten pelatih di Barcelona mendampingi Frank Rijkaard. Ia baru menjadi pelatih kepala saat menerima pinangan dari Vitesse pada 2000.

Saat ini Koeman masih tercatat sebagai pelatih Belanda dan berhembus rumor bahwa besar kemungkinan ia akan kembali ke Nou Camp dan menggantikan posisi Ernesto Valverde.

BarcelonaBelandaLegendaLegenda InternasionalRonald Koeman