LEGENDA: Ronny Pattinasarany

Football5star.com, Indonesia – Salah satu sosok emas dalam perjalanan panjang sepak bola Indonesia adalah Ronny Patinasarany. Ia lahir di Makassar di mana pada saat itu masih bernama Ujung Pandang, dan menutup usia di Jakarta.

Ronny dikenal sebagai satu dari sederet nama yang membekas di benak publik sepak bola nasional. Ia mengawali kiprahnya di pentas domestik dengan bergabung ke tim muda PSM Makassar pada usia 17 tahun.

Singkatnya, kariernya terus melambung bersama tim senior PSM hingga mengantarkannya ke tim nasional. Sederet prestasi seperti medali perak di SEA Games dan pemain terbaik di era Galatama pun disandangnya.

Kontradiksi Karier Bermain dan Melatih


Ronny Pati, demikian orang biasa menyingkat namanya, merupakan salah satu produk terbaik yang pernah dihasilkan sepak bola nasional. Dirinya ikut mengangkat PSM Makassar menjadi salah satu tim paling disegani ketika dirinya bermain.

Tim nasional Indonesia pun pernah terbantu dengan kehadirannya di tim saat bertanding di sejumlah laga internasional.  Prestasi terbaiknya bersama tim Merah Putih bisa dibilang adalah ketika mampu mempersembahkan medali perak dalam gelaran SEA Games 1979 dan perunggu pada 1981.

Ronny Pattinasarany - PSM Makassar - SEA Games 1979 - Football5star - -

Bersama Rully Nere dan Iswadi Idris, Ronny tampil meyakinkan pada awal turnamen dengan menggasak Singapura 3-0. Sempat kalah 1-3 dari Thailand, Indonesia tetap bisa lolos ke babak play-off karena hasil imbang melawan Malaysia dan Myanmar.

Laga semifinal pun jadi ajang pembalasan atas Thailand ketika mampu menang 3-1 di drama adu penalti. Nahas, Ronny cs. kalah dari Malaysia dengan skor tipis 0-1. Medali perak yang ia dapat belakangan diketahui dijual sang anak tanpa sepengetahuannya.

Karier menterengnya sebagai pemain nyatanya tidak berlanjut ketika membesut tim. Ia tercatat pernah menangani sejumlah klub seperti Persiba Balikpapan, Petrokimia Putra, hingga Persija Jakarta. Namun, prestasi terbaiknya dalah mengantarkan Petrokimia menjadi juara di sejumlah turnamen seperti Surya Cup dan Petro Cup.  Sementara klub-klub lain seperti Persiba Balikpapan, Persitara Jakarta Utara dan Makassar Utama, terasa hanya seperti menumpang lewat.

Undur Diri Demi Anak

Babak tersulit dalam hidup Ronny Pati bukanlah ketika gagal membawa timnas Indonesia meraih medali emas di SEA Games. Akan tetapi, paling dramatis dalam hidupnya adalah ketika harus meninggalkan sepak bola, demi menyembuhkan dua anaknya yang kecanduan narkoba.

Yerry dan Benny Patinasarany adalah dua orang putranya yang menjual medali perak SEA Games 1979 untuk membeli narkoba. Namun, Ronny sama sekali tidak marah kepada dua anaknya tersebut. Justru, ia menyesal telah meninggalkan masa muda anaknya, demi menghabiskan waktu di sepak bola.

“Ayah terlalu sibuk dengan kariernya, sehingga tidak memperhatikan kita. Dengan menggunakan narkoba, aku dan saudaraku merasakan hal-hal seperti dibelai, dipeluk dan disayang orang tua,” ucap Yerry seperti yang dikutip dari IDN Times.

Dengan sabar, Ronny membimbing kedua anaknya tersebut untuk berhenti menggunakan obat laknat tersebut. Bahkan, dirinya sampai harus memasukkan anaknya ke pusat rehabilitasi. Akan tetapi, hal itu sia-sia karena mereka masih tetap berkutat dengan narkoba.

Saking besar keinginan Ronny agar kedua anaknya berhenti mengonsumsi barang haram tersebut, ia bahkan sampai harus membeli narkoba ke bandar. Tujuannya adalah untuk mengurangi rasa sakit yang dirasakan anaknya ketika sakaw.

Ronny Pattinasarany - PSM Makassar - SEA Games 1979 - Football5star

“Waktu saya sakau, saya meminta ayah untuk memukuli saya karena saking sakitnya. Tetapi dia malah memeluk saya semalaman suntuk. Begitu ada uang, papa beliin saya putau ke bandarnya langsung,” ucapnya melanjutkan.

Perjuangannya untuk membuat dua putranya berhenti menggunakan narkoba pun membuahkan hasil. Pada 2008, Yerry mendirikan Ronny Pattinasarany Foundation untuk mendukung penyembuhan korban narkoba dan HIV. Tahun yang sama, sang legenda pun menghembuskan napas terakhirnya di Rumas Sakit OMNI Medical Center, Pulomas, Jakarta Timur.

Comments
Loading...