LEGENDA: Sesumbar Ajat Sudrajat bak Diego Maradona

Football5star.com, Indonesia – Bagi suporter Persib Bandung, tentu tak asing dengan nama Ajat Sudrajat. Pemain satu ini ialah legenda hidup sepak bola Jawa Barat. Bahkan, bagi bobotoh seorang Ajat Sudrajat bak dewa, layaknya Diego Maradona bagi suporter Argentina.

Ajat Sudarajat lahir 5 Juli 1962, ia mengawali karier sepak bola di Propelat Bandung pada 1977. Tiga tahun setelah berlatih di Propelat, Ajat mengikuti turnamen se-Jawa Barat dan menjadi pemain terbaik.

Sejak saat itu, namanya mulai menyita perhatian publik sepak bola Bandung. Pada era 70-an, Persib yang dilatih oleh pelatih asal Polandia, Marek Janota, fokus dengan pemain muda, Ajat Sudrajat salah satu pemainnya.

LEGENDA: Ajat Sudrajat, Jari Tengah dan Kebanggan Persib Bandung
suratkabar.id

Ajat tercatat satu angkatan dengan legenda Persib lain seperi Iwan Sunarya, Wawan Karnawan, Dede Iskandar, Robby Darwis, Ade Mulyono, Sukowiyono, Adeng Hudaya, dan Jafar Sidik. Para pemain ini disebut banyak kalangan sebagai generasi emas Persib Bandung.

Debut pertama di Divisi Utama 1983-84

Nama Ajat Sudrajat kemudian masuk dalam skuat Persib saat mengikuti kompetisi Divisi Utama 1983-84. Saat itu, Persib berada di Wilayah Barat bersama PSMS Medan, Persija Jakarta, Persiraja, dan PSP Padang.

Saat itu, semua pertandingan pertama di grup barat berlangsung di Stadion Imam Bonjol, Padang. Pada pertandingan pertama, Persib bertemu PSMS Medan. Laga yang disebut sebagai El Classico Indonesia.

Bermain pada 21 September 1983, Ajat Sudrajat gagal membawa Persib meraih kemenangan. Gol tunggal Sunardi pada menit ke-12 membawa PSMS meraih poin penuh. Kekalahan dari PSMS Medan sempat membuat Persib goyah.

Pada pertandingan kedua melawan Persiraja Banda Aceh, Persib hanya mampu bermain imbang 2-2. Pun dengan laga melawan Persija di laga ketiga, Ajat kembali tak mampu tunjukkan skill hebatnya. Skor imbang 0-0 menjadi hasil akhir Persib vs Persija kala itu.

Baru pada pertandingan keempat melawan PSP Padang, Ajat menjadi sorotan. Persib hampir saja kembali meraih hasil imbang 1-1, namun gol Ajat pada menit ke-90, membawa Maung Bandung meraih kemenangan pertama.

Kemenangan atas PSP membuat Maung Bandung percaya diri lakoni pertandingan kedua grup barat di Stadion Siliwangi. Benar saja, Persib langsung melibas Persiraja 4-0 pada 23 Oktober 1983.

Ajat kemudian jadi buah bibir takkala mencetak hat-trick ke gawang PSP Padang pada 26 Oktober 1983. Persib saat itu menang 5-0. Tak berhenti di situ, 3 hari kemudian, Ajat membayar tuntas kekalahan 0-1 dari PSMS Medan di laga pertama.

Ajat mencetak brace untuk mengantarkan Persib meraih kemenangan 3-1. Persib pun lolos sebagai runner-up grup barat. Pada babak 4 besar, Persib berhasil menjadi juara dan menantang PSMS Medan di final.

Naas bagi Ajat pada debut pertamanya di Divisi Utama, ia harus menelan pil pahit. Mampu antar Persib hingga partai final, Persib kalah lewat adu penalti dari PSMS Medan di pertandingan yang berlangsung di Stadion Gelora Bung Karno, 10 November 1983.

Jari tengah Ajat Sudrajat

LEGENDA: Ajat Sudrajat, Jari Tengah dan Kebanggan Persib Bandung
bola.com

Salah satu rekam perjalanan karier Ajat Sudrajat bagi publik sepak bola Indonesia tentu saja saat ia mengancungkan jari tengah di pertandingan Persib vs Arema.

Bertanding di Piala Utama 1990, sebuah kompetisi seperti layaknya Piala Presiden saat ini, tensi antara Persib vs Arema di Stadion Siliwangi saat itu langsung tinggi sejak menit pertama.

Persib yang saat itu masih berkompetisi di Perserikatan bernafsu ingin kalahkan Arema yang kala itu sudah bermain di kompetisi Galatama.

Dikutip dari pikiran rakyat, 21 November 1990, penggawa Arema pun memiliki nafsu besar untuk permalukan Persib di hadapan pendukung mereka sendiri.

“Dalam dua pertandingan sebelumnya di Surabaya dan Semarang, kami kalah dari Persib. Kesempatan kali ini akan saya gunakan sebaik mungkin untuk membalas dendam,” kata pemain Arema, Singgih Pitono saat itu.

Saat peluit babak pertama di bunyikan, pemain kedua tim langsung tunjukkan permainan keras. Baru 6 menit laga berlangsung, bek Arema, Lulut Kistono menghajar pemain Persib, Djadjang Nurdjaman. Kericuhan sempat terjadi.

Gaya permainan Arema yang cenderung kasar ini langsung dibalas dengan ciamik oleh Ajat Sudrajat. Ajat mencetak gol setelah memanfaatkan tendangan bebas Djadjang. Meski di kawal tiga pemain Arema, Ajat mampu merobek gawang Sukriyan.

Namun, saat ia berselebrasi merayakan gol tersebut, emosi Ajat meluap. Gaya main Arema yang kasar di balasnya dengan sebuah gol indah plus ancungan jari tengah ke pemain Arema. Acungan jari tengah Ajat pun jadi kontroversial sampai saat ini.

Persib besar oleh cacian, pujian adalah racun

Quote ini adalah yang paling di ingat publik sepak nasional. Namun ada satu quote lagi yang sempat di utarakan Ajat Sudrajat yakni “Ajat adalah Persib dan Persib adalah Ajat”.

Salah satu dedengkot bobotoh, Eko Maung dalam artikel di Pikiran Rakyat menyebut bahwa ungkapan itu ia dengar langsung dari mulut Ajat Sudrajat. Menurut Eko dan panglima Viking (Alm) Ayi Beutik, Ajat memiliki hak penuh untuk bersikap seperti itu.

Menurut Eko, Ajat memiliki hak untuk sesumbar mengenai kehebatannya. Bagi Eko, hal itu wajar karena apa yang dikatakan Ajat merupakan fakta sejarah.

Jika kita bisa menyamakan, karakter Ajat tak ubahnya legenda sepak bola dunia lain seperti Diego Maradona, Franz Beckenbauer, atau John Cruyff. Karakter mereka suka sesumbar, namun apa yang mereka sebut bukti nyata kehebatan mereka di atas lapangan.

Karier Ajat di timnas Indonesia juga cukup moncer. Pemain yang sempat berduet dengan penyanyi Hetty Koes Endang dan mengeluarkan lagu ‘Resah’ ini membela panji Merah Putih pada 1981 hingga 1987.

Meski tak lagi berkecimpung di dunia sepak bola, Ajat yang sempat bentrok dengan manajemen Persib Bandung di era 90-an ini masih tetap perhatian terhadap Maung Bandung.

Pada launching skuat Persib Bandung untuk arungi Liga 1 2019, Ajat Sudrajat bersama sejumlah legenda turut hadir. Teranyar, Ajat juga bakal hadir di National Senior League (NSL) ‘Ramadan Cup’ 2019. Kompetisi untuk eks pesepak bola khusus 47 tahun ke atas itu digelar di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta.

“Kurang lebihnya kita juga menyebut ini sebagai ajang silaturahmi para pemain senior Indonesia. Ada juga para legenda juga, seperti Ajat Sudrajat, Yusuf Bachtiar, Iwan Karo Karo, dan ataupun Rahmad Darmawan yang pernah membela Timnas Indonesia era 1980-an,” kata Ophan Lamara, ketua NSC.

Comments
Loading...