Legenda Simson Rumah Pasal, Tak Berdaya Lawan Malaysia dan Bikin Kagum Johan Cruyff

Football5star.com, Indonesia – Lima tahun setelah proklamasi Indonesia, di desa Lohiatala di Kabupaten Seram Barat, lahir pria yang kelak membuat legenda sepak bola Belanda, Johan Cruyff menaruh hormat kepadanya. Ia adalah jong Ambon yang membuat harum nama Indonesia, Simson Rumah Pasal.

Simson adalah mantan pemain timnas Indonesia di era 70-an. Ia dikenal sebagai pemain dengan spesialis bek kanan. Simson memiliki determintasi dan kekuatan fisik saat menyerang serta bertahan. Simson tercatat membela Indonesia selama 8 tahun dan bermain di level Merdeka Games, Pra Olimpiade, King’s Cup, SEA Games dan Pra Piala Dunia.

Karier Simson berawal saat bermain di Bintang Timur, Ambon pada 1968. Setelah itu, ia bergabung ke PSSA Ambon Senior. Pada 1973, Simson merantau dan bergabung ke klub milik BUMN, Mutiara Pertamina Makassar. Setahun kemudian, ia bergabung ke klub Beringin Putra, klub satu angkatan dengan Buana Putra dan Warna Agung di Jakarta.

Setelah sempat bermain di PSM Makassar, Simson lalu bermain cukup lama di klub yang dibentk oleh bos properti, Benny Muljono, Warna Agung. Di klub ini, Simson mendapat tempaan dari salah satu pelatih legendaris Indonesia, dokter gigi Endang Witarsa.

Lawan Johan Cruyff

Ketangguhan Simson di sayap kanan pertahanan timnas sangat dikenal pada era 80-an. Bahkan seorang legenda Belanda, Johan Cruyff menaruh hormat kepada dirinya. Pada 19 November 1980, timnas Indonesia berkesempatan untuk melakoni laga uji coba melawan tim Major League Soccer (MLS), Washington Diplomats yang diperkuat Cruyff.

Bertanding di Stadion Utama Senayan, Simson berduel dengan legena Barcelona tersebut. Dikutip dari Tabloid Bola, Simson menyebut bahwa Cruyff memang ingin bertukar jersey dengan dirinya usai pertandingan.

“Dia bilang nanti setelah permainan selesai. Begitu peluit terakhir dia hampiri saya untuk tukar kaus. Beruntung, karena semua pemain memang mengincar,” ucap Simson.

Menariknya sebelum membuat Cruyff dibuat kagum dengan permainannya, Simson sempat membuat kecewa pendukung timnas saat melakoni laga melawan Malaysia pada 1976.

Anniversary Cup PSSI 1976

Pada perayaan HUT PSSI 1976, timnas Indonesia bermain kurang greget. Setidaknya begitu laporan Tempo 1976. Di laga awal, Indonesia yang diperkuat oleh Simson sebenarnya mampu menahan imbang 2-2 tim kuat Korea Selatan.

Saat itu Indonesia dilatih oleh Ilyas Haddade dan Phoa Sian Liong yang kemudian berganti nama menjadi Januari Pribadi. Hasil imbang melawan Korsel membuat Indonesia harus menang melawan Malaysia jika ingin melangkah ke final.

Sayang harapan publik Indonesia untuk bisa melihat Indonesia menang gagal. Simson Rumah Pasal dkk menyerah 2-1 dari Malaysia. Kapten timnas saat itu, Ronny Pattinasarany menyebut bahwa kerja sama antar pemain memang kurang bagus pada laga tersebut.

“Patut diakui bahwa kerjasama dalam team kita masih kurang terjalin”, ucap Ronny seperti dikutip dari laporan Tempo 1976. “Kalau sudah demikian, bagaimanapun sulit untuk mengharapkan team bisa menyuguhkan permainan yang baik” tambahnya.

Di lini belakang timnas tidak hanya diperkuat oleh Simson, tapi juga oleh dua pemain eks pra Olimpiade 1970, Lukman Santoso dan Johannes Auri. Laporan Tempo menyebut bahwa permainan baik dari dua pemain ini tidak diimbangi oleh Simson kala itu.

“Di barisan belakang memang hadir Lukman Santoso dan Johannes Auri — 2 pemain eks Pre Olimpik yang mencoba mematahkan setiap serangan lawan dengan permainan yang lugas.

“Tapi pola yang mereka terapkan itu tidak terimbangi oleh back kanan, Simson Rumah Pasal maupun Imam Rifai yang saling mengganti.” tulis laporan tersebut.

“Sementara gelandang kanan, Suhatman — juga eks Pre Olimpik — yang dihadapkan mampu menutupi kelemahan Rumah Pasal atau Rifai ternyata pun tak dapat berbuat banyak.

“Kegesitannya dalam menutupi lubang yang ditinggalkan kawan kelihatan mulai melemah ketimbang apa yang disuguhkannya dalam Pre Olimpik lalu.” tambah laporan itu.

Terlepas dari hasil buruk di 1976, nama Simson tetap melegenda bagi sepak bola Indonesia. Setelah sempat bermain untuk Persija, ia kemudian mengakhiri karier sebagai pemain pada 80-an.

Simson sempat menjalani profesi sebagai pelatih di sejumlah klub seperti Persikota, Persijatim, Persika, hingga menjadi pelatih tim sepak bola di SMP dan SMA Cita Buana, Jakarta pada 2012.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More