LEGENDA: Tan Liong Houw, Polemik Tionghoa dan Kaus Kaki Sobek

Football5star.com, Indonesia – Etnik Tionghoa memiliki peran besar dalam perkembangan awal sepak bola di Indonesia pada awal abad ke-20. Awalnya, mereka menjadikan sepak bola sebagai alat untuk membuktikan diri tidak kalah superior dari orang-orang Belanda. Apalagi etnik Tionghoa berbekal pendidikan dan ekonomi yang mumpuni kala itu.

“Peranan orang-orang Tionghoa dalam sejarah sepak bola di Indonesia sangat panjang,” kata Bayu Aji, penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak Bola (2010), seperti dilansir BBC Indonesia. “Bahkan kaum Tionghoa saat itu mempunyai kurikulum olahraga sendiri karena menyadariitu dapat membentuk kesadaran.”

Klub-klub yang didirikan etnis Tionghoa akhirnya menancapkan eksistensi. Sebut saja, Union Makes Strength (UMS), UNION, Tunas Jaya (Chung Hua) dan Comite Kampioens-wedstrijden Tionghoa (CKTH), yang terkenal cukup tangguh.

Tak ayal, banyak bintang lapangan yang beretnik Tionghoa lahir. Bukan hanya di level klub, tetapi juga bersama tim nasional Indonesia. Dari sederet nama legenda, Tan Liong Houw atau Latief Harris Tanoto adalah salah satu yang menjadi legenda besar di tanah air.

Si Tionghoa Pembangkang

Tan Liong Houw _ Persija.co.id

Pada umumnya, saat menjadi orang tua, orang Tionghoa bakal mendidik anaknya untuk berdagang. Menekuni profesi sebagai pemain sepak bola tentu jauh dari bayangan mereka. Ajaran itu pulalah yang diturunkan orang tua Tan Liong Houw.

Dia lahir di Surabaya pada 26 Juli 1930, tetapi telah lama tinggal di Jakarta. Gairahnya terhadap sepak bola ditentang oleh orang tuanya. Oleh sebab itu, Houw terpaksa bermain diam-diam. Hal serupa juga dilakukan adiknya, Tan Liong Pha, yang sempat bermain untuk Persib Junior.

Nasib Houw lebih baik dari adiknya yang terpaksa berhenti bermain sepak bola karena larangan ibunya. Tanpa sepengetahuan sang ibu, dia terus menggeluti hobinya tersebut. Sepandai-pandainya tupai melompat, sekali waktu jatuh juga. Peribahasa itu dialami Houw saat sang ibu memergokinya.

Houw  pun dikirim ke Semarang agar tak bisa lagi bermain bola. Akan tetapi, dia justru menemukan jalan untuk menjadi pesepak bola. Dia berkenalan dengan orang-orang dari klub Tionghoa, Tjung Hwa (kini PS Tunas Jaya).

Melihat kegigihan dan bakat anaknya, sang ayah akhirnya mengizinkan Houw  untuk terus menggeluti sepak bola. Tanoto akhirnya kembali ke Jakarta. Bakatnya kian terasah dan prestasinya bersinar. Itu membuat dirinya mendapat kesempatan untuk membela timnas Indonesia.

Bersama timnas, Houw sempat tampil di beberapa kompetisi internasional. Pada era dia bermain, timnas cukup disegani negara-negara lawan. Cina yang kini kualitasnya jauh lebih unggul pun berhasil dikalahkan oleh Indonesia, yakni di kualifikasi Olimpiade 1956 dan kualifikasi Piala Dunia 1958.

Pencapaian terbaik Houw bersama timnas adalah menembus perempat final Olimpiade 1956 di Australia. Di babak itu, mereka sempat menahan imbang Rusia dengan skor 0-0 pada pertemuan pertama. Houw berjibaku dan kaus kakinya robek akibat permainan keras pemain tim berjuluk Beruang Merah.

“Begitu selesai pertandingan, kaus kakinya robek-robek, karena begitu hebatnya menahan gempuran pemain Soviet (Rusia) supaya tidak melewati garis tengah permainan,” kenang wartawan senior, Sumohadi Marsis, seperti dilansir BBC.

Laga itu menguras fisik Houw dan kolega. Akhirnya, timnas harus mengubur dalam impian untuk melangkah ke semifinal. Dalam partai ulangan, mereka takluk empat gol tanpa balas dari Rusia. Kendati demikian, aksi heroik Houw dan kolega melawan tim Eropa itu selalu dikenang hingga saat ini.

Suap dan Nasionalisme

Tan Liong Houw, Benteng Pembendung Serbuan Uni Soviet

Tan Liong Houw memutuskan untuk pensiun membela timnas Indonesia pada 1962. Sebelum itu, dia berhasil mempersembahkan gelar juara Merdeka Games di Malaysia dan laik dinobatkan sebagai legenda.

Bukan Houw seorang yang mengakhiri karier bersama timnas. Para pemain beretnik Tionghoa pun mengundurkan diri setelah isu suap di Asian Games 1962. Kala itu, Indonesia tampil buruk dan harus gugur di babak penyisihan.

Penyebab lain selain isu suap adalah peristiwa G30S/PKI. Komunis yang dianggap erat kaitannya dengan etnik Tionghoa pun dipersalahkan. Sentimen rasial yang mereka terima setelah insiden tersebut terjadi semakin meninggi.

“Kami banyak didiskriminasi. Ketika bermain kurang baik, kami diteriaki, ‘Cina,Cina.’ Itu sangat menyakitkan,” ujar Houw dalam suatu kesempatan. Padahal dia menyatakan, meski beretnik Tionghoa, dirinya selalu berusaha memberi yang terbaik setiap membela timnas.

“Jangan tanyakan masalah nasionalisme orang-orang Tionghoa. Kami siap mati di lapangan demi membela Indonesia melalui sepak bola,” seru pemain yang dijuluki Macan Betawi ketika membela Persija Jakarta pada lain kesempatan.

Jumlah pesepak bola beretnik Tionghoa kian tergerus pada 1970-an hingga 1980-an. Itu akibat dari maraknya perkelahian di dalam lapangan. Mereka yang bertalenta kerap jadi sasaran amuk pemain yang kurang mampu. Alhasil, para pemain Tionghoa pun enggan melanjutkan karier di sepak bola. Apalagi penghasilan dari sana tidak memadai untuk dijadikan mata pencaharian dan jaminan masa depan.

Hingga kini, ada sejumlah pemain beretnik Tionghoa yang pernah meniti karier di lapangan hijau. Namun, kiprah mereka tak ada yang mampu menandingi Houw dan koleganya dulu yang menjadi legenda besar. Atas jasanya, Houw pun sempat dipilih menjadi Dewan Penasihat PSSI periode 1999-2003.

Comments
Loading...