KOLOM: Setelah Semuanya Kian Terbuka

Football5Star.com, Indonesia -“Exco seperti makelar. Kasian jabatan Exco kalau seperti ini. Exco PSSI itu bernama Hidayat.” Pernyataan yang keluar dari mulut Manajer Madura FC, Januar Herwanto, itu memulai diskusi di acara Mata Najwa dengan sangat baik.

Ibarat sebuah film, para penonton langsung khidmat menyimak berbagai plot dan twist selanjutnya. Itu terbukti ketika Bambang Suryo, seorang eks runner pengaturan skor di Indonesia, menyebut satu nama yang sudah ditunggu-tunggu banyak pihak: Vigit Waluyo. Studio bergemuruh.

Sesi pertarungan pun muncul ketika Bambang Suryo terlibat konfrontasi dengan Gusti Randa, seorang anggota Exco PSSI yang mengaku tak mengenal pria bernama samaran Sontoloyo itu. Bambang Suryo tak yakin atas pengakuan Gusti karena Vigit bukanlah anak kemarin sore di sepak bola Indonesia.

Bambang Suryo tak ragu menyebut Gusti sebagai orang yang baru berkecimpung di sepak bola nasional. Sebuah sindiran  telak karena faktanya Gusti sudah menjadi exco selama bertahun-tahun. Fakhri Husaini, pelatih timnas U-16 Indonesia, pun dengan gamblang menyebut siapa pun insan di persepakbolaan nasional pasti tahu nama Vigit Waluyo.

Ini mengesankan sebuah kontradiksi. Di satu sisi, Bambang Suryo dengan berapi-api coba membuka lebar-lebar soal mafia yang bergentayangan di sepak bola nasional. Di sisi lain, Gusti atau bahkan PSSI malah terkesan menutup mata dan tak terbuka. Dia berkali-kali berdalih, pihaknya menunggu laporan. Artinya, PSSI menolak bersikap proaktif dalam kasus ini.

Babak Baru Upaya Pemberantasan Mafia Sepak Bola

Kini, berkat Bambang Suryo, mata publik terbuka lebar-lebar. Mafia sepak bola nyata adanya, bukan sekadar hantu yang menakut-nakuti tanpa terlihat wujudnya. Vigit Waluyo dan Hidayat adalah dua nama yang jelas-jelas disebutkan Januar dan Bambang Suryo sebagai aktor pengaturan skor di sepak bola kita.

Memang benar, asas praduga tak bersalah harus tetap dikedepankan. Kedua nama yang disebut di Mata Najwa edisi “PSSI Bisa Apa” itu belum secara sah dan meyakinkan di muka pengadilan telah melakukan tindak pengaturan skor. Namun, setidaknya, keterbukaan Januar dan Bambang Suryo adalah pintu masuk untuk mewujudkan upaya pemberantasan mafia sepak bola Indonesia.

Apalagi, sebenarnya desas-desus tentang aksi Vigit bukan hal baru. Dia pun terbukti bukan tokoh yang bersih. Jawa Pos dua hari yang lalu menyebutkan bahwa Vigit Waluyo kini sedang menjadi DPO oleh Kejari Sidoarjo. Ia diduga terlibat kasus korupsi PDAM Sidoarjo.

Adapun Hidayat yang dulu pernah maju menjadi calon Ketua Asprov PSSI Jawa Timur juga tak bisa tidur nyenyak. Jika Gusti Randa yang malam itu tak sebatas beretorika, ia juga sudah pasti harus mundur dari jabatannya.

Namun, kisah tentang gerak-gerik mafia tak akan sebatas berhenti disitu. Ibarat parasit, ia sudah menjalar secara luas di sepak bola tanah air. Pemberantasan secara menyeluruh rasanya sulit diwujudkan jika upaya PSSI hanya sebatas niat. Perlu sikap proaktif dari PSSI sebagai otoritas tertinggi di sepak bola negeri ini. Tanpa itu, semua tak ubahnya menegakkan benang basah.

Saatnya Suporter Bertindak

Tanpa ketegasan dan sikap proaktif PSSI, sulit menghabisi para mafia. Mereka akan terus merajalela karena sepak bola Indonesia adalah habitat terbaik bagi mereka. Kondisi karut-marut di semua sektor menjadi katalisator bagi mereka untuk berkembang biak.

Suporter klub-klub Indonesia harus lebih berani kritik manajemen klub.
baliutd.com

Mengutip pernyataan Fakhri Husaini, masih banyak pemain dan manajer klub sepak bola di tanah air yang belum hidup layak dari sepak bola. Ini jelas bintu masuk yang sangat besar bagi mafia untuk menjalankan aksinya. Ibarat-kucing-kucing lapar, mereka akan dengan mudah dibujuk rayu dengan ikan yang menggiurkan.

Coba Anda hitung, ada beberapa kasus gaji pemain yang telat atau bahkan tak terbayar di Indonesia? Para pemain dan manajer bukan seorang malaikat, mereka hanya manusia biasa. Mereka bergumul di sepak bola bukan demi menyalurkan hobi semata, melainkan demi menyambung hidup. Mereka bisa saja gelap mata, menggadaikan profesionalime dan sportivitas.

Sementara para pemain berharap dapurnya bisa ngebul, suporter kita selalu berharap tiga poin bisa diraih di setiap pertandingan. Nyanyian menagih kapan bisa juara selalu terlontar. Saat bernyanyi, mata mereka buta, tak lagi sanggup melihat realita bahwa banyak rekening pemain yang tak terisi, kosong melompong karena klub-klub yang zalim.

Saling tuduh bahwa tim rival bersekongkol dengan mafia telah menjadi kisah sehari-hari sepak bola di Indonesia. Mereka lupa bahwa klub yang mereka dukung juga mungkin pernah meminta tolong jasa orang-orang laknat tersebut.

Selepas Mata Najwa semalam, kini saatnya suporter di Indonesia berintropeksi diri. Suporter memegang peranan penting dalam kemajuan sepak bola di tanah air dan berhenti menjadi sapi perah keuntungan pemilik klub semata. Sudah saatnya mereka tak hanya menuntut kemenangan, tapi juga meminta keterbukaan dan pengelolaan yang benar.

Mereka harus lebih kritis memerhatikan berbagai hal di internal klub. Apakah manajemen sudah menggaji para pemain, manajer, dan pelatih dengan layak, memfasilitasi mereka dengan layak, memberi kontrak yang semestinya? Sering kali hal tersebut luput dari kacamata pendukung.

Jika hak-hak tersebut gagal diberikan oleh klub, siap-siap saja kalian menggerutu melihat pemain kebanggaan melakukan serangan dan mencetak gol ke gawang sendiri nantinya. Hantu-hantu mafia juga akan semakin bebasnya berkeliaran dengan membawa uang segar dan mungkin pistol di tasnya.

Liga di tanah air kini akan menuju titik akhir dan sebentar lagi bursa transfer dimulai jelang musim yang baru. Lupakan rivalitas sejenak, siapkan spanduk-spanduk perjuangan untuk pastikan klub kebanggaan Anda sehat dan para pemain hidup layak dari sepak bola. Jangan ada lagi yang merana karena gajinya tersandera.

Mengubah “Sajak Pertemuan Mahasiswa” karya WS. Rendra: sepak bola yang kita nikmati di sini akan menjadi alat pembebasan ataukah alat penindasan?

***

Comments
Loading...