FEATURE: Lapangan Karanggayam, Riwayatmu Kini

224

Football5star.com, Indonesia – Barcelona dan Real Madrid boleh bangga memiliki Ciutat Esportiva Joan Gamper dan Ciudad Real Madrid sebagai tempat pemain akademi menempa ilmu. Namun, Indonesia tak perlu berkecil hati. Meski tak memiliki lahan dan fasilitas mewah laiknya Barcelona dan Madrid, beberapa klub di Indonesia sudah melek arti penting membangun fondasi yang kuat. Tengok saja Lapangan Karanggayam, sebagai kawah candradimuka bagi para pemain belia binaan Persebaya Surabaya.

Lapangan Karanggayam menjadi saksi lahirnya sederet talenta berbakat milik Persebaya. Mereka pula yang akhirnya berkibar di pentas nasional hingga internasional. Beberapa nama beken seperti Evan Dimas Darmono dan Andik Vermansah, pernah mengenyam pengalaman menimba ilmu di sana.

Lapangan yang sudah berumur 50 tahun tersebut kini masih eksis, meski ada beberapa titik yang perlu perawatan ulang. Sebut saja tribune penonton yang mulai reot dimakan usia. Sarana dan prasarananya mungkin tak semewah klub-klub Eropa. Namun, semangat dan aura sepak bola dari tempat yang berada di sebelah Stadion Gelora 10 November Tambaksari tersebut, tak pernah padam.

Lapangan Karanggayam menjadi jantung bagi Persebaya dan aset berharga bagi Kota Surabaya. Bagaimana tidak, jasa lapangan tersebut sangat vital dalam menggodok para pemain muda sebelum nantinya ditarik untuk memperkuat Persebaya.

Direktur Amatir Persebaya, Saleh Hanifah menjelaskan, lapangan tersebut memiliki makna penting bagi klub kebanggan Bonekmania tersebut. Meski Bajul Ijo sempat mati suri karena diasingkan oleh PSSI, gairah di Lapangan Karanggayam tetap hidup dengan digelarnya kompetisi internal.

Pada masa-masa sulit, Persebaya berupaya mencari dana agar bibit calon pemain tetap tumbuh meski klub sedang mati suri. “Kami mati-matian menjaga kompetisi internal dan Lapangan Karanggayam ini, bahkan harus patungan dan menggunakan uang sendiri,” kenang Saleh, dalam perbincangan dengan Football5star di Surabaya.

persebaya-daviddasilva-liga1-football5star-persebaya

Usaha keras tak pernah mengkhianati hasil. Iktikad dan tekad klub internal untuk menyelamatkan sepak bola Surabaya tersebut juga berbuah hasil ketika Persebaya kembali diakui oleh otoritas tertinggi sepak bola Indonesia, PSSI, dalam kongres di Bandung 2017 lalu.

Para pemain muda dari kompetisi internal, yang sempat gusar mimpi memperkuat Persebaya akan pupus, akhirnya bisa tersenyum lebar lagi. Terlebih saat pengusaha muda Azrul Ananda mengakuisisi Persebaya dari kepemilikan lama yang dipegang oleh Saleh Ismail Mukadar. “Meski Persebaya senior tidak ada, Persebaya junior justru masih ada dan mengikuti beberapa kompetisi salah satunya tim U-16 di Piala Menpora,” kata Saleh.

Setelah kembali ke pelukan PSSI, Persebaya pun tak perlu kerepotan membangun tim. Geliat sepak bola di Lapangan Karanggayam yang tetap hidup, memudahkan klub peraih dua kali juara Liga Indonesia tersebut. Saat awal pembentukan kembali tim, sebagian besar yang mengikuti tes adalah produk kompetisi internal.

“Bayangkan saja, hampir sebagian besar pemain Persebaya musim lalu adalah produk internal. Mereka bahkan sukses bawa Persebaya juara Liga 2 dan promosi ke Liga 1,” ucap Saleh bangga.

“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut Semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncang dunia”

(Soekarno, Presiden Pertama Republik Indonesia)

Azrul Ananda, selaku Presiden Persebaya, mungkin memahami betul makna ujar-ujar yang pernah dilontarkan Bung Karno -sapaan akrab Soekarno- itu. Azrul pun sadar betul bahwa Bonek tak mau klub kebanggaan mereka menghilangkan tradisi dan ciri permainan ngeyel khas Arek Suroboyo. Berhulu dari filosofi tersebut, dia kemudian mendukung total kegiatan kompetisi internal Persebaya yang berlangsung di Lapangan Karanggayam

“Kami berharap untuk terus menghasilkan talenta muda yang akan menjadi pemain Persebaya maupun Timnas Indonesia,” bunyi pernyataan Azrul soal kompetisi internal pada Februari 2018 lalu.

Modal untuk melaksanakan misi itu pun sudah tersedia. Saat Football5star mengunjungi Lapangan Karanggayam pada Sabtu (25/8), ada beberapa inovasi yang cukup mengagumkan. Mulai dari penggunaan kamera dengan crane ala sepak bola profesional hingga bank data pemain.

“Kami bekerja sama dengan SMK Dr. Soetomo Surabaya untuk menyiarkan secara langsung pertandingan kompetisi internal. Kami juga punya Bank data pemain yang mempermudahkan kami untuk merekrut pemain yang berkualitas,” beber Saleh.

Kompetisi amatir rasa profesional menjadi sajian langsung yang bisa dinikmati pada sore itu. Seger Sutrisno, legenda Persebaya, yang melatih salah satu klub internal Persebaya, Indonesia Muda, juga menekankan keuntungan dari sepak bola modern pada anak asuhnya. “Kalau kamu ingin jadi Evan Dimas yang terkenal dan banyak uang maka kamu harus bekerja keras dimulai dari lapangan ini,” katanya.

Salah satu pemain Persebaya yang pernah mondok di Lapangan Karanggayam, Misbakus Solikin, pun mengaku hingga saat ini terkesan dengan kompetisi di sana. “Persaingan di sana sangat ketat, sangat keras, sangat bergengsi. Satu yang paling berkesan buat saya adalah pernah juara bareng Ar Rayan dan jadi top skorer,” kenang Solikin saat ditemui Football5star.

Laiknya Barcelona dan Real Madrid yang tak pernah henti menelurkan talenta-talenta berbakat, Persebaya pun banyak memetik keuntungan dari eksitensi kompetisi internal di Lapangan Karanggayam. Selain Solikin, ada beberapa pemain lain di skuat Persebaya yang juga lahir dari semangat sepak bola di Karanggayam.

Usia Persebaya sejak statusnya dipulihkan oleh PSSI, memang masih seumur jagung. Namun, geliat kebangkitan Green Force sudah terasa. Dengan fondasi yang kuat, Persebaya bertekad bangkit. Mereka sudah siap meramaikan persaingan menuju takhta juara. Sampai saat itu tiba, mereka yang sudah bertengger di puncak prestasi, tentu tak akan lupa dengan jasa Lapangan Karanggayam, sebagai kawah candradimuka bagi Persebaya, bahkan Indonesia.

Get real time updates directly on you device, subscribe now.