KOLOM: Setahun Setelah Kepergian Choirul Huda

“Coba cek ada kabar duka dari Lamongan, Choirul Huda meninggal. Tolong ditulis beritanya, ya.”

Ucapan dari Chief Editor Football5star tersebut memang sudah berlalu nyaris setahun silam. Namun, kembali terngiang di telinga saya ketika berdiri di samping makam almarhum Choirul Huda. Bersama tiga rekan saya, Fajar Abdillah, Zikry Pradiva, dan Avi Elektra, kami seksama menyimak kisah semasa hidup kiper legendaris Persela Lamongan tersebut dari mulut Lidya Anggraeni.

Wanita berusia sekitar 30 tahunan tersebut adalah janda mendiang Choirul Huda. Lidya begitu detail menceritakan perjalanan hidup pria yang pernah menemani hari-harinya itu. Dari kisah yang diceritakan, mengetahui betapa sederhananya sosok Huda, yang merupakan putra asli Lamongan.

Choirul Huda - LA Mania - Persela
goal.com

“Bukan seorang pria yang kerap romantis,” kenang Lidya. Akan tetapi perhatian Choirul Huda kepada keluarga menjadi sesuatu yang dibanggakan olehnya. Menurut Lidya, pria yang lahir pada 2 Juni 1979 tersebut sudah menjadi pahlawan dalam kehidupannya.

Sebelum berziarah, saya pun menyempatkan mampir ke kediaman Huda semasa hidup di Jalan Basuki Rahmat. Bangunan sederhana yang diberi nama Rumah Kaca. Kisah-kisah kehidupan Choirul Huda tak henti keluar dari mulut Lidya, yang sesekali berhenti untuk menahan air mata.

Sore itu, Muhammad Rachul Maulana dan Rafael Ramadhan yang merupakan putra dari sang legenda, tampak asyik bermain di pelataran Rumah Kaca. Rachul yang merupakan putra tertua bercita-cita untuk mengikuti jejak sang ayah, menjadi pesepak bola.

Di tempat itu pula, puluhan foto Choirul Huda tampak menghiasi ruangan berukuran 3×3 meter tersebut. Ruangan tersebut dulunya dipergunakan sebagai ruang tamu. Setiap foto diceritakan secara detail oleh Lidya secara telaten. Ia paham dan hafal betul langkah dalam karier sang legenda. “Bagaimana pun dia sudah saya anggap menjadi pahlawan bagi keluarga,” ucap Lidya..

Lidya begitu terharu ketika dukungan dan doa untuk Choirul Huda datang dari segala penjuru. Salah satunya surat resmi ucapan belasungkawa dari Presiden LaLiga, Javier Tebas yang juga terbingkai rapi di ruangan tersebut.

Choirul Huda: Sosok Tak Tergantikan Bagi LA Mania 

Beberapa hari setelah kepergian Choirul Huda, PT Liga Indonesia Baru dan PSSI juga menggelar laga amal di Stadion Surajaya. Satu hal yang mengharukan dari pertandingan tersebut, ribuan LA Mania berebut masuk ke stadion dan memegang banner raksasa bergambarkan sang legenda.

Kelompok pendukung Persela tersebut memang teramat mencintai Choirul Huda. Mungkin bagi mereka mencintai Huda sama derajatnya dengan mendukung Laskar Joko Tingkir hingga akhir hayat. Bukan klaim yang aneh, mengingat Huda hanya membela satu klub semasa hidupnya yaitu Persela. Ketika rekan-rekannya silih berganti untuk berganti klub, ia memilih untuk setia pada klub yang telah membesarkan namanya.

Trah legenda memang nampaknya sudah ditakdirkan Tuhan berada di dalam diri Choirul Huda. Renggo Ariezka yang merupakan karib mendiang sekaligus dedengkot LA Mania, bercerita bahwa daerah lahirnya Choirul Huda merupakan tempat dimakamnya adipati pertama Kabupaten Lamongan, Ki Rangga Hadi atau akrab disebut Mbah Lamong.

“Sepertinya memang Choirul Huda sudah ditakdirkan untuk jadi legenda. Rumah dan kampung halamannya memang di daerah Tumenggungan (tempat makam Mbah Lamong),” cerita Renggo kepada Football5star.

Kesederhanaan sosok Choirul Huda pun bukan hanya hanya menjadi kenangan milik Lidya saja. Warung kopi di sekitar Mess Persela jadi bukti betapa akrabnya mendiang dengan LA Mania dan teman-temannya. Bahkan Renggo bercerita dulu almarhum pernah bekerja sebagai penjaga wartel untuk menyambung hidup.

“Waktu saya dulu mau teleponan sama pacar, saya ke wartelnya Huda dan dibantu beliau,” kenangnya.

Kini, tepat setahun berlalu sejak Choirul Huda meninggalkan sepak bola Indonesia. Tragedi di lapangan hijau telah merenggut nyawa, sekaligus mimpinya. Baktinya kepada Persela tak akan pernah dilupakan oleh LA Mania dan mungkin seluruh warga Lamongan hingga penggemar sepak bola Indonesia.

Saya, yang masih berdiri di pinggir makam, pun kembali terpanggil untuk mengenang aksi-aksi hebat Chourul Huda di bawah mistar. Lima tahun lagi, namanya mungkin sudah terlupakan seiring bergantinya generasi pencinta sepak bola Indonesia. Namun bagi saya, Huda sudah sepantasnya mendapat lembar spesial dalam buku sejarah sepak bola nasional.

Comments
Loading...