Lima Hari Koma, Bobotoh Korban Pengeroyokan Akhirnya Meninggal Dunia

Football5star.com, Indonesia – Ricko Andrean, Bobotoh yang menjadi korban kesalahpahaman dan kekerasan suporter, meninggal dunia. Ricko mengembuskan napas terakhirnya di Rumah Sakit Santo Yusuf, Bandung, pada Kamis (27/7/2017). Kabar duka ini disebar melalui Twitter salah satu pendukung Persib, @v_frontline_pc.

“Innalilahiiwainnailaihi rojui telah meninggal dunia sodara, teman kita Ricko Andrean jam 10:10,” tulis akun tersebut.

Sebelum meninggal, Ricko sempat dijenguk oleh beberapa pihak klub dan suporter. Pada Senin dan Selasa kemarin, manajer dan pemain Persib memantau kondisi Ricko di rumah sakit. Sedangkan Rabu kemarin, giliran ketua Jakmania, Ferry Indrasjarief dan pentolan Viking, Heru Joko datang menjenguk.

Ricko Andrean Maulana adalah warga Cicadas, Bandung, yang menjadi korban pengeroyokan oknum bobotoh pada saat hari pertandingan Persib melawan Persija, Sabtu (22/7/2017) pekan lalu.

Awalnya, Ricko sempat bermaksud menolong anggota The Jakmania yang dikeroyok Bobotoh di tribun utara Stadion Gelora Bandung Lautan Api. Namun, karena saat itu ia tidak memakai atribut Persib, Ricko justru ikut menjadi korban pengeroyokan karena dianggap Jakmania.

Menurut cerita dari teman Ricko, Abdul Gofur, ketika babak pertama usai, Ricko bersama teman-temannya pergi untuk makan di lorong masuk ke arah tribun penonton. Begitu mendengar ada keributan, ia langsung mendatanginya dan terpisah dari rombongan.

“Sialnya Ricko saat itu tidak memakai atribut karena baru pulang kerja. Jadi dia langsung berangkat ke stadion,” terang Gofur.

Ricko mengalami luka lebam di bagian wajah dan badan. Ramainya media sosial membuat banyak pihak menaruh simpati terhadap Ricko. “Dari The Jak ada yang menelepon kakak Ricko, katanya ikut berempati atas kejadian tersebut. Bahkan akan ikut membantu biaya,” kata Gofur.

Menanggapi kejadian ini, Wali Kota Bandung, Ridwan Kamil mengaku prihatin. Ia menyayangkan sepak bola tidak bisa dijadikan alat persatuan. “Saya menyesalkan fanatisme berlebihan. Ini tidak bisa dibenarkan. Kalau sepak bola itu tentang perdamaian. Jadi nyawa orang tidak bisa dikembalikan lagi,” kata Emil.

Comments
Loading...