Makna Kartini Bagi Papat Yunisal dan Pesannya untuk Generasi Muda

Football5star.com, Indonesia – Mengawali karier pada era 1980-an, sosok Papat Yunisal bukan orang baru dalam sepak bola wanita Indonesia. Menyambut Hari Kartini yang jatuh pada 21 April 2019, Football5star.com berkesempatan untuk bincang santai dengan perempuan bercucu enam ini.

Perempuan yang saat ini tengah menempuh gelar S-3 di Univeristas Negeri Jakarta (UNJ) bisa dikatakan tahu betul seluk beluk sepak bola wanita Indonesia.

Dok. Pribadi

Papat Yunisal mengungkapkan bagaimana makna perjuangan RA Kartini begitu membekas pada perjalanan dirinya di dunia si kulit bulat.

Layaknya RA Kartini yang berjuang mengangkat derajat kaum wanita Indonesia pada zaman kolonial, Papat Yunisal mengalami banyak benturan saat awal menjadi pesepak bola wanita.

BERIKUT WAWANCARA FOOTBALL5STAR.COM DENGAN PAPAT YUNISAL

Apa kabar Bu Papat, sedang sibuk apa bu?

Baik-baik. Saat ini saya masih menyelesaikan kuliah S-3 di UNJ.

Pada 21 April ini, Indonesia memperingati Hari Kartini. Bagi Bu Papat, apa makna Hari Kartini?

Bagi saya pribadi, makna perjuangan Kartini kalau kita menyikapi dengan benar, maka seorang perempuan itu bisa mencapai cita-citanya.

Meski dengan banyaknya tantangan dan cobaan, perempuan harus kuat menjalaninya bu?

Betul. Semangat perjuangan Kartini harus diteladani dan diikuti oleh perempuan Indonesia namun tetap tidak melupakan kodratnya sebagai perempuan.

Kodrat perempuan artinya harus tetap penting bu?

Iya. Para perempuan yang menjadi pesepak bola perempuan harus ingat bahwa nanti kelak mereka berkeluarga, memiliki suami dan anak.

Saya selalu menekankan kepada pemain perempuan, di lapangan kalian wajib memiliki skill dan teknik di atas laki-laki, tapi di luar lapangan, kalian harus ingat pada kodrat.

Dok. Pribadi

Perempuan harus bisa masak, mengurus anak, dan menjaga suami. Ini harus juga dilakukan oleh pesepak bola wanita nanti kelak.

Saat menjabat sebagai Ketua Asosiasi Sepakbola Wanita, apa yang ibu tekankan kepada pemain perempuan ini soal kodrat tadi?

Saya ini punya pengalaman sejak masih main di lapangan, hingga saat ini bisa menduduki jabatan itu. Saya menjalani dengan hati, tidak cukup hanya dengan uang.

Saya selalu berpesan kepada pemain perempuan, agar selalu menjaga diri dan tampil feminim saat di luar lapangan. Saya bahkan selalu meminta mereka untuk selalu merawat kulit.

Bagi pemain yang sudah punya kekasih misalnya, saya selalu minta mereka untuk berkomunikasi dulu agar bisa jadi penyemangat saat bertanding.

Saya juga selalu berpesan kepada orang tua pemain agar diperhatikan betul putri-putri mereka. Saat usia mereka 20 tahun, dukung juga untuk masalah kehidupan pribadi mereka.

Jangan hanya meminta mereka terus bermain, tapi juga memikirkan masa depan kelak. Perempuan itu kunci keberhasilan.

TANTANGAN DAN PESAN

Bagaimana ibu melihat tantangan bagi pesepak bola perempuan saat ini?

Tantangannya memang jauh berbeda saat di era saya dulu. Dulu memang banyak klub sepak bola wanita, seperti Dafonsoro, Buana Putri, dan lain-lain.

Dulu juga kita main segala ongkos dari orang tua. Saat ini kan para pemani memiliki pendapatan masa depan yang cukup. Namun tetap harus diingat jangan sampai di salah gunakan.

Pemain perempuan wajib tahu bahwa mereka itu figur dan harus bisa menjadi contoh baik saat di lapangan ataupun di luar lapangan.

Saya tidak mau sepak bola perempuan dianggap banyak orang jadi bebas dan menjadi stigma negatif.

Apa pesan ibu bagi pesepak bola perempuan di hari Kartini nanti?

Yang pertama, pesepak bola perempuan wajib sarjana. Ini penting untuk karier mereka ke depan.

Yang kedua, itu tadi, pesepak bola perempuan tetap harus sadar dengan kodratnya. Di lapangan, teknik dan skill wajib di atas laki-laki, tapi ketika selesai pertandingan, jadilah sosok feminis.

Kita harus bangga perjuangan RA Kartini dulu dirasakan betul manfaatnya saat ini. Saya bangga banyak perempuan yang muncul di publik dengan segala macam prestasi.

Comments
Loading...