Mark Viduka: Melegenda di Australia, Cinta Mati dengan Kroasia

Football5star.com, Indonesia – Tanah Balkan dikenal sebagai ladangnya pemain-pemain top dunia. Di setiap zamannya selalu ada pemain besar yang lahir di sana.

Balkan tidak hanya melahirkan talenta berbakat untuk wilayahnya sendiri. Mereka juga menyebar ke seluruh penjuru dunia.

Namun, berpencarnya para pesepak bola Balkan ke beberapa negara diawali oleh cerita kelam, yaitu perang. Runtuhnya Yugoslavia dua dekade silam menimbulkan perang saudara yang mematikan.

Ribuan nyawa malayang. Jutaan orang pergi meninggalkan tanah kelahiran. Disaat yang bersamaan, Balkan yang satu di bawah naungan Yugoslavia mulai terpecah jadi beberapa negara.

Salah satunya adalah Kroasia. Bisa dibilang, Kroasia adalah negara Balkan yang paling banyak melahirkan sepak bola handal. Baik yang bertahan di negara tersebut atau mereka yang memutuskan keluar karena alasan keselamatan.

Satu nama yang tak bisa dipisahkan dari cerita ini adalah Mark Viduka. Viduka pesepak bola berdarah Kroasia. Ibunya memiliki darah Ukraina-Kroasia, sedangkan sang ayah asli Kroasia.

Dengan situasi negara yang sudah goyah jauh sebelum perpecahan terjadi, kedua orang tua Mark Viduka memutuskan pindah ke Australia. Sebagai negara yang ramah untuk para imigran, Australia benar-benar membuat hidup mereka lebih nyaman.

Mark Viduka kemudian lahir pada 9 Oktober 1975 di Melbourne, salah satu kota terbesar di Australia. Sang bomber langsung jatuh cinta pada sepak bola saat berusia enam tahun.

Melbourne Knights

Uniknya, Australia bukanlah negara yang kental sepak bolanya. Namun, ada satu momen yang membuat Viduka hanya melihat bahwa sepak bola lah yang paling besar di sana.

Sejak berusia tiga tahun dia sudah sering diajak sang ayah untuk menyaksikan pertandingan Melbourne Kroasia. Mendengar nama Melbourne Kroasia memang sangat aneh.

Maklum saja, itu adalah klub yang didirikan para imigran Kroasia di Melbourne. Memasuki usia enam tahun, Viduka menjadi bagian dari akademi Melbourne Kroasia.

“Satu-satunya tujuan saya dalam hidup adalah bermain untuk mereka suatu hari nanti, bermain untuk Melbourne Kroasia. Ayah saya membawa saya ke sebuah pertandingan saat saya berusia tiga tahun,” kata Viduka kepada ESPN.

 “Dari sana saya menjadi tergila-gila dengan mereka dan sepak bola. Itu adalah klub yang paling berarti untuk saya,” sambung sang bomber.

Mark Viduka menganggap Melbourne Kroasia bukan sekadar klub, bukan juga cuma untuk menjadi wajah para imigran bermain sepak bola. Baginya, klub yang kini bernama Melbourne Knight adalah simbol perjuangan dan kemerdekaan rakyat negara Balkan itu.

“Klub itu simbol perjuangan Kroasia merdeka, bebas dari komunisme, bebas dari Yugoslavia, dan bagi saya itu berarti segalanya. Ini adalah obor bagi seluruh untuk mengatakan ‘lihatlah ada tempat di Eropa bernama kroasia, bukan Yugoslavia dan suatu hari kami ingin menjadi negara merdeka,” tegasnya.

 Ke Dinamo Zagreb karena Presiden Kroasia

Viduka promosi ke tim utama Melbourne Knight pada 1993. Ia bertahan selama dua tahun di tim utama. Kariernya di tingkat profesional sepak bola Australia memang sangat singkat.

Tapi itu adalah batu loncatan sang bintang untuk mengepakkan sayap di Eropa. Viduka tidak langsung pindah ke Skotlandia. Ia lebih dulu terbang ke tanah leluhurnya, Kroasia. Dia memperkuat Dinamo Zagreb, yang saat itu masih bernama Kroasia Zagreb.

Menariknya, “kepulangan” pemain bertubuh gempal merupakan andil dari presiden Kroasia, Franjo Tudman. Cerita berawal kala Franjo Tudman melakukan kunjungan kenegaraan ke Australia pada 1995.

Presiden pertama yang dipilih secara demokratis itu terpukau melihat permainan Viduka di Melbourne. Saat mengetahui Viduka berdarah Kroasia, Tudman tanpa basa-basi memintanya bermain untuk Dinamo Zagreb.

Dia memang tidak langsung setuju dengan permintaan sang presiden. Viduka memiliki beberapa pertimbangan. Salah satunya kondisi Kroasia yang belum benar-benar stabil pascaruntuhnya Yugoslavia.

@MichaelCain

Singkat cerita, Mark Viduka akhirnya resmi pindah ke Dinamo Zagreb. Kedatangannya di klub raksasa Kroasia langsung disambut presiden negara, Franjo Tudman. Namun, itu tidak menjamin keamanan dan kenyamanan sang pemain di sana.

Pria yang kini berusia 46 tahun berkisah hari-harinya di sana selalu dihantui ketakutan. Pesawat tempur lalu-lalang, sirine perang dibunyikan, dan suara ledakan yang silih berganti datang adalah pemandangan sehari-harinya di sana.

“Ada MiG yang terbang di atas stadion. Rekan setim saya biasa memberi saya tongkat saat saya mendengar semua ledakan itu. Mereka sudah terbiasa. Saya ingat suatu hari berjalan di jalan utama kota dan ada sirene perang dan serangan udara,” kenangnya.

“Seketika semua orang menghilang begitu saja. itu sangat menakutkan,” sambung suami Ivana tersebut.

Walau kehidupannya tidak pernah mudah di Zagreb, Mark Viduka tetap tampil mempesona di lapangan. Dia sukses membawa klubnya meraih tiga gelar liga dan dua Piala Kroasia dua tahun beruntun.

Torehan Dinamo Zagreb ini sekaligus menyudahi dominasi musuh bebuyutan mereka, Hajduk Split, yang menguasai liga selama beberapa tahun. Tapi sayang, kebersamaan Mark Viduka di Zagreb berakhir antiklimaks.

Popularitasnya menukik tajam seiring maraknya pertentangan warga Kroasia terhadap presiden Franjo Tudman. Hingga akhirnya pada 1998 ia menemukan kebahagiaan baru di Skotlandia bersama Glasgow Celtic.

“Itu menjadi beban. Orang Kroasia adalah orang-orang yang ekstrim. Mereka mengalami pasang surut kehidupan yang ekstrim, sementara di Australia mereka tidak terlalu memikrikan satu hal atau merendahkan sesuatu,” imbuhnya kepada ESPN.

“Di Kroasia semua berbeda. Suatu hari Anda dianggap sebagai dewa. Besoknya Anda bisa saja dibakar di tiang oleh penggemar. Itu adalah waktu yang sangat sulit untuk tinggal di sana” sambung Viduka.

Jatuh Bangun di Britania Raya

Pemilik 43 caps bersama timnas Australia menjalani masa indah yang cukup singkat di raksasa Skotlandia, Glasgow Celtic. Di sana ia memiliki tandem hebat dalam diri Henrik Larrson, dan dilatih dua legenda Liverpool, John Barnes dan Kenny Dalglish,

ia sukses membubukan 25 gol dalam 28 pertandingan Liga Skotlandia pada musim kedua. Torehan ini cukup mengejutkan karena musim pertama tidak berjalan baik. Celtic kalah dalam perburuan gelar dengan Rangers dan Henrik Larrson mengalami cedera parah.

Situasi ini membuat tekanan berada penuh dalam pundak Mark Viduka. Beruntung, mimpi buruk musim perdana berubah jadi mimpi indah pada musim kedua.

Torehan 25 gol juga membuahkan satu gelar Piala Liga Skotlandia 1999-2000, top skorer, dan pemain terbaik Liga Skotlandia. Apa yang didapat ini kemudian mengantar Mark Viduka bermain di kompetisi yang lebih keras lagi, Premier League.

Yorkshire Evening Post

Viduka ke Elland Road dengan mahar 9 juta euro. Dia adalah bagian dari generasi emas Leeds United di bawah kendali David O’Leary. Bayangkan saja, Leeds ketika itu diperkuat pemain-pemain jempolan macam Alan Smith, Robbie Keane, Harry Kewell, Ian Harte, dan Rio Ferdinand.

David O’Leary benar-benar menjadikan paman dari Luka Modric ini sebagai ujung tombak. Dibantu dengan Harry Kewell di sisi sayap, duet Alan Smith dan Lee Bowyer di tengah, sang bomber langsung menggelontorkan 22 gol pada musim perdana.

Sebagai striker yang tidak punya kecepatan, dia memanfaatkan tubuh gempalnya untuk mengalahkan lawan. Juga mengoptimalkan tinggi badan yang menjulang untuk mencetak gol lewat udara. Ini pula yang membuat David O’Leary dan seisi Elland Road memuji namanya.

Salah satu alasan yang membuatnya akan terus dikenang adalah gol-golnya yang dicetak ke gawang Liverpool. Leeds United yang sudah tertinggal tiga gol berhasil membalikkan keadaan menjadi 4-3. Luar biasanya, keempat gol tersebut dicetak oleh Mark Viduka.

Gol-golnya itu pun jadi penentu laju Leeds United ke Liga Champions setelah menempati urutan keempat Premier League. Bagi The Whites, ini jadi Liga Champions pertama setelah absen delapan tahun.

Leeds menandai comeback di Liga Champions dengan menawan. Mereka menembus semifinal dengan mengalahkan tim-tim kuat, salah satunya AC Milan.

Mark Viduka terus mempertahankan performanya di lapangan dengan mencetak total 68 gol selama empat musim. Tapi masalah datang dari sisi manajemen. Leeds dihantam badai finansial hebat. Puncaknya terjadi 2004 silam saat mereka terdegradasi ke Divisi Championship.

Paman Luka Modric ini kemudian pindah ke Middlesbrough. Lagi-lagi dia menjadi andalan di stadion Riverside dan nyaris membawa klubnya itu mengangkat trofi Piala UEFA 2006. Sayang, Middlesbrough gagal juara setelah kalah dari Sevilla di partai puncak.

Walau namanya cukup melegenda di Premier League, Mark Viduka tidak pernah meraih gelar di sana. Tujuh piala yang dimenangkan dia dapat saat berseragam Melbourne Knights, Dinamo Zagreb, dan Glasgow Celtic.

Pulang ke Tanah yang Dijanjikan

Di tingkat tim nasional, Mark Viduka adalah bagian dari masa keemasan Australia. Ia bermain bersama Tim Cahill, Harry Kewell, Mark Schwarzer, Archie Thompson, Lucas Neil, dan Marc Bresciano.

Tampil dalam 43 pertandingan dia sukses menggelontorkan 11 gol. Penantian membawa Australia menembus Piala Dunia akhirnya terwujud 2006 silam. Mengalahkan Uruguay pada laga play off, The Socceroos terbang ke Jerman untuk tampil di Piala Dunia pertama sejak 1974.

Cerita Mark Viduka di dunia sepak bola mencapai puncaknya pada 2009. Ia pensiun di Newcastle United dan langsung menghilang dari dunia yang telah membesarkan namanya itu.

Cainey Media

Beberapa tahun kemudian, Viduka mengejutkan banyak orang karena memutuskan pindah ke pinggiran kota Zagreb. Dia pulang ke tanah leluhurnya. Tapi bukan untuk mengabdi di Dinamo Zagreb. Dia ingin hidup tenang di sana dengan membuka kedai kopi bernama Non Plus Ultra.

Uniknya, Viduka bukan hanya jadi pemiliknya. Dia juga meracik sendiri kopi-kopi yang akan diberikan pada pelanggan. Ya, pria 46 tahun kini jadi barista.

“Sangat menyenangkan melakukan sesuatu yang berbeda. Anda membuat kopi yang tidak enak, Anda akan membuangnya ke tempat sampah. Tapi saya mencoba dan membuat kopi terbaik,” tutup Mark Viduka.

This website uses cookies to improve your experience. We'll assume you're ok with this, but you can opt-out if you wish. Accept Read More