Maskulinitas Gianluigi Buffon dan Kedisiplinan Soal Gizi

Football5star.com, Indonesia – Saat wasit Gianluca Aureliano meniup peluit akhir babak kedua, papan skor di Allianz Stadium menunjukkan Juventus 4, Udinese 0. Empat gol Juve dicetak oleh Gonzalo Higuain, dua gol dari Paulo Dybala, dan satu gol lagi dicetak oleh Douglas Costa.

Brace yang dicetak Dybala tentu saja menjadi perhatian suporter Juve. Namun ada satu pemain yang sebenarnya bisa kita kedepankan sebagai Man of The Match di laga tersebut, sang kiper yang usainya pada hari ini, Selasa (28/1/2020) genap berusia 42 tahun, Gianluigi Buffon.

Usai pertandingan, Buffon dianggap panutan oleh banyak kiper muda. Namun, Buffon tetap rendah hati. Bahkan, ia tidak ingin jadi role model atau anutan bagi yang lain, khususnya pemain-pemain cilik dan muda. Buffon menganggap hal itu di luar kuasanya.

getty images

“Hidup itu dibangun dari pengorbanan dan keringat, namun juga dari hal-hal yang indah dan remeh. Saya tak ingin jadi anutan untuk anak kecil dan orang-orang, itu bukan aspirasi saya, saya tidak merasa perlu mendidik siapapun,” kata Buffon seperti dikutip dari Foobtall Italia.

Bagi sebagian orang tentu cukup terheran dengan usai yang sudah memasuki uzur, kelincahan, ketepatan, dan kemampuan Buffon tak sedikipun berkurang. Ia tetap terlihat bak kiper muda yang tengah on fire.

Mari sedikit flash back sedikit soal karier Buffon hingga kini masih tetap jaya meski sudah berusia tua. Buffon bukan sembarang pesepakbola yang gemar untuk menikmati indahnya duniawi.

Buffon memiliki kedisplinan tinggi dalam hal urusan berat badan dan asupan gizi yang ia makan. Kita sedang berbicara soal bagaimana Buffon menempa dirinya hingga kini untuk tetap bergaya hidup sehat.

Kedisplinan Buffon di usia senja

Pelatih Arsenal, Arsene Wenger seperti dikutip dari thoughtco.com, sudah menyebut bahwa jangan pernah sepelekan soal asupan gizi dan makanan untuk pemain sepakbola.

“Makanan itu seperti bensin. Jika Anda salah memberi bensin pada mobil Anda, maka kecepatan mobil Anda akan bermasalah,” kata Wenger pada Maret 2016.

Arsenal memang salah satu klub yang memperhatikan betul soal asupan gizi para pemain. Begitu pula dengan Buffon. Ia memahami betul bagaimana makanan yang ia asup tidak mempengaruhi sistem digestif, yakni sistem pencernaan manusia.

twitter.com/squawka

Buffon tak ingin saat pertandingan penting saat melawan Barcelona atau Inter Milan misalnya, organ tubuhnya jadi bermasalah karena makanan yang ia konsumsi. Sekedar informasi, saat pesepakbola bermain sistem kerja organ tubuh vital seperti pankreas ataupun hati bekerja ekstra keras.

Seperti sosok Rahung Nasution yang menganggap jangan pernah sepelekan makanan yang Anda konsumsi, Buffon pun melakukan hal yang sama. Ia paham betul saat turun ke lapangan dan harus mengeluarkan keringat berlebih, asupan apa yang tepat untuk mengembalikan elektrolitnya.

“Ini menjadi penting agar pemain paham betul saat ia terkuras keringatnya ketika tampil di laga panas seperti Piala Dunia ataupun Liga Champions,” kata James Collins, ahli gizi Arsenal seperti dikutip dari goalnation.com

Asupan Gizi Buffon

Minuman berbahan buah dan sayur memang jadi favorit dari Buffon. Jus dan smoothies memang sangat cocok untuk Buffon saat keringatnya bercucuran menahan gempuran barisan striker lawan.

Apa yang dikonsumsi Buffon lebih banyak sayuran dan buah-buahan serta kedisplinannya bergaya hidup sehat hingga detik ini memang tak lepas dari pengaruh sang orang tua yang memang juga atlet.

Postingannya di akun Twitter pribadinya @gianluigibuffon tunjukkan bagaimana si Superman begitu doyan dengan sayur-sayuran dan buah-buahan untuk mengisi perutnya.

“Orang tua saya membantu bakat saya keluar. Mereka adalah dua orang yang telah menikmati kesuksesan, meskipun dalam bidang yang berbeda. Untuk tetap pada tingkat tertentu Anda perlu membuat pengorbanan,” kata Buffon pada 2015 lalu saat menghadiri seminar ‘Efficient Talent and Team Management’.

twitter.com/juventusfc

Ditambahkan Buffon, publik dan pemain harus paham betul bahwa bakat dalam sepakbola memang bisa disebut sebagai karunia Tuhan namun yang perlu dilakukan ialah ketekunan dan kedisplinan menjaga karunia itu.

“Bakat adalah karunia alami dan merupakan titik awal yang bagus, tetapi jika tidak didukung oleh ketekunan dan pengorbanan diri maka risiko menjadi tidak terpenuhi atau berumur pendek,” kata Buffon.

Ditambahkan Buffon saat itu, pada usianya yang sudah menginjak angka 42, ia lebih detail memperhatikan hal kecil yang dikonsumsi.Mengambil sedikit parapraph dari halaman Top Skor, 04 Mei 2017, Buffon dengan segala maskulinitasnya memang layak dianggap jahe tua. Bahwa, jahe yang sudah tua justru lebih pedas.

Gianluigi BuffonJuventusLiga ItaliaSerie A Italia